Perjuangan dan latihan atlet putri remaja berbakat asal Kota Jambi, Ufairah Malilah Talita, ini sungguh luar biasa. Siswi kelas 9B MTsN 2 Kota Jambi itu memecahkan rekor nasional angkat besi.
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Panggung Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Angkat Besi PABSI 2026 di Semarang menjadi saksi bisu lahirnya sejarah baru olahraga angkat besi Jambi.
Atlet putri remaja berbakat asal Kota Jambi, Ufairah Malilah Talita, sukses memecahkan rekor nasional di kelas 57 kg dengan total angkatan clean and jerk mencapai 81 kg.
Di balik kilau medali dan catatan rekor baru tersebut, ada perjuangan luar biasa dari siswi kelas 9B MTsN 2 Kota Jambi ini.
Mengenal angkat besi sejak usia sekolah dasar, gadis remaja yang akrab disapa Lilah ini harus menjalani rutinitas latihan disiplin tinggi di PPLP Jambi sejak subuh hingga malam hari demi mengharumkan nama daerah.
Keberhasilan Lilah tak lepas dari sentuhan dingin sang ayahanda, Mulyadi, yang juga menjabat sebagai Ketua PABSI Muaro Jambi sekaligus mantan atlet angkat besi nasional. Tanpa unsur pemaksaan, darah atlet dan pembinaan yang tepat berhasil menggembleng Lilah menjadi lifter putri muda yang disegani di kancah nasional.
Bagaimana perjalanan karier, latihan, hingga dinamika persaingan ketat di ajang Kejurnas Semarang? Berikut petikan wawancara Jurnalis Tribun Jambi, Jaryanto, bersama atlet remaja Ufairah Malilah Talita dan Ketua PABSI Muaro Jambi, Mulyadi.
TJ: Lilah ini masih pelajar kelas 9 di MTsN 2 Kota Jambi. Bisa diceritakan bagaimana lomba kemarin di Kejurnas itu? Keikutsertaan saat tampi, kondisinya seperti apa, berapa banyak atlet yang bertanding di Semarang, dan musuhnya kelas berapa?
Ufairah: Musuh kemarin di kelas 57 ada remajanya 8 orang, sama yang juniornya 7 orang.
TJ: Itu bertanding sesuai dengan kelasnya masing-masing ya?
Ufairah: Ya, kelas 57.
TJ: Kalau Adik Lilah turun di kelas 57. Nah, ketika pertandingan itu untuk kelas angkat... Angkat apa namanya Pak?
Mulyadi: Angkat besi. Ada snatch, ada clean and jerk. Ini clean and jerk.
TJ: Oh ya, clean and jerk. Di awalnya berapa kilo itu?
Ufairah: Starnya mulai dari 75 angkatan pertama. Angkatan keduanya naik 78, dan angkatan terakhirnya 81.
TJ: Angkatan terakhir 81. Jadi lawan ini di angkatan 81 masih kuat ya? Lilah juga masih kuat di 81 dan mencoba di 82. Eh, lawannya enggak kuat di 81?
Mulyadi: Lawannya itu di 82. Otomatis mau naikkan untuk mengalahkan Adik Lilah ini tadi. Kalau di 81 kan dia ini tampil duluan. Siapa yang duluan naik, itu yang menang. Makanya musuhnya itu diangkat di 82, harus di atasnya lagi. Tapi kalau dia sama-sama, dia yang duluan naik, dia yang menang.
TJ: Oh, begitu. Siap, siap. Bisa memecahkan rekor nasional di Kejurnas untuk kategori remaja ya? Standarnya berapa yang dipecahkan tadi?
Mulyadi: Yang dipecahkan tadi 81. Minimal yang harus diangkat tadi 71 sebagai rekor awalnya. Jadi bisa dipertajam menjadi 81, ini rekor baru.
TJ: Tercatat ya, jadi benar rekor baru untuk kelas remaja Kejurnas Angkat Besi. Nah, ini tentu menjadi prestasi yang membanggakan, atlet remaja dari Jambi, putri lagi, berhasil memecahkan rekor. Tidak tahu tahun depan apakah masih ada yang akan memecahkan rekor di 81, ini kan 10 kilo selisihnya, Pak. Oke, ke Pak Mulyadi. Nah
Pak, ini putri kok bisa... Bapaknya pelatih juga angkat besi dan juga Ketua PABSI, apakah ada pemaksaan ini?
Apakah memang harus mengikuti bapaknya? Ceritain dong, Pak.
