Menteri Bappenas : Pelabuhan Paciran Lamongan Berpeluang Jadi Kelas Dunia
Titis Jati Permata July 30, 2026 04:32 PM

 

SURYA.co.id, LAMONGAN – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmad Pambudy, menilai Pelabuhan Paciran di Kabupaten Lamongan memiliki peluang besar berkembang menjadi pelabuhan bertaraf internasional.

Namun, potensi tersebut harus diiringi percepatan pembangunan infrastruktur pendukung agar kawasan pelabuhan mampu menjadi pusat logistik dan industri baru di Jawa Timur.

Penilaian itu disampaikan Rachmad saat meninjau kawasan Pelabuhan Lamongan Integrated Shorebase (LIS) dan mendengarkan paparan dari Pemerintah Kabupaten Lamongan serta manajemen PT LIS, Kamis (30/7/2026).

Infrastruktur Jadi Kunci Pengembangan

Rachmad mengatakan, setelah menerima paparan dari Bupati Lamongan di Kantor Bappenas beberapa waktu lalu dan melihat langsung kondisi di lapangan, ia menilai tantangan utama pengembangan pelabuhan berada pada aspek konektivitas.

Baca juga: Perbaikan Jalan Suprapto Lamongan Mulai Hari Ini, Cek Rekayasa Lalu Lintasnya

Menurutnya, keberadaan pelabuhan modern harus ditopang jaringan transportasi yang memadai, mulai dari pelebaran Jalan Daendels, pembangunan jalan baru, hingga opsi pembangunan jalan tol layang menuju kawasan pelabuhan.

"Hasil kunjungan ini akan saya bawa ke Jakarta sebagai bahan pembahasan. Ada banyak hal yang perlu mendapat perhatian agar pengembangan kawasan pelabuhan ini dapat berjalan lebih optimal," ujar Rachmad.

Bandingkan dengan Pelabuhan Hamburg

Rachmad mengaku sempat memiliki persepsi bahwa Lamongan merupakan daerah yang belum berkembang. Namun pandangannya berubah setelah melihat langsung fasilitas Pelabuhan Paciran.

Ia bahkan membandingkan potensi pelabuhan tersebut dengan Pelabuhan Hamburg di Jerman, yang dikenal sebagai salah satu pelabuhan terbesar dan tertua di dunia.

"Saya baru saja mengunjungi Pelabuhan Hamburg. Setelah melihat langsung fasilitas di Paciran, saya menilai pelabuhan ini memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi pelabuhan bertaraf dunia," katanya.

Selain sistem operasional, ia juga mengapresiasi standar keamanan pelabuhan, prosedur penanganan keadaan darurat, keberadaan breakwater (pemecah gelombang), serta kedalaman alur pelayaran yang dinilai mampu melayani kapal-kapal berukuran besar.

Rachmad juga mendorong pemerintah daerah dan pengelola pelabuhan mempelajari pengelolaan pelabuhan internasional, termasuk melalui studi ke Hamburg sebagai referensi pengembangan.

Minta Kawasan Industri Disiapkan Sejak Sekarang

Menurut Rachmad, pengembangan kawasan pelabuhan tidak boleh hanya berorientasi pada aktivitas bongkar muat. Pemerintah juga perlu menyiapkan kawasan industri di sekitarnya agar aktivitas ekonomi tumbuh secara terintegrasi.

Ia mengingatkan agar rencana perluasan kawasan dilakukan sejak dini sehingga tidak terkendala perkembangan permukiman di masa mendatang.

"Jika ekosistem kawasan pelabuhan dapat dikembangkan secara terpadu, Lamongan berpeluang memiliki model pembangunan berbasis pelabuhan bertaraf internasional yang dapat menjadi contoh bagi daerah lain," ujarnya.

PT LIS Siapkan Pelabuhan untuk Kapal Besar

Direktur PT Lamongan Integrated Shorebase (LIS), Bambang Djoko Sulistiyo, menjelaskan perusahaan saat ini mengelola lahan sekitar 160 hektare dengan konsesi pengelolaan pelabuhan selama 72 tahun di area seluas sekitar 33,8 hektare.

"Komposisi kepemilikan saham PT LIS saat ini terdiri atas 55 persen Pemerintah Kabupaten Lamongan dan 45 persen mitra perusahaan. Sinergi ini menjadi modal penting dalam pengembangan pelabuhan sebagai gerbang logistik nasional," kata Bambang.

Ia menjelaskan, Pelabuhan LIS memiliki kedalaman alur mencapai 13,5 meter sehingga mampu disandari kapal hingga sekitar 60 ribu ton.

Dermaga sepanjang 300 meter juga masih dapat diperpanjang hingga 500 meter.

Menurutnya, kapasitas tersebut menjadikan Pelabuhan LIS berpotensi menjadi alternatif aktivitas ekspor-impor yang selama ini masih terpusat di Surabaya.

"Fasilitas yang kami miliki memungkinkan kapal-kapal berukuran besar bersandar sehingga proses bongkar muat dapat berlangsung lebih cepat dan efisien," ujarnya.

Meski demikian, Bambang menegaskan pengembangan pelabuhan harus diimbangi peningkatan akses transportasi menuju kawasan industri.

"Jalan Daendels saat ini sudah cukup padat. Karena itu diperlukan jalur radial maupun akses jalan baru yang menghubungkan pelabuhan dengan kawasan hinterland Lamongan hingga Mojokerto. Jika konektivitas semakin baik, distribusi logistik akan lebih cepat dan biaya transportasi dapat ditekan," tambahnya.

Pemkab Lamongan Minta Dukungan Pemerintah Pusat

Sementara itu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan Pelabuhan LIS merupakan salah satu penggerak utama pengembangan kawasan industri di pesisir utara Lamongan.

Karena itu, pemerintah daerah terus mengidentifikasi berbagai kebutuhan infrastruktur yang perlu diperkuat agar kawasan industri Paciran mampu berkembang lebih pesat.

"Kami melihat masih ada sejumlah kebutuhan strategis yang perlu mendapat dukungan pemerintah pusat. Penguatan infrastruktur sangat penting agar kapasitas kawasan industri Paciran dapat terus berkembang," ujar Yuhronur.

Ia optimistis, dengan dukungan konektivitas dan infrastruktur yang memadai, kawasan industri Paciran dapat tumbuh menjadi pusat investasi baru di Jawa Timur serta mampu bersaing dengan kawasan industri di Gresik maupun Surabaya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.