SURYA.CO.ID SURABAYA - Berawal dari kepedulian terhadap siswa tunawicara yang kesulitan menjadi imam salat berjamaah, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi Gema Imam. Perangkat berbasis teknologi ini membantu penyandang disabilitas menjalankan ibadah secara lebih mandiri.
Inovasi bernama Gema Imam (Gerakan Menjadi Audio untuk Imam) tersebut lahir dari persoalan nyata yang ditemukan di SLB Paedagogia Surabaya.
Saat tidak tersedia guru laki-laki, seorang siswa tunawicara yang telah balig harus memimpin salat berjamaah dengan mengikuti bacaan dari audio laptop. Kondisi itu kemudian mendorong tim mahasiswa ITS menghadirkan solusi berbasis teknologi yang mampu menerjemahkan gerakan salat menjadi suara secara otomatis.
Gema Imam dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM). Tim pengembang terdiri atas Nisrina Bilqis, Muhammad Fatihul Qolbi Ash Shiddiqi, Ahmad Syauqi Reza Muhammad Khosyi Syehab dari Departemen Teknologi Informasi ITS, serta Ayudca Lutfi Ratnadilla dari Departemen Desain Produk ITS, di bawah bimbingan Annisaa Sri Indrawanti, S.Kom., M.Kom.
Baca juga: ITS Cetak Inovasi Pertanian Masa Depan, Kementan Siap Dorong Produksi Massal
Nisrina menjelaskan, ide pembuatan alat tersebut muncul ketika tim menemukan kendala yang dialami siswa di SLB Paedagogia Surabaya.
"Ketika di SLB Paedagogia Surabaya tidak ada guru laki-laki, sekolah akhirnya menunjuk seorang siswa tunawicara yang sudah baligh (dewasa) menjadi imam. Namun, karena ia sendiri tunawicara, akhirnya siswa tersebut harus mengikuti audio dari laptop saat salat. Dari situlah kami merancang media penunjang agar siswa dapat melaksanakan salat secara mandiri," ujarnya ditemui SURYA.CO.ID, Selasa (29/7/2026).
Cara kerja Gema Imam mengandalkan kombinasi teknologi Computer Vision, Internet of Things (IoT), dan Learning Management System (LMS). Perangkat ditempatkan di depan imam, kemudian kamera akan mendeteksi perubahan gerakan salat, mulai dari takbir, rukuk, iktidal, sujud, hingga duduk di antara dua sujud.
Setelah gerakan terbaca, sistem akan memprosesnya secara langsung dan mengeluarkan bacaan salat maupun takbir melalui speaker sesuai posisi gerakan imam.
"Dengan proses tersebut, siswa tunawicara tetap dapat memimpin salat berjamaah tanpa harus mengikuti audio statis yang diputar dari laptop," urainya.
Selain perangkat keras, tim juga menyediakan platform pembelajaran bernama Gema Day. Melalui sistem LMS tersebut, guru dan siswa dapat mengakses materi pendukung berupa urutan gerakan salat, bacaan, hingga evaluasi pembelajaran secara bertahap.
Baca juga: Inovasi Mahasiswa Ubaya Ubah Daun Mangga dan Kulit Kacang Jadi Camilan Antidiabetes
"Website ini memiliki Learning Management System, kemudian kami juga membuat alat IoT yang menerjemahkan gerakan salat menjadi audio suara. Dengan media ini, siswa di SLB Paedagogia dapat melaksanakan salat secara lebih mandiri," katanya.
Dalam proses pengembangan, tim mahasiswa ITS menghadapi berbagai tantangan untuk memastikan perangkat benar-benar sesuai dengan kebutuhan siswa penyandang disabilitas.
"Kami masih melalui trial and error. Pernah suaranya kurang keras, kemudian posisi alat terlalu tinggi, padahal tinggi badan anak-anak sekitar 160 sentimeter. Jadi alatnya kami sesuaikan lagi hingga nyaman digunakan," tutur Nisrina.
Selain penyempurnaan perangkat, tim juga menyiapkan buku panduan penggunaan, pedoman bagi mitra, serta pelatihan untuk guru dan siswa. Program tersebut dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari peluncuran Gema Imam, pelatihan pengguna, implementasi melalui Gema Day, hingga evaluasi penggunaan alat.
Tim menetapkan beberapa indikator keberhasilan, di antaranya tingkat akurasi deteksi gerakan minimal 95 persen, respons sistem maksimal 500 milidetik, kualitas audio yang dapat terdengar hingga barisan belakang, kestabilan perangkat selama salat berjamaah, serta meningkatnya kemandirian siswa tunawicara tanpa bantuan guru.
Saat ini, perangkat Gema Imam telah selesai dikembangkan dan diterapkan di SLB Paedagogia Surabaya. Guru maupun siswa juga telah mendapatkan pelatihan penggunaan perangkat serta platform pembelajaran.
"Guru dan siswa di sana sudah bisa menggunakan media penunjang ini. Ke depan pembelajaran melalui website akan terus berjalan dan perangkat ini tetap kami tempatkan di SLB Paedagogia agar dapat digunakan secara rutin," ujar Nisrina.
Dosen pembimbing tim, Annisaa Sri Indrawanti, mengatakan inovasi tersebut menjadi jawaban atas keterbatasan pembelajaran agama di sekolah luar biasa, terutama dalam praktik salat berjamaah.
"Selama ini ada permasalahan di sekolah luar biasa, terutama pembelajaran gerakan salat yang seharusnya dipimpin imam dengan bacaan yang benar. Alat ini membantu melalui teknologi Computer Vision yang mampu mengeluarkan suara sesuai dengan gerakan salat," katanya.
Menurut Annisaa, Gema Imam dapat menjadi pendamping bagi guru dalam mengajarkan praktik ibadah kepada siswa penyandang disabilitas. Ia berharap inovasi tersebut dapat memberikan manfaat lebih luas bagi sekolah luar biasa di berbagai daerah.
"Harapannya inovasi yang diciptakan mahasiswa kami bisa memberikan manfaat bagi sekolah-sekolah, terutama sekolah luar biasa," ujarnya.
Ia juga melihat peluang pengembangan lebih besar melalui kerja sama dengan industri berbasis teknologi.
"Produk ini bisa dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang IoT, Artificial Intelligence, maupun Computer Vision sehingga nantinya dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak sekolah luar biasa di Indonesia," tutur Annisaa.