Football Today
·29 Juli 2026
Football Today
·29 Juli 2026
Pengumuman terbaru FIFA mengenai rencana menjual hak komersial atas turnamen-turnamennya kepada investor swasta langsung memicu reaksi keras yang tak terelakkan.
UEFA menuduh FIFA ‘mencoba menjual jiwa sepak bola’, sementara sejumlah pemangku kepentingan lain secara tertutup juga mengkritik usulan tersebut.
Badan pengatur itu dilaporkan tengah berkoordinasi dengan bank Amerika Serikat JP Morgan dan Thrive Capital, perusahaan investasi yang didirikan Joshua Kushner.
Ia adalah saudara dari menantu presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jared Kushner, yang memunculkan lebih banyak pertanyaan soal langkah yang diusulkan itu.
FIFA mengklaim entitas baru ini akan memungkinkannya meningkatkan dana yang diberikan kepada masing-masing dari 211 asosiasi anggotanya dari $8 juta menjadi $20 juta per tahun.
Dalam beberapa bulan terakhir, UEFA semakin keras mengkritik presiden FIFA Gianni Infantino. Mereka mengatakan bahwa ‘jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperjualbelikan’.
Usulan ini menjadi kelanjutan dari rangkaian panjang kontroversi, skandal, dan korupsi yang telah mencoreng tata kelola FIFA atas olahraga ini.
Pertumbuhan sepak bola dunia menjelang akhir abad ke-20 membawa pemasukan yang jauh lebih besar ke kas FIFA.
Lebih banyak uang dari hak pemasaran dan siaran memunculkan tuduhan suap serta pertukaran suara untuk mengamankan tuan rumah Piala Dunia.
Presiden Joao Havelange kemudian terseret dalam berbagai kasus penipuan dan penyuapan, yang menimbulkan bayang-bayang kelam atas masa jabatannya di FIFA.
Penunjukan Sepp Blatter pada 1998 tidak mengubah pandangan bahwa orang-orang yang ditugaskan mengatur sepak bola adalah pihak yang korup.
Situasi itu mencapai puncaknya pada 2015 ketika Departemen Kehakiman Amerika Serikat mendakwa 14 terdakwa dalam operasi pemerasan, penipuan transfer dana, dan pencucian uang yang meluas.
Blatter akhirnya mundur, dan FIFA berjanji melakukan reformasi. Menariknya, sementara pejabat lain dihukum dan dipenjara, ia pada akhirnya dinyatakan tidak bersalah.
FIFA memberikan Piala Dunia 2018 kepada Rusia dan edisi 2022 kepada Qatar. Tuduhan korupsi mencoreng kedua turnamen tersebut.
Penyelidikan berikutnya mengungkap bahwa enam anggota komite eksekutif FIFA telah diskors sebelum pemungutan suara setelah ditawari uang sebagai imbalan atas suara mereka.
Proses pencalonan untuk turnamen 2030 dibatalkan tiga tahun lalu setelah negara-negara yang bersaing menjadi tuan rumah di tiga benua sepakat untuk berbagi penyelenggaraan.
FIFA dengan cepat mengumumkan aturan baru untuk persaingan pencalonan 2034 yang membuat negara lain mustahil menyaingi Arab Saudi.
Badan pengatur itu kemudian menandatangani kemitraan yang sangat menguntungkan dengan perusahaan minyak milik negara Arab Saudi, Aramco.
Setelah berjanji membawa reformasi, transparansi, dan akuntabilitas saat diangkat, Infantino belum menepati janji-janji itu.
Turnamen Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 yang diperluas banyak dikritik karena dianggap sebagai tambahan yang tidak perlu di kalender sepak bola yang sudah padat.
Kontroversi atas kompetisi itu makin memanas ketika Infantino mempercepat masuknya Inter Miami ke daftar peserta setelah mereka finis di puncak klasemen Major Soccer League (MLS).
Keputusannya dengan mudah mengabaikan fakta bahwa gelar MLS ditentukan melalui play-off, bukan oleh tim yang berada di puncak klasemen pada akhir musim reguler.
Langkah itu dirancang untuk memastikan superstar Argentina Lionel Messi bisa bermain di Piala Dunia. Juara akhir MLS, Los Angeles Galaxy, tidak menerima undangan.
Miami melaju ke babak gugur kompetisi sebelum dihancurkan oleh finalis eventual Paris Saint-Germain pada babak 16 besar.
Setelah menciptakan preseden lewat perlakuan istimewanya kepada mantan bintang Barcelona itu, Infantino belakangan justru menggandakan sikapnya yang penuh omong kosong skandal dalam beberapa bulan terakhir.
Tidak puas hanya memberi Messi jalan mudah ke Piala Dunia Antarklub, Infantino memutuskan bahwa ia tak sanggup menerima Cristiano Ronaldo absen dari Piala Dunia musim panas ini.
Ronaldo diusir dalam laga kualifikasi melawan Republik Irlandia pada November lalu, yang seharusnya membuatnya absen pada fase awal turnamen.
Namun, FIFA secara kontroversial merobek buku aturannya untuk menangguhkan sebagian hukumannya, sehingga ia bisa tampil untuk Portugal di Amerika Utara.
Penganugerahan ‘FIFA peace prize’ kepada Trump menjadi titik rendah lain bagi organisasi yang tampaknya terus menembak kakinya sendiri.
Harga tiket yang selangit, pembatalan kartu merah Folarin Balogun, perlakuan buruk Iran, dan larangan terhadap wasit asal Somalia menambah bayangan kelam atas turnamen itu.
Ketidakmampuan FIFA untuk menghindari korupsi, skandal, dan kontroversi terus menjadi sisi paling negatif dari ekosistem sepak bola global.