Cerita Artis Baby Huwae Ditegur Bung Karno Gara-gara Pakaian Renang
Moh. Habib Asyhad July 29, 2026 04:34 PM

Baby Huwae adalah artis dan model yang ngetop di era 1950-an. Pernah ditegur Bung Karno karena pakaian renang.

Artikel ini diolah dari dua cerita Baby Huwae yang dituturkan kepada Tabloid NOVA (edisi 30 Oktober dan 6 November 1988).

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Di tahun 50-an, nama Baby Huwae begitu beken. Ya sebagai peragawati, bintang film, maupun penyanyi. Baby yang cantik, berani, dan modern buat ukuran masa itu bahkan sempat memikat hati Bung Karno yang pertama melihatnya saat memperagakan pakaian renang,

Baby Huwae lahir di Rotterdam, Belanda, 22 November 1939, dari pasangan Anna Geertrinda van Kriesz dan Alexander Wynand Marcus Huwae. Ketika itu, ayahnya sedang belajar di Belanda, memperdalam keahlian pabeannya.

Baby lahir sebagai anak ketiga dari enam bersaudara. Belum genap setahun usianya, perang meletus. Untung ayahnya sudah menyelesaikan studi sehingga mereka pun pulang ke Indonesia.

Ayahnya kemudian ditugaskan di Pontianak, Kalimantan Barat. Tak banyak yang Baby ingat tentang masa-masa di situ karena dia masih terlampau kecil.

Hanya satu hal yang dia ingat: sang adik, Alexander Gerald, satu-satunya lelaki di keluarganya, lahir di kota Katulistiwa itu. Dari Pontianak, ayah Baby pindah tugas ke Yogyakarta dan di kota itulah dua adik perempuannya lahir.

Sejak itu, keluarga Baby terus "mengembara" dari satu kota ke kota lainnya karena tugas sang ayah. Boleh dibilang, masa kecil Baby dihabiskan di Jawa Tengah, juga kota lain di Sumatera dan Kalimantan.

Menginjak umur 9, sang ibu meninggal. Baby terpukul sekali. Dia ingat masa-masa manis ketika keluarganya menempati rumah di Jalan Tanjung 17 Yogya. Bernyanyi bersama dengan iringan biola sang Ayah, sementara jemari sang ibu menari dengan lincah di atas bilah piano.

Bolos sekolah

Setelah ibunya tiada, Baby dan saudara-saudaranya lebih dekat dengan sang nenek yang tinggal di Bungur Besar, Jakarta. Rumah model kuno yang besar itu amat menyejukkan bagi Baby dan adik-adiknya.

Tamat SD, Baby disekolahkan di SMP Santa Maria (1953). Sekaligus dimasukkan ke asrama yang penuh disiplin.

Dia selalu menjadi juara kelas. Baby lalu dipindahkan ke SMP Santa Theresia, bersama kedua kakaknya, Vonny dan Lonny.

Saat itu Baby mulai tumbuh sebagai remaja cantik. Tapi belum terpikirkan olehnya masalah pacar. Justru kedua kakaknya itulah yang menjadi "mawar' di daerah Menteng.

"Predikat" murid yang baik, tetap dipertahankan oleh Baby hingga kelas 2 di SMA PSKD Salemba, Jakarta. Namun setelah itu, godaan demi godaan pun datang.

Bukan masalah pacar melainkan kegiatan Baby di bidang film dan mode. Akibatnya, pelajarannya kerap terganggu.

Maklum, usianya saat itu 17 tahun! Saat sedang mekar-mekarnya.

Baby sering membolos. Entah karena harus menghadiri festival film di Hongkong, Malaysia, Tokyo atau Singapura. Pada sekolah dia bilang, “aku sakit!”

Mula-mula alasan itu diterima begitu saja. Hingga satu saat, dia "ketemu batu"-nya.

