TRIBUNKALTIM.CO - Konflik antara Ruben Onsu dan Sarwendah kembali menjadi sorotan setelah kuasa hukum Ruben membeberkan kronologi yang disebut sebagai awal mula memanasnya hubungan kedua belah pihak.
Perselisihan itu diklaim bermula dari persoalan komunikasi hingga pembelian tiket konser BLACKPINK.
Kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, menyebut kesalahpahaman terkait tambahan tiket konser dan sebuah tanda seru dalam pesan singkat menjadi pemicu renggangnya komunikasi.
Menurutnya, sejak saat itu isu mengenai rumah yang disebut akan dilelang mulai berulang kali muncul dan dinilai semakin memperkeruh hubungan keduanya.
Di tengah sengketa hak asuh anak yang masih bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, pihak Ruben membantah kabar bahwa rumah di kawasan Cilandak telah memasuki proses lelang.
Baca juga: Ruben Onsu Angkat Bicara soal Gugatan Hak Asuh Anak, Akui Komunikasi dengan Sarwendah Bermasalah
Minola menegaskan informasi tersebut tidak sesuai dengan kondisi yang telah dikonfirmasi kepada pihak perbankan.
Persoalan apa?
Ternyata tak disangka, persoalan sepele seperti "tanda seru" dalam sebuah pesan singkat dan tiket konser Blackpink berbuntut pada ancaman isu rumah dilelang.
Minola Sebayang menyebut isu lelang rumah yang selama ini menyudutkan kliennya bak "gorengan" atau senjata psikologis yang sengaja ditiupkan pihak sebelah sejak Oktober 2025.
Minola menceritakan jika konflik ini berawal dari tiket Blackpink, Minola menceritakan bahwa pada Oktober 2025, Sarwendah meminta tambahan satu tiket konser Blackpink agar bisa duduk di baris yang sama dengan Ruben dan anak-anak.
Karena tiket sudah dipesan sebelumnya, Ruben tidak bisa memenuhi permintaan tambahan di baris yang sama.
Saat itu posisi keduanya sudah berstatus bukan lagi suami istri. Ruben Onsu dan Sarwendah sah cerai sejak 24 September 2024.
Meski sudah tak sebagai suami istri, hubungan keduanya masih harmonis, komunikasi terkait pengasuhan anak masih lancar.
Sampai akhirnya usai insiden tiket Blackpink ini, Sarwendah diduga kecewa karena permintaannya tidak dipenuhi, komunikasi pun memanas.
Tak lama setelah perdebatan tiket tersebut, muncul sebuah pertanyaan dari Sarwendah yang mengagetkan Ruben.
"Begitu Ruben mengirim bukti tiket, muncul kata-kata: 'Maaf, ini rumah mau dilelang?' tanda tanya. Jadi sejak Oktober 2025, kata lelang itu sudah digunakan untuk menekan Ruben dan menjatuhkan mentalnya," ungkap Minola Sebayang di kawasan Kuningan, Selasa (28/7/2026).
Baca juga: Konflik Hak Asuh dan Nafkah Rp200 Juta Memanas, Sarwendah Tulis Kuasa Jahat, Sindir Ruben Onsu?
Tak hanya soal tiket, Minola juga membeberkan kejadian unik saat keduanya sedang chatting.
Ruben secara tidak sengaja "kepencet" tanda seru (!) saat membalas pesan. Hal yang dianggap sepele oleh orang awam ini justru menjadi bahan keributan besar.
"Miskomunikasi itu misalnya Ruben typo, ada tanda seru. Itu jadi pembahasan, 'Kenapa ada tanda seru?'. Akhirnya terjadi keributan, Ruben minta maaf berkali-kali karena kepencet," jelas Minola.
Namun, yang membuat pihak Ruben miris adalah setelah permintaan maaf tersebut, Sarwendah tidak lantas mereda.
