Sebuah restoran di Singapura tengah menarik perhatian setelah diduga memasak hidangan seafood dari sumber pesisir pantai. Hal tersebut lantas membuat restoran ini diberi ulasan bintang 1.
Aturan makan di restoran Singapura sangat ketat. Hal ini penting untuk melindungi kesehatan publik dan menjaga standar higienitas yang telah ditetapkan.
Tidak sekadar tempat atau dapur yang harus bersih, tetapi bahan pangan yang dipakai restoran juga tidak bisa sembarangan.
Ketika ada restoran yang diduga melanggar, tentu akan langsung menarik perhatian banyak orang dan juga pihak badan pengawasan Singapura yaitu Singapore Food Agency (SFA).
Terbaru, sebuah restoran di Singapura tengah menjadi sorotan karena diduga melakukan penyimpangan. Dilansir dari motherhsip.sg (28/7), restoran tersebut diduga memasak hasil laut yang dikumpulkan oleh sekelompok orang dari pantai pesisir Changi.
Awal mulanya insiden ini diketahui dari unggahan group Facebook Complaint Singapore, di mana seorang pengguna membagikan bukti screenshot (SS) dari unggahan video di tanggal 13 Juli.
Video tersebut menunjukkan sekelompok orang berkumpul dan mencari biota laut di daerah pasang surut pantai Changi dengan ember di tangan.
Pengguna tersebut juga menyertakan beberapa bukti screenshot lainnya yang menunjukkan papan nama restoran yang terlibat dalam pengambilan makanan laut ilegal ini. Nama restorannya adalah Havelock Palace yang terletak di 2 Havelock Road dekat Chinatown.
Dalam video yang pertama kali diunggah di media sosial China, Douyin (kini sudah dihapus), seorang narator terdengar menyarankan bahwa ada banyak hewan laut yang dicari di sekitar daerah pasang surut tersebut.
Bagian video kedua melibatkan pengangkutan hasil panen semalam ke restoran agar seafood bisa disiapkan dalam keadaan segar.
Awal mulanya karena unggahan video ini dimana banyak orang terlihat membawa seafood pesisir pantai ke restoran tersebut. Foto: Screenshot via Douyin, Google Maps.
|
Kemudian terdengar suara pria di balik kamera yang sedang berdiskusi dengan chef tentang menyiapkan berbagai macam hidangan laut yang terhampar di atas meja. Kerang dan kepiting termasuk yang dijual oleh restoran tersebut.
Usai unggahan video ini viral, Google Maps menunjukkan beberapa ulasan bintang satu di restoran tersebut. Sebagian besar pengulas menyatakan ketidaksetujuan mereka atas keterlibatasn restoran dalam insiden ini. Mereka menganggap ini merupakan praktek tidak etis.
Salah satu pengguna berkomentar, "Perilaku memalukan mencuri atau merampas makanan berlebihan dari satwa liar."
Anggota parlemen GRC Pasir Ris-Changi, Valerie Lee, yang bertanggung jawab atas divisi Changi, menulis dalam sebuah unggahan Facebook bahwa dia "sangat kecewa" setelah menonton video tersebut.
Ia menyebut perilaku tersebut sebagai tercela. Menurutnya itu tak sekadar tentang legalitas, tetapi juga tentang kurangnya rasa hormat.
Dia juga menandai National Parks Board (NParks) dalam unggahannya dan menyatakan harapannya agar lembaga tersebut meningkatkan patroli di habitat pasang surut.
Menurut Karenne Tun, Direktur Grup di NParks National Biodeversity Centre, NParks telah membatasi pengumpulan hewan dari zona pasang surut di bawah yuridiksinya.
Zona-zona tersebut meliputi Sisters' Islands Marine Park, Sungei Buloh Wetland Reserve, Labrador Nature Reserve's rocky shore and Chek Jawa Wetlands.
Restoran ini lalu diberi banyak ulasan bintang satu oleh banyak orang. Foto: Screenshot via Douyin, Google Maps.
|
Dalam unggahan video lain, seorang konten kreator yang fokus terhadap sains lokal yaitu Biogirl MJ mengomentari insiden ini.
Dia mengungkap pihak restoran telah menanggapi ulasan ramai ini dengan mengklaim bahwa makanan laut yang ditampilkan di adalah hasil mereka beli sendiri dari pemasok bukan dari penangkapan liar. Restoran juga mengancam akan menempuh jalur hukum.
Di Singapura, hewan laut di pesisir memang tidak boleh diambil sembarangan. Wilayah pesisir dan intertidai (pasang surut) di Singapura berfungsi sebagai tempat perkembang biakkan alami yang penting bagi sebagian hewan laut. Jika diambil sembarangan, bisa menyebabkan kerusakan ekosistem.
National Parks Board juga melarang keras warga mengambil atau mengumpulkan satwa liar di cagar alam dan taman publik yang dilindungi untuk menjaga keseimbangan lingkungan.
Dari sisi kesehatan, menurut situs Singapore Food Agency (SFA), moluska bivalvia mudah mengakumulasi bakteri, virus, dan racun dalam tubuh mereka saat mereka makan dengan cara menyerap dan menyaring air.
Meksipun bakteri, virus, dan parasit bisa dihilangkan melalui proses memasak menyeluruh, tetap saja memiliki potensi berbahaya, seperti biotoksin dan bahan kimia laut yang tidak dapat dihilangkan.
Oleh karena itu, SFA menyarankan tidak mengonsumsi kerang atau makhluk lain dari alam liar karena mungkin mengandung biotoksin.







