Mengkhawatirkan sejak 2024, Ruang Kelas SD di Lampung Atapnya Ambrol Penuh Bongkahan Balok Kayu 
soni yuntavia July 29, 2026 10:19 PM

Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Sedikitnya enam ruang kelas di SDN 2 Taman Endah, Purbolinggo Lampung Timur rusak parah.

Baca juga: Wali Kota Metro Lampung Wahdi Minta Disdikbud Inventaris Sarana dan Prasarana Sekolah Rusak

Kerusakan dimulai dari bagian jendela, plafon yang jebol dan menggantung, hingga struktur fisik bangunan lainnya.

Bahkan, terdapat satu ruangan yang sama sekali tidak dapat digunakan karena atapnya ambrol dan dipenuhi bongkahan balok kayu.

Kondisi ini dinilai sudah sangat tidak layak dan mengancam keselamatan kegiatan belajar mengajar (KBM).

Kepala SDN 2 Taman Endah, Suharni mengungkapkan, kerusakan bangunan di sekolahnya dirasakan semakin mengkhawatirkan sejak awal tahun 2024. 

"Sejak awal masuk tahun ajaran baru kemarin, wali murid yang mengantar anak-anaknya melihat langsung kondisi sekolah.

Anak-anak juga bilang kalau sekolahnya bolong-bolong. Memang sebenarnya sudah tidak layak pakai, tapi mau bagaimana lagi, tidak ada tempat lain sehingga terpaksa tetap digunakan," ujar Suharni, Rabu (29/7/2026).

Menyikapi ruang kelas yang rusak dan membahayakan keselamatan para murid, pihak sekolah mengambil langkah darurat dengan memberhentikan penggunaan kelas-kelas yang rusak tersebut dan mengalihkan proses KBM ke ruang kelas bagian depan.

Guna menampung seluruh siswa, pihak sekolah menerapkan sistem pembelajaran bergiliran atau shift.

"Ruang kelasnya ini setelah ada yang viral itu sudah tidak dipakai lagi. Akhirnya anak-anak untuk belajarnya pindah ke depan, dibuat shift-shift-an," terang salah satu pihak guru SDN 2 Taman Endah saat ditemui di lokasi sekolah.

Sistem shift tersebut mengatur jadwal masuk siswa Shift Pagi (masuk pukul 07.00 WIB): Diperuntukkan bagi siswa kelas 1, 2, 3, dan 6.

Siswa kelas 1 dan 2 dipulangkan pada pukul 10.00 WIB, kemudian disusul masuknya siswa kelas 4 dan 5 yang belajar hingga pukul 12.30 WIB.

Saat ini, kata Suharni, pihak sekolah hanya dapat mengoperasikan empat ruang belajar yang dinilai aman. 

Untuk menambah ketersediaan ruang belajar bagi para siswa, pihak sekolah bahkan merelakan ruang kantor guru untuk disulap menjadi ruang kelas sementara.

"Ruang kelas yang sekarang ada itu empat ruang.  Tapi yang satu itu tadinya ruang kantor, sekarang dijadikan untuk kelas. Kantornya pindah ke ruang yang rusak itu. Jadi kita guru malah berkorban berpindah ke ruang yang rusak," jelas guru tersebut.

Di sisi lain, Suharni mengatakan, upaya pembenahan secara mandiri yang dilakukan pihak sekolah sangat terbatas. 

Hal ini disebabkan minimnya alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah ( BOS ) yang diterima karena terbatasnya jumlah peserta didik di sekolah tersebut, yakni hanya berjumlah 68 siswa.

"Perbaikan dari sekolah sendiri sifatnya hanya yang ringan-ringan saja, karena dana BOS yang didapat sedikit sebanding dengan jumlah murid yang ada," tambah Suharni. ( Tribunlampung.co.id / Fajar Ihwani Sidiq )

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.