Mulyadi: Jadi gini loh, Mas. Awal mula saya ini atlet juga tahun 1988 sampai 1990 di angkat besi. Kemudian karena adanya peningkatan, saya pindah ke angkat berat. Alhamdulillah tahun 2008 saya pernah ikut PON di Kalimantan, sampai terakhir di 2016. Sekarang saya ketua pengcab dan wasit nasional khususnya angkat berat.
Untuk anak saya ini, saya punya tiga bersaudara: satu laki-laki, dua perempuan. Yang nomor satu laki-laki enggak mau, nomor dua juga enggak mau, akhirnya yang nomor tiga. Saya mulai ajak dari usia kelas 4 SD, "Ayo nak ikut sama bapak ke gedung latihan sambil bermain." Sampai perjalanan beliau akhirnya menyukai dan latihanlah sampai sekarang.
Alhamdulillah waktu di Kejurprov dan Porprov dapat medali. Porprov kemarin dapat perunggu satu. Setelah itu ada pemilihan atlet PPLP, beliau masuk dari kelas 6 SD/1 SMP.
TJ: Oke, berarti memang waktu itu enggak ada pemaksaan, cuma ikut-ikutan?
Mulyadi: Tidak ada pemaksaan sama sekali. Karena saya bapaknya kok merasa aneh enggak ada yang ikut, jadi saya ajak. Mungkin ada darah daging dan gen yang mengalir, jadi beliau akhirnya ikut sampai sekarang.
TJ: Masih ke Pak Mulyadi. Kalau kita melihat olahraga angkat besi ini tentu punya konsentrasi sendiri dibandingkan cabang lain yang mungkin lebih populer. Ini kan butuh effort luar biasa, selain angkat juga stamina sangat vital. Kalau menurut Pak Mulyadi seperti apa?
Mulyadi: Memang kalau di angkat besi ini kita butuh teknik minimal 75 persen dan power 25 persen, perlu speed dan kecepatan. Kalau lambat bisa ketimpa besi. Anak-anak ini minimal butuh 7.000–8.000 kalori, pola makan dan obat-obatan/suplemen dijaga. Sedangkan kita orang biasa saja, agak sulit memonitor itu.
Makanya, saya berterima kasih khususnya kepada pembinaan dari Kabupaten Muaro Jambi, KONI, Pemda, serta Dispora Provinsi Jambi yang mendidik anak kita di PPLP. Dalam latihan angkat besi ini tidak boleh hari ini latihan besok libur, harus rutin setiap hari. Seminggu yang libur hanya hari Kamis dan Minggu.
TJ: Oke, soal latihan kita ke Adik Lilah. Pola latihan yang diajarkan pelatih bagaimana tuh dari kelas 4 SD sampai SMP kelas 3? Tantangan seperti apa di dalam berlatih?
Ufairah: Kadang kalau lagi capek sekolah terus langsung disuruh latihan rasanya capek. Tapi ya gimana, tuntutan dari PPLP enggak bisa libur seenaknya.
TJ: Berapa banyak atlet yang ada di PPLP?
Ufairah: Kami PPLP cewek semua ada 4 orang. Ada yang SMA, ada yang sepantaran kami, dan ada yang masih kelas 8 SMP.
TJ: Cewek-cewek perkasa tribuners, saya aja enggak nyampe 81 kg. Waktu kejuaraan perdana yang diikuti kelas berapa, masih ingat enggak?
Ufairah: Kelas 5 SD, langsung ikut Kejurprov dan dapet juara perunggu.
TJ: Perdana tampil langsung dapet perunggu. Gimana perasaannya waktu itu?
Ufairah: Senang, excited.
TJ: Pak Mulyadi mesti gimana waktu itu? Bisa diceritakan perdana anaknya tampil dan langsung dapat medali?
Mulyadi: Saya sebagai ketua pengcab juga memotori supaya dia berhasil, tapi rasanya deg-degan Pak. Waktu itu angkatan snatch yang kedua jatuh dan ketimpa. Saya panggil, biasanya anak-anak kalau ketimpa kan menangis.
Saya tanya, "Bagaimana nak, masih mau ngangkat?" Dia jawab, "Sebentar Pak, tarik nafas dulu, masih semangat, tambah Pak." Biasanya anak-anak kalau sudah jatuh ketimpa enggak mau latihan lagi. Tapi alhamdulillah jiwanya semangat kuat.
Angkatan ketiga alhamdulillah masuk dan dapat perunggu. Kemarin di Porprov belum ya, rencana Porprov nanti 2027 di Tanjab Barat.
