TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Manajemen PSIM Yogyakarta mengajak seluruh suporter memenuhi stadion pada setiap laga kandang Laskar Mataram di Super League 2026/2027.
Dukungan langsung dari tribun dinilai tidak hanya memberikan semangat bagi pemain, tetapi juga berdampak besar terhadap kondisi finansial klub, termasuk membuka peluang mendatangkan pemain baru pada paruh musim.
Ajakan tersebut mendapat respons dari kelompok suporter The Maident.
Ketua Umum The Maident, Rendy Agung Prasetya, menegaskan pihaknya mendukung penuh langkah manajemen untuk menggerakkan suporter agar hadir langsung ke stadion.
“Pada prinsipnya, The Maident mendukung penuh ajakan untuk memenuhi stadion pada setiap pertandingan musim ini. Stadion yang penuh bukan hanya menjadi penyemangat bagi para pemain di lapangan, tetapi juga menunjukkan besarnya dukungan suporter terhadap perkembangan klub,” kata Rendy kepada Tribun Jogja, Kamis (30/7/2026).
Ia berharap seluruh elemen suporter dapat bersama-sama menciptakan atmosfer pertandingan yang positif, tertib, dan kondusif sehingga semakin banyak masyarakat merasa nyaman datang ke stadion.
“Jika dukungan suporter yang tinggi dapat berdampak pada peningkatan kualitas tim, termasuk peluang belanja pemain di paruh musim, tentu itu menjadi motivasi bersama untuk terus memenuhi stadion. Mari kita buktikan bahwa dukungan terbaik untuk klub bukan hanya lewat nyanyian di tribun, tetapi juga dengan hadir langsung dan memenuhi stadion di setiap laga,” ujarnya.
Baca juga: Daftar 9 Pemain Asing PSIM Yogyakarta untuk Super League 2026/2027, Ada Striker Anyar dari Spanyol
Sebelumnya, Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Yuliana Tasno, mengungkapkan pentingnya menyiapkan anggaran cadangan untuk kebutuhan tim pada putaran kedua kompetisi.
Menurutnya, dana tersebut diperlukan agar manajemen memiliki ruang untuk memperkuat skuad jika dibutuhkan.
Liana, sapaan akrab Yuliana, menjelaskan dalam dunia sepak bola selalu ada kemungkinan pemain yang direkrut tidak sesuai harapan.
Meski demikian, PSIM Yogyakarta tetap berkomitmen menjaga integritas dengan menghormati kontrak para pemain.
“Ini biasa di sepak bola, ada pemain yang enggak cocok sama PSIM. Tapi PSIM harus menjaga integritas dan menghormati kontrak yang sudah ada. Ketika pemain belum memberikan kontribusi, ya pasti ada rasa kecewa. Tapi bagaimanapun juga kita harus menghormati kontrak yang ada,” ujarnya.
Menurut Liana, kondisi tersebut membuat klub tetap harus memenuhi kewajiban kontrak, termasuk jika harus memberikan kompensasi kepada pemain.
Karena itu, ia menilai setiap klub idealnya memiliki anggaran khusus yang disiapkan untuk putaran kedua.
“Kalau ditanya ideal, memang di putaran kedua harus ada budget spare sendiri. Jadi intinya begini, tolong suporter penuhi stadion PSIM. Karena itu kontribusinya besar sekali untuk nanti di paruh musim, misalnya kalau kita perlu beli pemain baru,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa dukungan kepada klub tidak hanya diwujudkan melalui kritik, tetapi juga dengan membeli tiket dan memenuhi stadion saat pertandingan kandang.
Menurutnya, pemasukan dari penjualan tiket menjadi salah satu penopang penting kesehatan finansial klub.
Liana turut berkaca pada pengalaman musim lalu ketika PSIM Yogyakarta tampil melampaui ekspektasi dan mampu bersaing di papan atas klasemen.
Situasi tersebut membuat anggaran yang telah disusun sejak awal musim harus disesuaikan agar operasional klub tetap berjalan hingga kompetisi berakhir.
“Daripada nanti di akhir musim saya enggak bisa bayar gaji pemain, itu kan enggak baik. Sebagai dirut, saya harus memastikan semuanya terhitung dengan presisi,” tuturnya.
Karena itu, ia kembali menegaskan bahwa dukungan suporter melalui kehadiran di stadion memiliki arti penting bagi keberlangsungan klub.
Selain menjaga stabilitas finansial, tingginya penjualan tiket juga dapat menjadi modal bagi PSIM untuk menambah amunisi pada paruh kedua Super League 2026/2027 apabila diperlukan.
“Jadi idealnya memang harus ada spare budget di paruh kedua untuk penambahan pemain. Tolong stadion PSIM diramaikan, karena menyeimbangkan kebutuhan internal klub di Liga 1 itu tidak mudah. Kebutuhan PSIM di Liga 1 sangat banyak,” pungkasnya. (*)