Harga Pertamax Mahal, Pegawai Pemprov DKI Ini Pilih Gowes 28 Kilometer Demi Hemat Pengeluaran
Wahyu Septiana July 29, 2026 05:54 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi memaksa sebagian warga mengubah kebiasaan sehari-hari demi menjaga pengeluaran tetap terkendali.

Salah satunya dilakukan oleh Muhammad Rizky, pegawai Pemprov DKI Jakarta yang kini rutin bersepeda ke kantor.

Keputusan ini bukan tanpa alasan, Rizky mengaku biaya transportasinya melonjak sejak harga Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250.

Agar pengeluaran rumah tangga tidak semakin membengkak, ia memilih mengayuh sepeda sejauh sekitar 28 kilometer dari rumahnya di Sawangan menuju kantornya di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.

Pengeluaran Bensin Melonjak

Rizky mengatakan, sebelumnya biaya mengisi bensin untuk kebutuhan pulang-pergi kerja sebesar Rp 30.000 per pekan.

Namun setelah harga Pertamax naik, biaya tersebut ikut melonjak hingga mencapai Rp 56.000 dalam sepekan.

“Kalau dari rumah ke kantor jaraknya itu 28 kilo, biasanya pakai motor dan isi Pertamax. Dulu sebelum Pertamax naik, isi bensin full tank Rp 30.000 untuk seminggu, tapi sekarang full tank Rp 56.000,” ucapnya, Rabu (29/7/2026).

Kenaikan biaya transportasi ini pun disebut Rizky berdampak langsung pada pos pengeluaran lainnya.

Tenaga ahli di Dinas Komunikasi, Informasi, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta ini pun harus putar otak untuk menghemat pengeluaran.

“Dulu olahraga main futsal atau sepak bola itu seminggu bisa dua kali. Sekarang terpaksa saya rem, jadi sementara enggak main dulu atau maksimal sekali seminggu,” ujarnya.

Gowes 28 Kilometer Demi Berhemat

Tak hanya itu, Rizky kini juga memilih lebih sering menggunakan sepeda sebagai moda transportasi menuju kantor untuk menyiasati kenaikan BBM ini.

Meski harus menempuh jarak puluhan kilometer, ia mengaku sudah mulai terbiasa setelah melewati masa adaptasi.

“Sekarang lebih sering naik sepeda dari rumah ke kantor. Meskipun jaraknya 28 kilometer, saya tetap naik sepeda biar irit. Awalnya memang berat, tapi lama-lama sudah terbiasa,” tuturnya.

Rizky mengaku tidak selalu bersepeda ke kantor setiap hari. Ia masih sesekali menggunakan motor, tergantung kondisi fisik dan aktivitas yang dijalani.

“Biasanya selang-seling sih. Tapi kalau mood bagus dan fisik juga lagi enak bisa beberapa hari bertuntun naik sepeda,” kata Rizky.

Uang Bensin Kini Bisa Ditabung

Rizky bilang, bersepeda membuatnya bisa menekan pengeluaran bulanan. Uang yang sebelumnya habis untuk membeli bensin, kini bisa dialihkan untuk kebutuhan lain.

“Berpengaruh banget, biasanya keluarin buat bensin Rp 56.000 seminggu, kalau saya naik sepeda, uang itu bisa saya hemat atau ditabung. Bisa juga dipakai buat beli makanan,” ucapnya.

Perubahan kebiasaan ini menjadi cara sederhana yang dipilih Rizky untuk tetap menjaga kondisi keuangan keluarga di tengah naiknya harga BBM.

Bagi dirinya, mengayuh sepeda memang membutuhkan tenaga lebih, tetapi penghematan yang diperoleh dinilai sepadan dengan usaha yang dilakukan.

Berita Lainnya

Baca juga: Debut Radovan Pankov Ternoda Gol Blunder, Bek Persija Yakin Benteng Macan Kemayoran Makin Kokoh

Baca juga: Derita Khairul Pedagang Martabak Mini di Ciledug: Nabung 4 Bulan Demi Kado Anak, Raib Digasak Maling

Baca juga: MRT Jakarta Punya Sistem Baru, Penumpang Kini Bisa Bayar Tiket Pakai Kartu Kredit Tanpa Isi Saldo

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.