Gara-garanya Baby bolos dan pergi bersama Gaby Mambo menghadiri festival film di Malaysia. Pulangnya mereka lewat Singapura dan diwawancarai wartawan Straits Time.

Bahkan mereka sempat membeli pakaian renang karena si wartawan menghendaki keduanya berpose di dekat kolam renang. Lalu muncullah artikel dan foto itu di halaman muka koran berbahasa Inggris itu.

Judul tulisannya pun bukan main, “Brigitte Bardot Dari Indonesia”, lengkap dengan ukuran vital keduanya.

Bodohnya, Baby tak tahu kalau koran itu pun beredar di Jakarta. Suatu hari, kepala sekolah memanggilnya. "Kenapa bolos 10 hari?" tanya Piet Soplanit, sang kepala sekolah.

Baby diam saja. Tapi sang kepala sekolah terus mendesak hingga Baby menjawab sekenanya, "Saya sakit, Pak! Sakit kepala sampai tak bisa jalan."

Demi mendengar jawaban Baby, Pak Soplanit pun marah. Sambil menunjukkan koran yang memuat berita tentang muridnya itu, dia berkata, "Apa ini sakitnya?"

“Tamatlah riwayatku,” bisik Baby dalam hati. Tapi dasarnya ingin terus bersekolah, dia pun mohon dispensasi sekaligus minta diampuni. Namun kepala sekolah tak meluluskannya.

Pertimbangannya, kesalahan seperti itu, sudah tiga kali Baby lakukan. Tak ada lagi maaf baginya.

Baby pun diminta keluar dari sekolah itu. Saat itu, Baby duduk di kelas dua Terpaksa dia pindah sekolah.

Kegiatan Baby di film terus berjalan. Akibatnya mudah ditebak: dia di-"PHK" lagi!

Padahal saat itu menjelang ujian akhir. “Tapi ya salahku sendiri, soalnya saat itu aku sering bolos gara-gara main untuk tiga judul film!” kata Baby.

Tiga film yang dia maksud adalah Gembira Ria, Juara Sepatu Roda, dan Asrama Dara.

Bertemu Bung Karno

Meski gagal di sekolah, popularitas Baby makin naik saja. Apalagi film-filmnya mendapat pujian luar biasa.

Belum lagi aktivitasnya sebagai penyanyi dari kelompok Baby Dolls.

Saat itu Baby merasa kehidupannya betul-betul mengasyikkan: naik-turun pesawat terbang, manggung keliling Indonesia, dan keluar-masuk hotel mewah saat itu.

Dari hari ke hari, Baby makin "laris" dan terkenal saja. Tak sedikit pria melamarnya.

Namun dia tak tahu, kalau suatu ketika Presiden Soekarno pun menaruh perhatian kepadanya. Perhatian khusus, malah!

Baby masih ingat, tahun 1957 itu merupakan pertama kalinya dia bertatap muka dengan Bung Karno. Kejadian itu berlangsung saat peresmian kolam renang Karang Setra di Bandung. Dia diminta memperagakan pakaian renang.

Ketika berjalan menuju kamar rias untuk bertukar pakaian sore dan malam yang harus dia pamerkan, seseorang memberitahu, "Baby, kau diminta menghadap Pak Siwabessy (Menteri Kesehatan saat itu, red)."

Mengingat tugasnya belum selesai, dia menjawab, “Tolong sampaikan, sehabis show saja bertemunya." Dia pun keluar lagi memamerkan gaun malam indah berpotongan terbuka.

Usai peragaan, Baby menghampiri meja Pak Siwabessy. Di meja yang sama, duduk seorang pria berkacamata, mengenakan peci dan pakaian lengkap dengan bintang-bintang jasa di dada.

Karena suasana saat itu remang-remang, Baby tak bisa melihat jelas wajahnya dan tidak menyapanya. Dia hanya bertanya pada Pak Siwabessy, betulkah dia memanggilku.

"Ya, ada seseorang yang ingin bertanya sesuatu padamu," jawab Siwabessy. "Siapa, Pak?" tanyanya.

