TRIBUNKALTIM.CO - Bagi kendaraan komersial, setiap menit kendaraan berhenti beroperasi berarti potensi hilangnya pendapatan bagi pelaku usaha.
Berbeda dengan kendaraan penumpang yang masih memiliki alternatif mobilitas.
“Truk dan kendaraan niaga merupakan aset produktif yang menopang kegiatan bisnis pelanggan, makanya uptime menjadi sesuatu yang penting,” tutur Direktur Solusi Bisnis dan LCV Bisnis PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) Anjar Rosjadi kepada wartawan di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Hal itu menjadi alasan PT IAMI mengubah pendekatan layanan after-sales yakni memastikan kendaraan pelanggan dapat beroperasi semaksimal mungkin.
Strategi ini diyakini menjadi salah satu kunci yang bisa meningkatkan kepuasan pelanggan sekaligus mendukung pertumbuhan penjualan kendaraan niaga Isuzu.
Baca juga: Balikpapan Masih Butuh Tambahan Air Baku 1.000 Liter per Detik, Ini yang Dilakukan PTMB
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor di Indonesia (Gaikindo), penjualan Isuzu sepanjang paruh pertama 2026 mencapai 13.300 unit atau naik 18,89 persen dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar 11.186 unit.
Strategi itu diwujudkan melalui perluasan jaringan layanan after sales di seluruh Indonesia.
Hingga saat ini Isuzu telah memiliki 129 outlet 3S (sales, service, spareparts), 4 Part Depot (di Makassar, Medan, Palembang, dan Pontianak), 165 Bengkel Isuzu Berjalan (BIB), 181 Bengkel Mitra Isuzu (BMI), serta 2.167 Part Shop yang tersebar di berbagai daerah. Luasnya jaringan after sales Isuzu itu membuat unit entry di bengkel terus meningkat.
Sepanjang semester 1 2026, terjadi pertumbuhan unit entry sebesar 10 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. "Fokus kami bukan hanya menjual kendaraan, tetapi memastikan bisnis pelanggan tetap beroperasi. Karena ketika kendaraan berhenti, bisnis pelanggan juga ikut terganggu," kata dia.
Menurut Anjar, disiplin pelanggan dalam melakukan perawatan berkala, pengelolaan armada yang baik, hingga perilaku pengemudi juga sangat menentukan produktivitas kendaraan.
Anjar menambahkan, untuk memperkuat layanan, Isuzu juga menawarkan kontrak servis bagi pelanggan armada atau fleet customer.
Program tersebut membantu pelanggan memperoleh kepastian biaya perawatan sekaligus mengurangi dampak fluktuasi harga suku cadang melalui paket layanan yang lebih kompetitif.
Tahun ini Isuzu sudah menambah 22 unit BIB, dari semula 140 unit menjadi 166 unit dengan investasi sekitar Rp400 juta per unit BIB atau total sekitar Rp8 miliar.
Menurut Anjar, strategi layanan jemput bola lewat BIB itu menjadi salah satu pembeda Isuzu dibandingkan kompetitor.
Anjar melanjutkan, keberadaan BIB menjadi salah satu keunggulan Isuzu. Melalui layanan ini, teknisi dapat mendatangi lokasi pelanggan sehingga proses perawatan maupun perbaikan tidak harus menunggu kendaraan masuk ke bengkel.
Keunggulan layanan BIB ini juga diakui Tiffany N, pemilik perusahaan PT Central Indo Fajar, distributor transporter semen yang beroperasi di Sulawesi Selatan. Menurut dia, teknisi BIB sering datang memperbaiki armadanya yang mogok di jalan sehingga bisa fit kembali.
Saat ini, pihaknya memiliki lebih dari 30 unit kendaraan Isuzu dan satu unit merek lain. “Dari awal sudah menggunakan Isuzu. Ini juga untuk mempermudah pembelian sparepart, servis, dan lainnya,” tutur Tiffany.
Pada kesempatan terpisah, Business Strategy Division Head PT IAMI Rian Erlangga mengakui, kuatnya layanan aftersales membuat penerimaan customer terhadap produk Isuzu terus meningkat dan itu terjadi dalam 10 tahun belakangan ini.
Berdasarkan data Gaikindo, penjualan Traga yang melonjak 27,66 persen dari 4.867 menjadi 6.213 unit, ELF sebesar 19,23 persen dari 4.644 menjadi 5.537 unit, dan Giga naik 7,46 persen dari 1.675 menjadi 1.550 unit. Market Giga naik 15,2 persen, Traga 4,4 persen, dan Elf 49 persen. (*)