Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Universitas Indonesia (UI) kembali mengukir sumbangsih penting dalam ranah sejarah politik-budaya kontemporer dunia melalui temuan riset terbaru dari akademisinya, Adhitya M. Maheswara.
Melalui kajian ilmiahnya, Adhitya mengungkap bagaimana pemerintah Amerika Serikat di bawah pimpinan Presiden George W. Bush secara sistematis mengorkestrasi agenda Perang Melawan Teror (War on Terror) menggunakan media hiburan pasca-tragedi 11 September 2001.
"Pemerintah dan militer Amerika Serikat terbukti memanfaatkan trauma kolektif masyarakat serta hubungan jangka panjang dengan industri budaya populer untuk menyebarluaskan narasi politik tertentu," terang Adhitya dalam keterangannya, dikutip Kamis (30/7/2026).
Baca juga: Bikin Naik Kereta Makin Nyaman, Mahasiswa UI Ciptakan Teknologi AC Hemat Energi
Ia membuktikan bahwa produk budaya populer, mulai dari film-film garapan Hollywood hingga gim video militeristik, bekerja secara efektif sebagai instrumen propaganda geopolitik yang sangat canggih.
Strategi pembingkaian media ini sengaja dibangun untuk mengaitkan secara erat antara Serangan 9/11, sosok Osama bin Laden, Saddam Hussein, urgensi invasi ke Irak, serta isu krusial mengenai kepemilikan senjata pemusnah massal.
Pemanfaatan trauma kolektif tersebut bertujuan untuk memobilisasi dukungan publik, baik di tingkat domestik maupun internasional, atas intervensi militer AS di Afghanistan dan Irak.
Riset mendalam ini juga membedah lahirnya fenomena militainment, yaitu perpaduan erat antara industri hiburan (entertainment) dan kekuatan militerisme (militarism).
Dengan menggabungkan teknik propaganda Randal Marlin, teori representasi Stuart Hall, serta memori kolektif Maurice Halbwachs, riset ini memperlihatkan cara industri hiburan membakar semangat patriotik warga demi melegitimasi agresi militer.
"Fenomena militainment ini secara masif telah mendikte arus persepsi publik global, yang berimbas langsung pada pembentukan citra dan stigma destruktif terhadap umat Muslim serta dunia Arab," ungkap sang peneliti.
Di tengah gempuran giga-informasi saat ini, hasil penelitian tersebut hadir memberi dorongan krusial bagi peningkatan literasi media masyarakat agar makin kritis terhadap narasi yang disajikan oleh produk media global.
Melalui pemahaman atas agenda geopolitik yang tersembunyi di balik media hiburan, publik diajak membongkar bias terselubung sekaligus mengikis stereotip destruktif dalam dinamika politik internasional.
Adhitya berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Strategi Pemerintah Amerika Serikat dalam Pembingkaian Agenda Perang Melawan Teror Pasca-Serangan 9/11 (2001-2010)” dan meraih gelar Doktor dengan predikat "Sangat Memuaskan".
Keberhasilan ini menobatkan Adhitya sebagai lulusan Doktor ke-497 FIB UI sekaligus mempertegas komitmen Universitas Indonesia dalam melahirkan penelitian-penelitian kritis berkelas dunia. (m38)
--