Jepang Buka Peluang Besar, Jawa Tengah Bidik 6.800 Pekerja Migran pada 2026
Delta Lidina July 30, 2026 05:15 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM, SUKOHARJO - Kebutuhan tenaga kerja di Jepang, khususnya pada sektor industri kehutanan dan pengolahan kayu, dinilai masih sangat tinggi. 

Kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi calon pekerja migran asal Indonesia, termasuk dari Jawa Tengah, asalkan memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri dan kemampuan berbahasa Jepang.

Peluang tersebut mengemuka dalam International Workshop Japanese Forestry Industry and Business yang digelar di Gedung Hartono Trade Center (HTC) Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo, Rabu (29/7/2026). 

Workshop menghadirkan pelaku industri dari Jepang, akademisi, perguruan tinggi, sekolah, hingga pelaku usaha pengolahan kayu di Jawa Tengah untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kesiapan sumber daya manusia Indonesia.

Kepala Balai Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Tengah, Dewi Ariani, mengatakan pemerintah kini tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah penempatan pekerja migran, tetapi juga membangun ekosistem tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai standar internasional.

Menurutnya, pemerintah menargetkan penempatan sebanyak 500.000 pekerja migran Indonesia ke berbagai negara selama periode 2026 hingga 2029. 

Target tersebut dilakukan secara bertahap, dimulai dengan 40.000 pekerja pada 2026, meningkat menjadi 140.000 orang pada 2027, kemudian 180.000 orang pada 2028, dan 160.000 pekerja pada 2029.

TENAGA KERJA SUKOHARJO - Workshop Japanese Forestry Industry and Business yang digelar di Gedung Hartono Trade Center (HTC) Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo, Rabu (29/7/2026) kemarin.
TENAGA KERJA SUKOHARJO - Workshop Japanese Forestry Industry and Business yang digelar di Gedung Hartono Trade Center (HTC) Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo, Rabu (29/7/2026) kemarin. (TribunSolo/Anang Ma'ruf)

Khusus Jawa Tengah, BP3MI mendapat target penempatan sekitar 6.800 pekerja migran sepanjang 2026. 

Target tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses lapangan kerja luar negeri sekaligus meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia.

Dewi menjelaskan, proses penempatan tidak hanya mengandalkan banyaknya calon pekerja, tetapi juga harus diawali dengan pemetaan kompetensi yang sesuai kebutuhan pasar internasional.

 Melalui langkah tersebut, pemerintah berharap penempatan tenaga kerja menjadi lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
"Potensi tenaga kerja di dalam negeri harus dipetakan dengan baik agar sesuai dengan kebutuhan industri di berbagai negara. Dengan begitu, peluang kerja bisa dimanfaatkan secara maksimal sekaligus meningkatkan daya saing pekerja Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Manager Executive Officer Haseman Jepang, Yasunori Yamauchi, menyampaikan bahwa industri pengolahan kayu di Jepang masih menghadapi kekurangan tenaga kerja.

Kondisi tersebut membuka kesempatan bagi pekerja asal Indonesia untuk mengisi berbagai posisi di sektor tersebut.

Ia menilai pekerja Indonesia memiliki etos kerja yang baik. 

"untuk dapat bersaing dan beradaptasi di lingkungan kerja Jepang, calon pekerja perlu dibekali keterampilan teknis sesuai bidang pekerjaan serta kemampuan berbahasa Jepang agar komunikasi sehari-hari dapat berjalan lancar," ujarnya.

Menurut Yasunori, industri pengolahan kayu di Jepang kini telah memanfaatkan berbagai teknologi modern dalam proses produksi.

Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting agar pekerja Indonesia mampu mengikuti perkembangan industri sekaligus memenuhi kebutuhan perusahaan-perusahaan di Jepang.

Workshop internasional tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah mempererat kerja sama antara dunia pendidikan, pemerintah, dan industri dalam menyiapkan tenaga kerja Indonesia yang kompeten sehingga mampu memanfaatkan peluang kerja di pasar global, khususnya di sektor kehutanan dan industri kayu Jepang. (TribunSolo.com, Anang Ma'ruf)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.