BANGKAPOS.COM--Salat merupakan salah satu ibadah paling utama dalam ajaran Islam.
Bahkan, salat kerap disebut sebagai tiang agama karena menjadi salah satu fondasi penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Dalam sebuah ungkapan yang masyhur di kalangan ulama disebutkan, siapa yang menegakkan salat berarti telah menegakkan agama, sedangkan siapa yang meninggalkannya berarti merobohkan agama.
Ungkapan tersebut menggambarkan betapa pentingnya kedudukan salat dalam kehidupan umat Islam.
Salat bukan hanya rutinitas ibadah yang dilakukan lima kali sehari. Lebih dari itu, salat menjadi sarana seorang hamba berkomunikasi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Salat juga menjadi salah satu amalan yang pertama kali diperhitungkan pada hari kiamat.
Karena itu, menjaga kualitas salat menjadi bagian penting dalam upaya memperbaiki kehidupan seorang Muslim.
Salah satu bagian dalam salat yang memiliki kedudukan istimewa adalah sujud.
Dalam posisi tersebut, seorang hamba menunjukkan ketundukan dan kerendahan diri di hadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa seorang hamba berada dalam posisi paling dekat dengan Tuhannya ketika sedang sujud.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa ketika berada dalam posisi tersebut.
Ketika melakukan sujud dalam salat, umat Islam dianjurkan membaca tasbih yang diajarkan Rasulullah SAW.
Berikut bacaan tasbih saat sujud:
Arab:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
Latin:
Subḥāna rabbiyal a‘lā.
Artinya:
"Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi."
Bacaan tersebut merupakan bentuk pengagungan kepada Allah SWT yang memiliki kedudukan Mahatinggi.
Dalam sebuah riwayat dari Uqbah bin Amir RA, ketika turun ayat tentang perintah menyucikan nama Allah Yang Mahatinggi, Rasulullah SAW mengajarkan agar kalimat tersebut dijadikan sebagai bacaan ketika sujud.
Rasulullah SAW diketahui membaca tasbih tersebut ketika sujud. Dalam praktiknya, bacaan tasbih sujud dapat diulang sebanyak tiga kali atau lebih sesuai tuntunan dan kemampuan.
Sujud menjadi salah satu momen yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa. Dalam posisi tersebut, seorang Muslim berada dalam keadaan tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT.
Karena itu, umat Islam dapat memanfaatkan waktu sujud untuk memohon berbagai kebaikan, baik yang berkaitan dengan kehidupan dunia maupun akhirat.
Doa dapat dipanjatkan untuk memohon ampunan, kesehatan, rezeki, keteguhan iman, perlindungan dari keburukan, maupun berbagai kebutuhan lainnya.
Syekh Ali Jaber rahimahullah pernah menjelaskan bahwa doa dapat dipanjatkan ketika sujud, baik pada sujud pertama, sujud kedua, maupun sujud terakhir.
Menurutnya, sebagian orang lebih memilih memperpanjang doa pada sujud terakhir karena khawatir terlalu lama berdoa di setiap sujud dapat membuat seseorang lupa jumlah rakaat.
Meski demikian, umat Islam tetap perlu memperhatikan ketentuan bacaan dalam salat dan mengikuti tuntunan yang sesuai dengan fikih yang dianut.
Salah satu doa yang populer diamalkan untuk memohon keteguhan iman adalah doa berikut:
Arab:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Latin:
Yā muqallibal qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.
Artinya:
"Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."
Doa tersebut mengandung permohonan agar Allah SWT memberikan keteguhan hati dalam menjalankan agama.
Maknanya menjadi sangat penting karena hati manusia dapat mengalami perubahan. Seorang Muslim memohon agar dirinya senantiasa diberikan kekuatan untuk tetap berada di jalan yang diridai Allah SWT.
Selain memohon keteguhan iman, terdapat pula doa yang berisi permohonan ampun kepada Allah SWT atas seluruh kesalahan dan dosa.
Berikut bacaannya:
Arab:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ
Latin:
Allahummaghfir lī dzanbī kullahū diqqahū wa jillahū wa awwalahū wa ākhirahū wa ‘alāniyatahū wa sirrahū.
Artinya:
"Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang terdahulu maupun yang kemudian, yang tampak maupun yang tersembunyi."
Doa ini berisi pengakuan seorang hamba atas kelemahan dirinya sekaligus permohonan agar seluruh kesalahan mendapatkan ampunan Allah SWT.
Umat Islam juga dapat memanjatkan doa yang berisi permohonan perlindungan dari murka dan siksa Allah SWT.
Arab:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Latin:
Allahumma innī a‘ūdzu biridhāka min sakhatik, wa a‘ūdzu bimu‘āfātika min ‘uqūbatik, wa a‘ūdzu bika minka, lā uḥṣī tsanā’an ‘alaik, anta kamā atsnaīta ‘alā nafsik.
Artinya:
"Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu. Aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari (azab)-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian bagi-Mu, Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri."
Doa tersebut mengajarkan seorang Muslim untuk selalu memohon perlindungan Allah SWT dan menyadari bahwa tidak ada kekuatan yang dapat menyelamatkan manusia selain pertolongan-Nya.
Ada pula doa yang berisi tasbih dan pujian kepada Allah SWT.
Arab:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Latin:
Subḥānaka Allāhumma wa biḥamdika lā ilāha illā anta.
Artinya:
"Maha Suci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Tidak ada Tuhan selain Engkau."
Bacaan tersebut mengandung pengakuan atas keesaan Allah SWT sekaligus pujian kepada-Nya.
Sujud tidak hanya menjadi bagian penting dalam pelaksanaan salat, tetapi juga merupakan bentuk ibadah dan ketundukan yang banyak disebutkan dalam Al-Qur'an.
Salah satunya terdapat dalam Surah Al-Hijr ayat 98:
Arab:
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ
Latin:
Fa sabbiḥ biḥamdi rabbika wa kun minas-sājidīn.
Artinya:
"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersujud."
Perintah untuk bersujud juga disebutkan dalam Surah Al-Furqan ayat 64:
Arab:
وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَٰمًا
Latin:
Wallażīna yabītūna lirabbihim sujjadan wa qiyāmā.
Artinya:
"Dan orang-orang yang menghabiskan malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka."
Sementara itu, dalam Surah Al-Insan ayat 26, Allah SWT berfirman:
Arab:
وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَٱسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا
Latin:
Wa minal-laili fasjud lahū wa sabbiḥhu lailan ṭawīlā.
Artinya:
"Dan pada sebagian malam, bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam yang panjang."
Ayat-ayat tersebut menunjukkan kedudukan sujud sebagai salah satu bentuk penghambaan manusia kepada Allah SWT.
Sujud, Saat Seorang Hamba Merendahkan Diri di Hadapan Allah
Sujud mengajarkan manusia untuk melepaskan kesombongan dan mengakui bahwa dirinya hanyalah seorang hamba di hadapan Allah SWT.
Ketika dahi menyentuh tempat sujud, seorang Muslim berada dalam posisi yang menggambarkan ketundukan secara sempurna.
Pada saat yang sama, momen tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memperbanyak doa dan memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Karena itu, salat dan sujud seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan memahami makna setiap bacaan dan gerakan salat, seorang Muslim diharapkan dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk dan penuh kesadaran.
Sujud menjadi pengingat bahwa setinggi apa pun kedudukan seseorang di dunia, pada akhirnya manusia tetaplah seorang hamba yang membutuhkan pertolongan dan ampunan Allah SWT.
(Bangkapos.com/Zulkodri)