"Ini, Bapak Presiden."

Baby yang sudah lelah, tak sempat terkejut mendengar nama BK. Cuma dalam hati bertanya-tanya, kenapa Presiden berada di sini? Belum lagi jawaban dia dapat, BK tiba-tiba bertanya, "Siapa namamu?"

“Baby Huwae, Pak,” jawab Baby.

“Kenapa kau mau memamerkan pakaian renang?"

Kembali dia bingung, mengapa BK "ikut campur" urusan pribadinya. Tapi lalu Baby bilang, “Sesuai dengan suasana dan acara, Pak."

BK pun lalu berkata, sebagai gadis Timur, tak seharusnya dia menerima tawaran itu. "Kembali ke Jakarta nanti, kamu lapor ke istana!" kata BK bernada memerintah.

Di Jakarta, Baby tak memenuhi permintaan itu. Bukan apa-apa, dia tak tahu caranya karena belum pernah seumur hidup menjejakkan kaki ke istana.

Beberapa hari kemudian, film Asrama Dara diputar di istana. Dan konon BK menyukainya.

Dan di luar dugaan, suatu hari sepulang Baby dari sekolah, sebuah sedan mewah datang menjemputnya di sekolah. Orangnya mengatakan, "Ini mobil dari istana dan Anda diminta menghadap Bung Karno."

Kecut juga rasanya hati Baby. Begitulah, dengan seragam sekolah putih biru, kaus kaki selutut dan rambut dikepang dua, dia masuk istana.

Bung Karno terkejut melihat penampilan Baby dan tak percaya, “Akulah si Baby Huwae,” katanya.

“Kok lain sekali dengan penampilanmu di film. Sekarang kau kelihatan seperti anak-anak,” kata BK.

Selain dirinya, Baby juga melihat kehadiran sutradara Asrama Dara, Usmar Ismail dan artis Fifi Young.

Beberapa saat kemudian BK menanyakan, "Mengertikah kau kenapa kupanggil?" Baby menggeleng.

"Saya baru beli pesawat dari Amerika, kuberi nama Dolok Martimbang. Sayang belum punya pramugari pribadi. Kau mau jadi pramugari?"

Mendengar tawaran BK untuk dijadikan pramugari pribadi, Baby pun langsung berkata, "Saya tidak memiliki pendidikan khusus pramugari. Yang di film itu, cuma bohong-bohongan. Namanya juga bintang film, harus bisa memerankan apa saja."

Tapi rupanya BK tak mau tahu, "Ah, itu soal gampang!"

Langsung, saat itu juga, BK menulis memo yang ditujukan pada Menteri Perhubungan saat tu. "Nah, bawa surat ini … saya minta kau mendapat fasilitas khusus untuk dididik menjadi pramugari."

Baby masih bingung melihat itu, BK bertanya, apalagi yang dirisaukan. "Saya harus minta izin ayah saya dulu, Pak," ucap Baby hati-hati.

Demi mendengar itu, BK tertawa. Dia bilang, "Baiklah kalau maumu begitu. Akan saya undang ayahmu ke istana."

Ternyata BK tak main-main. Beberapa hari kemudian, undangan itu datang. Dan tepat dugaan Baby, ayahnya menolak tawaran BK.

setiba di rumah, sang ayah langsung berkata, "Sejak saat ini kau kularang mengikuti segala kegiatan yang berhubungan dengan pramugari!"

Tapi BK tak mundur begitu saja. Dia kembali minta persetujuan ayah Baby. Dan sang ayah tetap pada pendiriannya: "Tidak!"

Akhirnya BK mengalah. Dan kemudian Baby tahu, kesempatan itu diberikan BK kepada Kartini Manoppo.

Dilamar BK

Bukan itu saja "kejutan" BK untuk Baby. Di lain waktu, muncul lagi kejutan yang lebih dahsyat: BK melamarnya!

