Laporan Reporter Tribunjabar.id Rahmat Kurniawan
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Warga menolak adanya titik baru penambangan batu kapur di Gunung Guha dan Leuweung Hideung, Desa Ciptaharja, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat (Jabar).
Mereka khawatir aktivitas penambangan batu kapur itu akan merusak mata air yang menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan air bersih hingga pengairan area pertanian warga sekitar.
"Kalau kawasan ini dibuka untuk pertambangan, kami khawatir mata air akan terganggu. Padahal sumber air ini menjadi penopang kehidupan warga dan pertanian," kata Koordinator Aliansi Warga Ciptaharja, Syaeful Irfan, Rabu (29/7/2026).
Syaeful menjelaskan, setidaknya ada lima mata air besar yang berada di kawasan Gunung Guha dan Leuweung Hideung. Mulai dari Mata Air Cipaneguh, Pasir Sepat, Cisaladah, Ciketung, dan Cijawer.
Air dari sumber tersebut digunakan sehari-hari untuk warga di Kampung Pojok, Cijuhung, Sirnagalih, Cibiru, Cibarengkok, Gunungbatu, Sawah Lega, Cileat, Talun, dan Cioray di Desa Ciptaharja.
"Gunung Guha Leuweung Hideung memiliki fungsi sebagai gentong air atau area tangkapan air. Banyaknya pepohonan serta struktur batuan karst membuat area ini menyimpan banyak cadangan air," jelasnya.
Selain urusan air, aktivitas tambang batu kapur juga dikhawatirkan turut berdampak pada berkurangnya area garapan pertanian warga.
"Lahan kan jadi tempat warga kerja, untuk hidup. Kemudian kan bisa jadi nanti banjir sama longsor juga," tandasnya.
Sebelumnya, dugaan aktivitas pengeboran untuk keperluan tambang batu kapur di Gunung Guha dan Leuweung Hideung, Desa Ciptaharja, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, viral di media sosial.
Dari video yang beredar, terlihat sejumlah orang melakukan pengeboran menggunakan mesin berukuran besar. Pengeboran itu dilakukan di tengah kebun pisang.
Dinarasikan, warga setempat khawatir penambangan batu kapur itu berakibat terjadinya gangguan pada mata air Cisaladah dan Cipaneguh yang berada tak jauh dari lokasi pengeboran.
Dua mata air itu disebut sebagai sumber air bersih maupun pemasok utama area pertanian warga.
Kepala Desa Ciptaharja, Idham Martadinata, mengonfirmasi adanya aktivitas pengeboran yang merupakan rangkaian sebelum adanya penambangan batu kapur di lokasi tersebut.
"Betul ada pengeboran, tapi belum, belum ada penambangan itu, itu baru untuk dilihat kedalaman batu," kata Idham melalui sambungan telepon, Senin (27/7/2026).
Idham mengungkapkan, pengeboran dilakukan oleh PT Bhumivarin Indonesia yang disebut telah mengantongi izin penambangan dari pemerintah.
"(Izin) Dari dulu itu sudah ada, untuk realisasi (penambangan) itu kami tidak tahu, itu konfirmasi perusahaan," ujarnya.
Idham menambahkan, dirinya belum menerima aduan dari warga akibat aktivitas pengeboran, termasuk adanya gangguan mata air.
"Belum, kan belum ada aktivitas (penambangan) kan. Belum ada laporan terdampak," tandasnya.