Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Minimnya alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) ber dampak serius terhadap pemeliharaan fasilitas pendidikan di SDN 2 Taman Endah, Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur.
Baca juga: Mengkhawatirkan sejak 2024, Ruang Kelas SD di Lampung Atapnya Ambrol Penuh Bongkahan Balok Kayu
Akibat anggaran yang terbatas lantaran hanya memiliki 68 peserta didik, sedikitnya enam ruang kelas di sekolah tersebut kini mengalami kerusakan parah dan membahayakan keselamatan siswa.
Kerusakan fisik bangunan menjalar mulai dari jendela, plafon jebol yang menggantung, hingga struktur atap salah satu ruangan yang ambrol total dipenuhi bongkahan balok kayu.
Kepala SDN 2 Taman Endah, Suharni, mengungkapkan bahwa perbaikan mandiri oleh sekolah sulit dilakukan secara maksimal.
Dana BOS yang diterima sebanding dengan jumlah murid yang sedikit, sehingga hanya cukup untuk pemeliharaan skala ringan.
"Perbaikan dari sekolah sendiri sifatnya hanya yang ringan-ringan saja, karena dana BOS yang didapat sedikit sebanding dengan jumlah murid yang ada," terang Suharni, Rabu (29/7/2026).
Suharni menambahkan, kondisi memprihatinkan ini terus memburuk sejak awal tahun 2024.
Pihaknya kerap menerima keluhan dari wali murid maupun para siswa yang merasa cemas saat mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).
"Memang sebenarnya sudah tidak layak pakai, tapi mau bagaimana lagi, tidak ada tempat lain sehingga terpaksa tetap digunakan," tambahnya.
Guna mengantisipasi potensi bahaya atap roboh, pihak sekolah akhirnya mengambil langkah darurat dengan menghentikan total penggunaan enam kelas yang rusak.
KBM dialihkan sepenuhnya ke empat ruang yang dinilai masih aman di bagian depan.
Lantaran krisis ruang belajar, pihak sekolah menerapkan sistem pembelajaran bergiliran (shift):
Tak hanya merombak jam belajar, para guru bahkan merelakan ruang kantor mereka disulap menjadi ruang kelas sementara demi menampung para siswa.
Para tenaga pengajar memilih mengalah dan berpindah ke area bangunan yang rusak.
"Ruang kelas yang sekarang ada itu empat ruang. Tapi yang satu itu tadinya ruang kantor, sekarang dijadikan untuk kelas."
"Kantornya pindah ke ruang yang rusak itu. Jadi kita guru malah berkorban berpindah ke ruang yang rusak," ungkap seorang guru di lokasi.
( Tribunlampung.co.id / Fajar Ihwani Sidiq )