Siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama 16 Malang Juara I dalam Ajang Putra-Putri Siswa Jatim 2026
Eko Darmoko July 29, 2026 07:35 PM

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Begja Sudira Wicaksana tak pernah membayangkan namanya dipanggil sebagai juara satu ajang Putra-Putri Siswa Jawa Timur.

Remaja berusia 14 tahun itu mulanya hanya menuruti tawaran gurunya untuk mengikuti ajang tersebut. 

Tak ada target muluk. Bahkan, Begja yang akrab disapa Bejo mengaku tak cukup yakin bisa melewati seluruh tahapan kompetisi. Apalagi meraih kemenangan.

Namun malam grand final di Universitas Brawijaya (UB) mengubah keraguan itu.

Siswa kelas VIII Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Malang tersebut keluar sebagai juara I kategori SMP dalam Ajang Putra-Putri Siswa Jawa Timur 2026.

"Alhamdulillah, juara satu kategori SMP. Pesertanya dari SMP di seluruh Jawa Timur," kata Bejo, Rabu (29/7/2026).

Suaranya mengekspresikan kegembiraan ketika menceritakan kembali perjalanan tersebut. Ia sendiri masih sulit percaya bisa sampai ke titik itu.

"Saya kaget, kagum dan bangga atas capaian ini. Saya tidak pernah menyangka bisa sampai di sini," tuturnya.

Baca juga: Setahun Sekolah Rakyat di Kota Malang, Siswa Mulai Ukir Prestasi hingga Tingkat Nasional

Semua bermula dari tawaran seorang guru. Lalu Begja mengikuti ajakan guru tersebut.

Meski ada ketidakpercayaan diri, namun Begja tetap mengikuti proses dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh.

"Saya awalnya ditawari guru. Saya ikut-ikut saja, tidak cukup yakin kalau menang. Saya lakukan saja, eh ternyata menang," katanya.

Menjadi juara tidak didapat Begja dalam satu malam. Ia harus melewati serangkaian tahapan, mulai tes tertulis, wawancara, pra-karantina, karantina hingga akhirnya berdiri di panggung grand final.

Dari proses itu, Begja menemukan kemampuan baru. Ia belajar berbicara di depan orang banyak.

"Dalam prosesnya, saya belajar public speaking. Awalnya ikut tes tulis, tes wawancara, pra-karantina, karantina, lalu grand final," ujarnya.

Ketika mendapat kesempatan menyampaikan gagasan, Begja memilih persoalan yang dekat dengan kehidupan pelajar yakni perundungan.

Ia tidak sekadar berbicara mengenai larangan melakukan perundungan. Begja membawa pengalaman dari sekolahnya sendiri.

Di SRMP Kota Malang, kata dia, terdapat program "Kotak Curhat". Kotak tersebut menjadi salah satu sarana bagi siswa untuk menyampaikan persoalan yang mereka alami maupun melaporkan kejadian perundungan di lingkungan sekolah.

Baca juga: Tahun 2026, Sekolah Rakyat di Kota Malang Belum Bisa Terima Siswa SMP Baru

Menurut Begja, mekanisme tersebut penting karena orang yang mengetahui atau menyaksikan perundungan juga membutuhkan rasa aman ketika melapor.

"Waktu itu saya membawa tema anti-perundungan di sekolah. Di SRMP Malang ada program Kotak Curhat. Fungsinya untuk melindungi saksi yang melapor," jelasnya.

Begja selalu ingin sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar. Ia sangat tidak setuju dengan perundungan.

"Perundungan di sekolah tidak boleh terjadi. Korban atau saksi yang melaporkan juga harus mendapatkan perlindungan," katanya.

Begja bersyukur pengalaman buruk tersebut tidak ia rasakan selama bersekolah di SRMP Kota Malang. Menurutnya, SRMP 16 Malang sangat aman. Teman-teman sebayanya juga rukun.

"Alhamdulillah tidak ada perundungan di SRMP. Belajar menjadi menyenangkan," ujarnya.

Bagi Begja, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat mengejar pelajaran dan prestasi. Sekolah itu memberikan kesempatan yang berarti bagi keluarganya.

Ayah Begja sehari-hari bekerja sebagai sukarelawan pengatur lalu lintas atau Supeltas. Sementara ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART).

Baca juga: Sopir Angkot Minta Penundaan Trans Jatim Malang-Kepanjen, Siap Dukung Jika Ada Jaminan Pemberdayaan

Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Begja merupakan siswa SDN Bunulrejo 1 Kota Malang. Kini, hampir seluruh kebutuhan pendidikannya difasilitasi. Begja mengatakan keluarganya tidak mengeluarkan biaya untuk pendidikan yang dijalaninya di SRMP.

"Program SRMP ini bagus banget. Saya tidak membayar sepeser pun. Sangat membantu keluarga saya," katanya.

Sebagai sekolah berasrama, kebutuhan makan juga disediakan. Siswa mendapatkan makan tiga kali sehari ditambah makanan ringan. Fasilitas belajar yang bagi sebagian keluarga mungkin tidak mudah disediakan juga bisa digunakan Begja.

Salah satunya laptop. Setiap anak memperoleh fasilitas satu laptop untuk menunjang pembelajaran. Saat libur, perangkat tersebut dapat dibawa pulang.

"Kami difasilitasi makan sehari tiga kali, terus ada snack. Laptop juga ada, satu laptop satu anak. Kalau libur seperti ini, laptopnya ada di rumah," ceritanya.

Namun bagi Begja, fasilitas bukan satu-satunya hal yang membuatnya betah. Lingkungan pertemanan lah yang menjadi alasan lain.

"Pendidikannya bagus, menyamaratakan seperti sekolah umum. Siswanya guyub. Lingkungan yang guyub membuat saya semangat belajar," ujarnya.

Perjalanan Begja memperlihatkan perubahan yang mungkin tidak ia sadari sebelumnya ketika memutuskan untuk sekolah di SRMP 16 Malang.

Seorang anak yang mulanya hanya "ikut-ikut" ketika ditawari guru, akhirnya mampu melewati tes, wawancara, karantina, berbicara mengenai gagasannya di hadapan orang lain, lalu pulang membawa gelar juara.

Ia berhak membawa pulang Rp2.750.000,00 sebagai juara satu. Di balik prestasinya, ia sudah menyimpan satu cita-cita. Kelak, Begja ingin mengikuti jejak sang kakek.

"Insya Allah, cita-cita saya ke depan ingin jadi PNS seperti kakek saya," katanya.

Kemenangan di panggung tingkat Jawa Timur memberinya satu pelajaran penting bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang sama untuk berhasil. Apa pun latar belakang lembaga pendidikannya.

Baca juga: Tekan Fenomena Fatherless, Pemkab Malang Wajibkan Ayah Antar Anak Sekolah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.