Saat itu, usia Baby 17 tahun. Lagi-lagi dia mesti menolak halus permintaan Presiden Pertama RI itu. "Saya harus tanya pada Ayah dulu," begitu alasannya.

Soalnya, dalam hati dia merasa yakin, pasti sang ayah tak mengizinkan. Dugaannya tak meleset. Tegas-tegas sang ayah menolak pinangan BK, "Dia masih terlalu muda. Hanya badannya saja yang bongsor," kilahnya.

Namun BK belum putus harapan. Beberapa lama kemudian, lamaran itu diucapkannya lagi. Dan seperti yang sudah-sudah, dia bilang, “Harus seizin Ayah."

“Mungkin orang akan berpikir, betapa bodohnya aku, tak mau dipersunting seorang presiden, penguasa tertinggi negara. Tapi sungguh, saat itu aku tak punya perasaan apa-apa terhadap BK. Apalagi cinta! Aku hanya menghormatinya sebagai seorang presiden. Tak lebih dari itu. Aku memang mengaguminya. Tapi itu toh bukan berarti aku terpikat pada BK,” kata Baby.

BK berulang kali menyatakan lamarannya ke Baby dan ke ayahnya, dan tetap saja jawabannya: "Tidak". Lalu Baby "dibujuk", ditawari bepergian ke New York.

Rupanya BK begitu penasaran dan bolak-balik bertanya, "Kenapa kau menolak lamaranku? Apa kau sudah punya kekasih?"

Dan Baby pun serba salah. Akhirnya, meski malu-malu, dia memberanikan diri menjawab, "Sudah, Pak."

Memang saat itu Baby tengah menjalin hubungan dengan seorang pemuda. Ya, mungkin itulah yang disebut cinta monyet. Soalnya mereka berdua tak pernah saling mengucapkan, "Aku cinta padamu."

Lalu BK mendesak dengan pertanyaan, "Siapa orang itu?" Baby menyebut sebuah nama.

"Anak siapa?" Tanpa prasangka apa-apa, dia menyebut nama orangtuanya.

Sialnya, pemuda itu anak seorang menteri. Dan tak lama kemudian, menteri itu pun dijadikan duta besar!

Bukan orangtuanya saja yang kena. Baby pun selama lima tahun diusahakan tak bisa bertemu dengan pemuda itu. Maka tamatlah cinta pertama Baby gara-gara kecemburuan BK.

“Baru kemudian dia tahu, alih tugas menteri itu hanya karena BK tak senang anaknya pacaran denganku,” kata Baby.

Janji

“Jadi, tak benar gunjingan orang bahwa aku pernah intim dengan BK. Kupikir, semua itu hanya karena sikapku yang terbuka dan penuh spontanitas. Tiap kali BK bertanya sesuatu, kujawab apa adanya dan jujur. Aku membenci sikap ABS alias asal bapak senang. Kalau orang lain mau percaya, syukur, tak percaya, ya sudan. Dan sikap itu kuterapkan pada siapa saja. Termasuk BK dan kemudian Dewi, istri kelima BK,” tutur Baby lagi.

Karena ketegasannya itulah suatu saat BK yang mengganti nama Baby menjadi Lokita Purnamasari. BK bilang, “Lokita, kau wanita pemberani. Kalau diajak bicara, ndak pakai tata krama. Tak pikir-pikir lagi, ceplas-ceplos saja.”

Tapi BK bukan seorang pendendam, menurut Baby. Meski lamarannya dia tolak, sikapnya pada Baby tak pernah berubah.

Baby kembali disibukkan oleh kegiatan di film dan dunia tarik suara. Dan hingga saat itu, belum terpikir olehnya masalah perkawinan.

Lama sesudah itu, barulah dia datang lagi ke istana. Saat itu nama Baby Huwae tercantum untuk mengikuti New York Fair.

Namun pada saat-saat terakhir keberangkatan, entah dengan alasan apa, BK melarangnya pergi. Namun kemudian Baby diikutkan pada acara Gelanggang Dagang Wanita.

