300 Ha Sawah di Handil Negara Tala Terancam Gagal Panen, Wisata Sungai HSU Juga Terdampak Kekeringan
Irfani Rahman July 30, 2026 07:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI- Musim kemarau yang melanda wilayah Tanahlaut (Tala), mulai menimbulkan dampak serius terhadap sektor pertanian. Sejumlah areal persawahan di Kecamatan Kurau dan Bumi Makmur saat ini mulai mengalami kekeringan.

Sebagian permukaan sawah mulai pecah-pecah akibat tidak lagi mendapat pasokan air.

Salah satu wilayah yang terdampak kemarau saat ini yakni di Desa Handil Negara, Kecamatan Kurau.

Hamparan sawah yang sebelumnya hijau kini mulai mengering. Retakan-retakan tanah terlihat di sejumlah petak sawah. Sementara itu tanaman padi mulai menunjukkan tanda-tanda terganggunya pertumbuhan.

Kepala Desa Handil Negara Supian Sauri yang juga seorang petani saat dikonfirmasi, Rabu (29/7), membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, hampir seluruh lahan pertanian di desanya kini mulai mengalami kekeringan. Varietas yang dibudidayakan yakni padi tahun (lokal) berumur panjang.

Baca juga: Polisi Lakukan Pra Rekonstruksi Kasus Dugaan Perbuatan Tak Pantas Mantan Pejabat Kemenag Tanahlaut

Baca juga: Sakit Hati Sering Diejek, Lansia di Banjar Kalsel Bunuh Tetangga Rekayasa Korban Seolah Gantung Diri

Ia menyebutkan, luas sawah di Desa Handil Negara mencapai sekitar 300 hektare. Dari jumlah tersebut, sebagian besar kini terdampak kekeringan.

Yang paling mengkhawatirkan, kata Supian, mayoritas tanaman padi saat ini berada pada fase menjelang berbunga hingga baru mulai berbunga, sehingga sangat membutuhkan pasokan air.

“Kalau dalam waktu dekat tidak ada hujan atau suplai air, kami memperkirakan sekitar 90 persen tanaman padi bisa rusak atau bahkan gagal panen,” katanya.

Ancaman serupa juga dirasakan petani di Banjarbaru. Sekretaris Dinas Ketahanan Pengan, Pertanian dan Perikanan, Wiwin, mengatakan para petani di Banjarbaru mulai mengeluhkan kesusahan air dampak dari musim kemarau.

Menurut laporan, kata Wiwin Robiaty, di Kecamatan Cempaka, Kelurahan Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin, dan Landasan Ulin Utara Kecamatan Lianganggang yang cukup terdampak kekeringan ini.

Wilayah Cempaka lebih banyak petani padi, sementara untuk dua wilayah lainnya seperti Landasanulin dan Lianganggang lebih banyak petani sayuran atau hurtikultora.

“Karena untuk Cempaka kan kita lebih fokus ke lahan sawahnya, kemudian untuk lahan di landasan Ulin Utara dan Syamsudin Noor adalah lahan hortikultura,” ujarnya.

Menghadapi kekeringan, DKP3 disebut melakukan langkah-langkah mulai dari penetaan wilayah pertanian yang terdampak kekeringan dan memerlukan air.

“Kita bisa meminjam pompa air, kemudian kita mengatur jarak tanam. Seperti contohnya kalau kita di tanaman padi, kita bisa merekomendasikan jenis bibit padi yang memang tahan terhadap kondisi kemarau” ujarnya.

Pihaknya juga menyarankan kepada para petani untuk mempercepat masa tanam untuk mengantisipasi kekeringan.

Puncak musim kemarau juga membuat banyak lahan rawa mengering. Selain itu juga sungai yang surut sehingga aktivitas masyarakat yang biasanya menggunakan aliran sungai kini tak bisa lagi.

Seperti aliran sungai yang ada di Desa Pulau Damar, Banjang, Hulu Sungai Utara (HSU) kini menjadi kering dan perahu tidak bisa melintas. Padahal biasanya banyaknya pengunjung ke Desa Pulau Damar untuk melihat kerbau rawa dimanfaatkan warga untuk menambah wisata susur rawa melewati sungai.

Sania pemilik kerbau rawa mengatakan karena rawa surur dan aliran sungai juga mengering sehingga pemilik kapal tidak bisa lagi mengantar pengunjung.

“Padahal biasanya pengunjung cukup banyak yang susur rawa, sementara perahu diletakkan di dekat sungai nantinya saat air kembali naik bisa digunakan kembali,” ujarnya.

Terpisah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi (Satklim) Kelas I Kalsel memprediksi puncak musim kemarau di wilayah Kalsel akan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Pengelolaan Data dan Informasi Staklim Kalsel, Wiji Cahyadi, mengatakan berdasarkan prediksi BMKG, pada Agustus 2026 puncak musim kemarau diperkirakan terjadi di 1 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 8,3 persen wilayah Kalsel, yang meliputi Kabupaten Tabalong bagian utara.

Selanjutnya, pada September 2026, puncak musim kemarau diperkirakan meluas hingga mencakup 11 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 91,7 persen wilayah Kalsel, meliputi seluruh wilayah provinsi, kecuali Kabupaten Tabalong bagian utara. (riz/roy/nia)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.