Oleh : Bruder Pio Hayon SVD
POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Hari Kamis Biasa Pekan XVII– 30 Juli 2026 dari Bruder Pio Hayon SVD berjudul “Seumpama pukat”.
Renungan Harian Katolik Bruder Pio Hayon SVD merujuk pada Bacaan I : 1Yer. 18: 1-6
Injil: Mat. 13: 47-53.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Hidup manusia sering digambarkan dengan simbol-simbol sederhana namun penuh makna.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 29 Juli 2026, Tetap Percaya Walau Tuhan Terasa Terlambat
Hari ini Yesus menggunakan gambaran pukat—alat penangkap ikan—untuk menjelaskan Kerajaan Surga. Sama seperti pukat yang menjaring segala jenis ikan, demikianlah Kerajaan Allah merangkul semua orang tanpa kecuali.
Namun, pada akhirnya akan ada pemisahan antara yang baik dan yang jahat. Bacaan dari Yeremia juga menegaskan bahwa Allah adalah seperti tukang periuk yang membentuk tanah liat sesuai kehendak-Nya. Hidup kita ada dalam tangan Allah, dan Ia berhak membentuk kita menjadi ciptaan yang berguna.
Saudara-saudari terkasih.
Dalam bacaan ini (Yer. 18:1-6), Allah digambarkan sebagai tukang periuk yang membentuk tanah liat. Makna yang lebih dalam adalah bahwa hidup kita bukan sekadar hasil usaha pribadi, melainkan karya Allah yang terus-menerus membentuk kita melalui pengalaman, tantangan, dan rahmat-Nya.
Tanah liat yang rusak bisa dibentuk kembali—ini menegaskan bahwa Allah selalu memberi kesempatan kedua. Dan dalam Injil (Mat. 13:47-53), pukat yang menjaring segala jenis ikan menunjukkan bahwa Kerajaan Allah bersifat universal.
Namun, pemisahan ikan baik dan buruk menegaskan adanya dimensi eskatologis: pada akhir zaman, Allah akan menilai setiap orang berdasarkan buah hidupnya. Makna mendalamnya adalah panggilan untuk hidup otentik, bukan sekadar menjadi bagian dari jaring, tetapi sungguh menjadi “ikan baik” yang berkenan di hadapan Allah. Poin refleksi kita adalah “Allah yang membentuk hidup kita”: Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, kita dipanggil untuk membiarkan Allah membentuk karakter, hati, dan tindakan kita. Kerap kali kita ingin menentukan arah sendiri, tetapi hanya Allah yang tahu bentuk terbaik bagi kita.
“Kerajaan Allah merangkul semua orang”: Pukat menjaring segala jenis ikan: besar, kecil, baik, buruk. Demikianlah Allah tidak membeda-bedakan siapa pun. Gereja pun dipanggil untuk menjadi rumah bagi semua orang, tanpa diskriminasi.
“Akhir hidup adalah saat pemisahan”: Gambaran pemisahan ikan baik dan buruk mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang sekarang, tetapi juga tentang akhir. Pilihan dan tindakan kita setiap hari menentukan apakah kita akan termasuk “ikan baik” yang layak bagi Kerajaan Allah.
Saudara-saudari terkasih,
Pesan untuk kita, pertama, Allah adalah tukang periuk yang membentuk kita dengan kasih.
Kedua, kerajaan Allah merangkul semua orang, tetapi pada akhirnya ada pemisahan berdasarkan kesetiaan.
Ketiga, hidup kita harus diarahkan untuk menjadi “ikan baik” yang berkenan di hadapan-Nya. Tuhan memberkati kita. (*)