Kemarau Tahun Ini Berbeda dan Lebih Lama, BMKG Ungkap Masa Paling Rawan
Acos Abdul Qodir July 30, 2026 04:17 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau 2026 berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibanding kondisi normal. BMKG juga mengingatkan masa paling rawan kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) berlangsung hingga akhir September.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mencapai puncak musim kemarau pada Agustus dan September.

"Sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang di bawah normal atau lebih kering, dan juga mengalami durasi yang lebih panjang dari normalnya," ujar Ardhasena dalam konferensi pers, Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Hingga akhir Juli, BMKG mencatat 509 zona musim atau 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Sebarannya meliputi kawasan selatan khatulistiwa, sebagian Kalimantan Timur, mayoritas Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua.

Agustus-September Jadi Masa Paling Rawan

BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus di sekitar 48,8 persen wilayah Indonesia, disusul September yang mencakup 25 persen wilayah.

Menurut BMKG, masa mulai sekarang hingga akhir September menjadi waktu paling rawan karena risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan meningkat.

"Jadi bulan-bulan krisis krusial adalah mulai saat ini bulan Juni hingga akhir bulan September tahun 2026," tegas Ardhasena.

Baca juga: Antrean BBM di Aceh Tenggara Mengular, Sejumlah SPBU Sampai Kehabisan Stok

El Nino Masih Bertahan hingga Awal 2027

BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan musim kemarau dengan fenomena El Nino.

Musim kemarau merupakan siklus iklim tahunan di Indonesia, sedangkan El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang memengaruhi pola iklim global.

"Jadi El Nino-nya masih berlangsung hingga awal tahun 2027, tetapi dampaknya di kita itu selesai mulai pertengahan bulan Oktober lalu berlanjut ke November," jelas Ardhasena.

Artinya, meski El Nino diperkirakan bertahan hingga awal 2027, dampaknya terhadap penurunan curah hujan di Indonesia diproyeksikan mulai mereda seiring datangnya musim hujan pada Oktober hingga November.

Baca juga: Warga Pangandaran Dihantui Kenaikan Harga Sembako karena Kemarau, Beras di Pasar Berasal dari Luar

BMKG Minta Sektor Vital Bersiap

BMKG meminta sektor pertanian, pengelola sumber daya air, dan layanan kesehatan menyiapkan langkah antisipasi menghadapi kemarau yang lebih panjang dan lebih kering.

Petani diimbau memilih varietas tanaman hemat air. Pengelola sumber daya air diminta mengoptimalkan cadangan air di waduk.

Sementara, sektor kesehatan diminta mewaspadai penurunan kualitas udara akibat potensi kebakaran hutan dan lahan.

 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.