BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN — Penerapan teknologi penyiraman modern berbasis smart farming menjadi jawaban bagi petani swadaya di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, untuk menyiasati kekeringan sekaligus membumbungnya biaya produksi pertanian.
Di atas lahan seluas 1,5 hektar di Kecamatan Simpang Empat, Alfiannor (40) menerapkan sistem irigasi terintegrasi. Teknologi ini memungkinkannya mengairi satu hektar lahan hanya dalam waktu 15 menit melalui pengoperasian mesin, tanpa perlu melakukan penyiraman manual dengan tangki semprot.
“Iya memanfaatkan teknologi yang dapat memangkas waktu lebih optimal. Dan menghemat tenaga,” kata Alfiannor, Rabu (29/7/2026).
Sistem smart farming tersebut juga dimanfaatkan untuk penyaluran pupuk secara langsung ke perakaran tanaman. Efisiensi tenaga kerja dan waktu ini menjadi sangat vital setelah harga pupuk nonsubsidi melonjak drastis dari Rp700.000 menjadi Rp925.000 per karung.
Inovasi ini mendukung keputusan Alfiannor untuk mengalihkan usahanya dari budidaya semangka ke 8.000 pohon cabai ori, di samping tanaman sela seperti buncis dan singkong.
Baca juga: Hotel di Banjarmasin Keluhkan Pemadaman PLN, Padam 6 Jam Bisa Habiskan BBM Rp3-10 Juta
Langkah pengalihan dilakukan setelah harga semangka anjlok ke tingkat Rp5.500 per kilogram akibat banjir pasokan dari luar daerah.
Melalui efisiensi sistem irigasi, Alfiannor optimistis mampu menjaga produktivitas cabai yang diproyeksikan menghasilkan 200 kilogram per pekan dengan harga jual Rp70.000 per kilogram.
Untuk menutup operasional harian, ia juga mengandalkan penjualan daun singkong yang mampu menghasilkan Rp200.000 setiap harinya.
Kendati telah berinovasi secara mandiri, ia tetap mengharapkan dukungan Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu berupa bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Bantuan tersebut dinilai penting untuk memperkuat daya tahan petani swadaya serta menopang ketahanan pangan daerah. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Fikri Syahrin)