TJ: Kalau kita melihat olahraga ini, pernah enggak teman-teman di sekolah bertanya kenapa memilih angkat besi padahal banyak olahraga lain?
Ufairah: Ada yang nanya kenapa ikut angkat besi, kami bilang kami ikut bapak kami yang atlet angkat besi.
TJ: Jadi jawabannya bijak ya. Tapi kalau secara pribadi di pikiran Adik Lilah saat ini seperti apa?
Ufairah: Saat ini mungkin sudah bisa menyatu sama angkat besi, sudah terbiasa.
TJ: Kalau sehari-hari rutinitas di karantina PPLP seperti apa?
Ufairah: Subuh habis itu fisik subuh dari jam 5, lari pemanasan, push up, sit up. Habis itu sekolah kayak biasa, balik sekolah baru langsung latihan sore.
Mulyadi: Kalau malam dimonitor oleh TNI Pak, jam 9 dikumpulin untuk apel. Ini untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, alhamdulillah anak-anak jadi disiplin.
TJ: Bagaimana Lilah membagi waktu antara belajar sebagai siswi dan latihan sebagai atlet?
Ufairah: Kalau pagi fokus sekolah, sore latihan. Kalau malam kalau enggak ada apel dari TNI ya belajar kalau ada PR dari sekolah, habis itu baru tidur.
TJ: Enjoy ya. Cita-citanya sebenarnya mau jadi apa?
Ufairah: Polwan.
TJ: Pas ini memang sudah ditempa, semoga cita-citanya tercapai. Ke Pak Mul, bagaimana dukungan pemerintah kabupaten dan provinsi terhadap atlet prestasi sejauh ini?
Mulyadi: Harapan saya sebagai mantan atlet, atlet itu bukan sekadar mencari rupiah, tapi mencari pegangan masa depan. Kalau sudah berumur kan butuh perhatian pemerintah, mungkin diangkat jadi pegawai atau masuk Polwan/TNI lewat jalur prestasi.
Jangan sampai pemerintah setelah dapat hasil manis, habis manis sepah dibuang. Berikan mereka motivasi, beasiswa, atau ikatan dinas supaya tidak diambil daerah lain.
TJ: Realistis ya Pak. Sebelum kita akhiri, ada tips atau pesan dari Lilah untuk teman-teman yang bingung mau menekuni olahraga apa?
Ufairah: Sebenarnya lihat dulu latihannya seru atau enjoy enggak. Soalnya kami tertarik di angkat besi, di sekolah enggak ikut ekskul lain cuma menekuni angkat besi.
TJ: Kalau mau jadi atlet, kunci/kisah apa yang perlu dibocorkan?
Ufairah: Temukan bakatmu di mana. Dulu dari SD kelas 1-4 sebelum dikenalkan Papa belum ada olahraga yang disenangi, baru pas dikenalkan langsung tertarik angkat besi.
TJ: Memang murni ada gen dari bapaknya ya. Kira-kira punya idola angkat besi nasional atau internasional?
Ufairah: Atlet Platnas Juliana Klarissa dari Jambi juga. Kalau luar negeri sempat lihat konten kreator Anatoli yang nyamar jadi tukang bersih-bersih, itu atlet angkat berat.
Mulyadi: Kalau angkat berat powernya 75 persen dan teknik 25 persen. Kalau angkat besi butuh speed dan teknik 75 persen, power 25 persen. Kapan-kapan mainlah Mas ke gedung PABSI untuk lihat latihannya.
TJ: Pak Mul, closing statement untuk regenerasi dan harapan angkat besi di Jambi?
Mulyadi: Orang tua jangan takut anaknya pendek atau tidak bisa punya keturunan kalau ikut angkat besi, itu semua mitos/bohong, buktinya anak saya tinggi. Carilah cabang olahraga individu seperti angkat besi karena penilainnya terukur dan peluang berprestasinya jelas.
TJ: Lilah, pesan singkat untuk adik-adik atau teman-teman di luar sana?
Ufairah: Cobalah angkat besi dulu, wanita juga bisa. Jadi juara bisa dikenal banyak orang, dapat apresiasi, dapat bonus bisa beli barang pakai uang sendiri, dan bisa jalan-jalan gratis. (Tribun Jambi/Asto)
Baca juga: Tabel Angsuran KUR BRI 2026 di Jambi hingga Batas Rp500 Juta Cicilan 1-5 Tahun
Baca juga: Mata Ibu Bayi G sampai Bengkak, Pelukan Femi setelah Anaknya Dijual Ayah Kandung Rp20 Juta