Sebaliknya, ia justru mengirimkan daftar rincian tagihan bulanan yang fantastis, mulai dari biaya pokok anak Rp75 juta hingga tagihan sarang burung walet.
Minola menegaskan bahwa isu rumah di Cilandak akan disita bank adalah kabar yang tidak benar. Pihaknya sudah mengonfirmasi ke bank terkait dan statusnya masih dalam prosedur penyelesaian, bukan lelang kolektibilitas lima.
"Kalau tahun 2025 rumah itu mau dilelang, harusnya sekarang sudah dilelang dong? Faktanya kan tidak. Isu ini terus dipakai agar Ruben terlihat sebagai orang yang tidak bertanggung jawab," tegasnya.
Minola menyayangkan mengapa hal-hal internal dan sepele terus dilebarkan ke ruang publik hingga menjadi konsumsi netizen, yang pada akhirnya justru menyulitkan proses mediasi dan perdamaian di antara kedua belah pihak.
Baca juga: Ruben Onsu Mengaku Sudah Ganti Nomor, Tak Menerima Pesan Sarwendah tentang Rumah Baru
Minola Sebayang, meminta agar polemik antara kliennya dengan Sarwendah tidak terus berlanjut melalui pernyataan di ruang publik.
Menurut Minola Sebayang, saat ini kedua belah pihak sebaiknya menghormati proses hukum yang sedang berjalan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terkait hak asuh anak dan tidak saling memberikan pernyataan yang berpotensi memperkeruh keadaan.
"Jangan lagi mengeluarkan suatu pernyataan apa pun yang kemudian membuat kami harus melakukan klarifikasi," ujar Minola Sebayang saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (28/7/2026).
Lebih lanjut, Minola menyebut klarifikasi yang disampaikan pihaknya dilakukan berdasarkan fakta dan bukti yang dimiliki.
"Ketika kami melakukan klarifikasi, mungkin ada bukti-bukti dan fakta-fakta yang akan keluar yang mungkin tidak menyenangkan, mungkin menyakitkan ketika kebenaran itu diungkapkan," katanya.
Karena itu, Minola berharap seluruh pihak tidak lagi memberikan pernyataan dan menyerahkan persoalan tersebut melalui jalur hukum.
"Memang lebih bagus diam, ikuti proses yang sedang berjalan sekarang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan," ucapnya.
Baca juga: Disudutkan Publik Soal Kepemilikan Rumah, Ruben Onsu Beberkan Cicilan Bank Rp379 Juta per Bulan
Dalam perjalanan konfliknya dengan Ruben, Sarwendah kemudian pindah dari rumah yang selama ini ditempatinya bersama anak-anak di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.
Rumah ini adalah pemberian sang mantan suami dan yang pernah disinggungnya soal lelang.
Melalui kuasa hukumnya, Chris Sam Siwu, Sarwendah mengaku jika perpindahan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan dan keamanan anak-anak.
"Situasi-situasi yang tidak aman seperti ini yang tidak baik bagi anak-anak. Ada pihak-pihak lain lah yang mencari orang lain yang enggak ada lagi di rumah itu," kata Chris Sam Siwu di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (22/7/2026).
Menurut Chris, pihaknya memiliki dokumentasi terkait kedatangan sejumlah orang yang diduga hendak menagih utang ke rumah tersebut.
"Kita juga bawa nih, ini masih hangat belum lama ya, kira-kira 11 Juli. Diduga debt collector memang datang ke rumah menyampaikan adanya tagihan. Lebih kurang ada lima orang yang mendatangi jam 21.52 WIB," ujarnya.
Selain itu, Chris mengungkapkan kliennya juga memperoleh informasi mengenai kondisi rumah yang disebut berpotensi memasuki proses lelang.
"Klien kami mendapat informasi bahwa rumah itu sudah harus dilelang. Jadi klien kami tidak mau dong diberikan gono-gini yang seperti itu. Jadi ya sudahlah, enggak mau ambil pusing," ucapnya.