TRIBUNJOGJA.COM - Kalau melihat Piala Presiden beberapa tahun terakhir, ada satu hal yang cukup menarik.
Turnamen yang biasanya menjadi ajang pemanasan klub-klub Indonesia sebelum musim baru ini mulai sering menghadirkan tim dari luar negeri.
Pada edisi 2026 misalnya, ada Port FC dari Thailand, Tampines Rovers dari Singapura, dan DPMM FC dari Brunei Darussalam yang ikut bersaing dengan klub-klub Indonesia.
Kehadiran mereka membuat Piala Presiden terasa sedikit berbeda dibanding turnamen pramusim pada umumnya.
Klub Indonesia tidak hanya berhadapan dengan lawan yang akan mereka temui di kompetisi domestik, tetapi juga mendapat kesempatan menghadapi tim dengan gaya bermain dan karakter sepak bola yang berbeda.
Menariknya, klub asing yang diundang juga bukan berasal dari satu negara saja.
Dalam beberapa edisi, Piala Presiden bahkan menghadirkan klub dari kawasan yang berbeda, mulai dari Inggris hingga Asia Tenggara.
Padahal, tujuan utama Piala Presiden tetap sebagai turnamen pramusim untuk mempersiapkan klub menghadapi musim baru.
Jadi, kenapa PSSI memilih memasukkan klub asing ke dalam format turnamen ini?
Awalnya Cuma Pengisi Kekosongan Kompetisi
Piala Presiden sebenarnya lahir dari situasi darurat.
Turnamen ini pertama kali digelar pada 2015 ketika kompetisi Indonesia Super League (ISL) dihentikan akibat sanksi FIFA terhadap sepak bola Indonesia.
Demi menjaga aktivitas sepak bola nasional tetap berjalan, PSSI kemudian menggelar Piala Presiden sebagai turnamen alternatif.
Seiring waktu, Piala Presiden berkembang menjadi ajang pramusim yang digelar menjelang kompetisi domestik.
Pesertanya umumnya merupakan klub yang akan tampil di kompetisi musim tersebut, dengan format fase grup yang dilanjutkan ke babak gugur.
Klub Asing Baru Muncul pada 2025
Kehadiran klub luar negeri baru menjadi bagian dari Piala Presiden pada edisi 2025.
Saat itu, Oxford United dari Inggris dan Port FC dari Thailand diundang untuk ikut ambil bagian.
Hasilnya bahkan cukup mengejutkan.
Port FC berhasil menjadi klub asing pertama yang menjuarai Piala Presiden setelah mengalahkan Oxford United dengan skor 2-1 pada partai final.
Format tersebut kemudian dilanjutkan pada edisi 2026.
Kali ini, Piala Presiden menghadirkan tiga klub Asia Tenggara sekaligus, yakni Tampines Rovers, DPMM FC, dan Port FC sebagai juara bertahan.
Baca juga: Tujuh Wakil DIY Perkuat Timnas Voli Pasir, Bidik Medali di Asian Games Aichi-Nagoya 2026
Alasan di Balik Undangan Klub Asing
Ada beberapa alasan yang membuat PSSI mempertahankan kehadiran klub asing dalam Piala Presiden.
Pertama, soal kualitas pertandingan.
Sebagai turnamen pramusim, Piala Presiden memang menjadi kesempatan bagi klub untuk mengukur kesiapan skuad sebelum menghadapi kompetisi resmi.
Kehadiran klub asing memberikan lawan dengan karakter dan gaya bermain yang berbeda.
Klub Indonesia pun bisa mendapatkan pengalaman menghadapi pendekatan taktik yang mungkin jarang mereka temui di kompetisi domestik.
Kedua, ada unsur diplomasi olahraga.
Mengundang klub dari negara lain membuat sepak bola tidak hanya menjadi urusan pertandingan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antarnegara.
Hal ini terutama terlihat dari pilihan klub Asia Tenggara pada edisi 2026.
Kedekatan geografis dan hubungan regional membuat ASEAN menjadi salah satu kawasan yang cukup masuk akal untuk dijadikan mitra dalam turnamen seperti Piala Presiden.
Ketiga, format turnamen juga perlu menyesuaikan kebutuhan klub yang sedang mempersiapkan diri menghadapi musim baru.
Karena statusnya merupakan turnamen pramusim, jumlah peserta tidak dibuat terlalu besar agar jadwal pertandingan tidak terlalu padat.
Ada Dampak Ekonomi
Manfaat Piala Presiden juga tidak berhenti di lapangan.
Ketika sebuah kota menjadi tuan rumah pertandingan, kehadiran klub, ofisial, media, dan suporter ikut menggerakkan berbagai sektor ekonomi di sekitarnya.
Hotel, transportasi, restoran, pedagang makanan, hingga pelaku usaha kecil dapat ikut merasakan dampaknya selama turnamen berlangsung.
Di sisi lain, Piala Presiden juga konsisten mengandalkan pendanaan dari sektor swasta, bukan anggaran negara maupun BUMN.
Pada edisi 2026, total dukungan sponsor swasta mencapai Rp60 miliar, sementara hadiah bagi juara utama meningkat menjadi Rp6 miliar.
Kenapa Klub Asing Terus Diundang?
Pada akhirnya, kehadiran klub asing di Piala Presiden bukan sekadar untuk membuat daftar peserta terlihat lebih menarik.
Ada kepentingan kompetitif karena klub Indonesia mendapatkan lawan dengan gaya bermain berbeda, ada kepentingan diplomasi olahraga dengan negara-negara lain, dan ada pula potensi ekonomi bagi daerah yang menjadi tuan rumah.
Format tersebut juga memberi Piala Presiden identitas yang sedikit berbeda dari turnamen pramusim biasa.
Selama tetap mampu menjaga keseimbangan antara kualitas pertandingan, kebutuhan persiapan klub, dan kepentingan komersial, kehadiran klub asing kemungkinan akan terus menjadi bagian dari wajah Piala Presiden pada edisi-edisi berikutnya.
(MG Farhatiy Rijal)