- Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD, menyoroti pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai "londo ireng".
Mahfud menilai pernyataan itu justru mencerminkan sikap antikritik karena kritik terhadap pemerintah dibalas dengan pelabelan yang dinilai menyakitkan.
Hal ini disampaikan Mahfud melalui unggahan di YouTube pribadinya, Selasa (28/7).
Menurut Mahfud, istilah "londo ireng" memiliki makna historis yang berkaitan dengan pengkhianatan terhadap perjuangan bangsa Indonesia.
"Presiden ini tidak suka pada kritik, selalu mengatakan ini negara demokrasi, silakan kritik pemerintah, tapi sesudah itu menghantam balik para pengkritiknya tanpa penjelasan yang substantif," katanya.
Ia menjelaskan bahwa sebutan tersebut mulai dikenal pada masa Perang Diponegoro ketika Belanda mendatangkan pasukan dari Minahasa untuk membantu melawan pasukan Diponegoro.
"Jadi kalau orang disebut londo ireng itu kalau kritik dia, seperti LSM, pengamat, jurnalis yang paling banyak, itu agak menyakitkan karena londo ireng itu sejarahnya pengkhianatan terhadap perjuangan," ucap Mahfud.
Lantas, Mahfud menegaskan bahwa penggunaan istilah itu tidak tepat jika ditujukan kepada jurnalis atau pihak yang menyampaikan kritik secara sehat.
Ia juga menyatakan para pengkritik pemerintah tidak memiliki hubungan dengan pihak asing, sehingga tidak layak disamakan dengan makna historis "londo ireng".
Mantan Menko Polhukam itu menyatakan kritik merupakan bentuk kepedulian terhadap bangsa yang bertujuan meluruskan keadaan melalui solusi, bukan tindakan pengkhianatan.
Meski demikian, pihak Istana menegaskan bahwa ucapan Presiden tidak ditujukan untuk menggeneralisasi seluruh jurnalis maupun LSM.