“Kalau tak salah, waktu itu mendekati saat pernikahanku,” cerita Baby.

Mendengar rencana pernikahan itu, BK memanggilnya ke istana, "Saya dengar, kau mau kawin. Benarkah itu?"

“Betul, Pak,” jawab Baby.

“Kau yakin sayang pada pria itu? Tak berubah pikiran lagi?”

Baby menjawab dengan yakin dan tak akan berubah pikiran.

"Baiklah. Saya ingin berkenalan dengan calon suamimu, sekaligus memberinya wejangan. Akan kuusahakan untuk hadir pada hari perkawinanmu,” kata BK.

Ternyata pada hari pernikahan Baby, BK berada di AS untuk berpidato di muka Sidang Umum PBB. Tapi sebelum berangkat, dia sempat bilang, akan mengirim istrinya sebagai wakil.

“Karena tak berani menanyakan siapa yang bakal hadir, undangan itu kuberikan pada Ibu Fatmawati. Padahal yang diminta hadir oleh BK adalah Ibu Hartini. Dan aku pun mendapat tugas berat: Memberi tahu soal itu pada Ibu Fat!” kisah Baby.

Janji BK untuk memberi wejangan pada calon suami Baby, dipenuhinya sekembalinya dari AS. Mereka diundang ke Istana Bogor. Di sana, sementara Baby belajar membuat sambal pada Ibu Hartini, suaminya menemui BK mendengarkan wejangan.

Pernikahan Baby dengan sang suami berlangsung setelah menjalani masa pacaran selama setahun. Ketika itu usianya 21 tahun.

Perkawinan itu sendiri terlaksana karena situasi dan kondisi tertentu. Bukan kemauan Baby pribadi. Karena waktu itu, Baby tengah menikmati "masa-masa indah".

Sebetulnya dia tak ingin membicarakan lagi perkawinannya yang kemudian menghasilkan tujuh anak. “Kami kemudian bercerai. Tapi, biar bagaimanapun juga, mantan suamiku adalah ayah dari tujuh anakku,” tuturnya.

Baby mersa, semakin jelaslah bagi semua orang, bahwa dia tak memiliki hubungan intim dengan BK. Meski gosip yang melandanya begitu hebatnya.

Tentang gosip ini, suatu hari Baby pernah mengadu langsung pada BK di Wisma Yaso (sekarang Museum ABRI, red). Ketika itu, dia sudah tak tahan lagi mendengar segala macam gunjingan menyakitkan itu.

"Pak, saya ingin bicara serius. Saya sedih sekali karena orang menyebar isu bahwa saya punya anak dengan Bapak. Saya harus bagaimana, dong, Pak?" tanyanya.

Dengan tenang, BK menjawab, "Kalau orang ngomong begitu, pertama kau harus bangga. Kedua, kau diam." Baby terkejut mendengarnya.

Bagaimana bisa diam? "Lokita," kata BK lagi, "Kalau kau semakin menyangkal, orang makin tak percaya. Tapi kalau kau diam, semua gosip akan lewat."

Dalam hati, Baby membenarkan ucapan BK. Tapi rasa sakit hati masih terus ada. Apalagi saat itu dia bersuami dan punya anak.

Memang mungkin orang tak tahu, bagaimana proses yang sebenarnya hingga setelah menikah pun, Baby tiap hari jumpa BK dan Dewi. Bahkan menurut Baby, dialah manusia yang paling beruntung karena terpilih sebagai chaperon tiap kali ada kunjungan ke luar negeri.

Namanya selalu dicantumkan sebagai pejabat istana kepresidenan. Dan kepercayaan BK padanya makin menebal setelah Baby bersahabat dengan Ratna Sari Dewi pada perkenalan pertama.

“Saat itu Dewi datang ke butik yang berlokasi di rumahku untuk memesan baju. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Miss Kubo,” kisah Baby.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.