TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Lebih dari dua pekan sejak jasad dokter residen anestesi, dr Alex Cristo Loris, ditemukan tergeletak di semak-semak di samping RSUD Tengku Rafian Siak, Selasa (14/7/2026), penyelidikan belum berhenti.
Polres Siak memperluas metode pengungkapan dengan melibatkan laboratorium forensik, ahli psikologi forensik, hingga asistensi Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau.
Hingga Kamis (30/7/2026), polisi masih menunggu sejumlah hasil pemeriksaan ilmiah yang diyakini menjadi kunci untuk mengungkap penyebab pasti kematian dokter muda tersebut.
Di saat yang sama, penyidik juga terus mengumpulkan fakta-fakta dari saksi, barang bukti dan jejak digital yang ditemukan.
Kasat Reskrim Polres Siak AKP Raja Kosmos P mengatakan penyelidikan dilakukan menggunakan metode scientific crime investigation dengan pendampingan Ditreskrimum Polda Riau.
“Penyelidikan ini dilakukan asistensi oleh Ditkrimum Polda Riau. Metode yang kami gunakan adalah scientific crime investigation, ditambah teknik dan taktik penyelidikan sebagaimana diatur dalam KUHAP dan SOP Kepolisian,” kata Raja Kosmos.
Ia menjelaskan, sejak olah tempat kejadian perkara dilakukan, polisi langsung mengamankan sejumlah barang bukti. Pihaknya juga mengirim jenazah dr Alex ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk menjalani autopsi.
Namun hingga kini, hasil autopsi belum diterima penyidik karena masih menunggu pemeriksaan laboratorium terhadap sampel yang diambil dari tubuh korban.
“Kami masih menunggu hasil autopsi untuk mengetahui penyebab kematian karena dibutuhkan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel yang diambil dari jenazah korban,” ujarnya.
Baca juga: Kapolres Siak Minta Publik Tak Terpancing Spekulasi Kematian dr Alex, Polisi Masih Kumpulkan Fakta
Baca juga: Polisi Buka Isi HP Dokter Alex Cristo Loris yang Tewas di Siak, Konfirmasi ke Dokter di Maluku
Tak hanya itu, berbagai alat medis dan obat-obatan yang ditemukan di lokasi penemuan jasad juga telah dikirim ke Laboratorium Forensik guna dilakukan penelitian lebih lanjut.
Menurut Raja Kosmos, perkembangan penyelidikan juga mengarah pada pemeriksaan puluhan saksi. Penyidik telah meminta keterangan tenaga kesehatan, karyawan rumah sakit, staf RSUD Tengku Rafian Siak, hingga dokter pembimbing residen anestesi dari RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
Penyidik juga membuka telepon genggam milik korban yang ditemukan di dalam tas di lokasi kejadian. Proses pembukaan dilakukan bersama istri, orang tua, dan abang korban sebelum pemeriksaan terhadap istri dilaksanakan.
“Dari alat komunikasi itu kami menemukan beberapa hal. Ada juga bagian yang belum bisa dibuka karena menggunakan Face ID sehingga hari ini kami kirim ke Laboratorium Forensik untuk dilakukan pembukaan,” jelasnya.
Dari hasil pemeriksaan awal terhadap isi telepon genggam tersebut, penyidik menemukan sejumlah fakta baru yang kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan saksi tambahan.
Bahkan, dua orang saksi telah dimintai keterangan langsung di Provinsi Maluku. Keduanya masing-masing seorang bidan dan seorang dokter yang dinilai memiliki kaitan dengan materi penyelidikan.
Selain pendekatan digital dan laboratorium, Polres Siak kini juga mulai menggunakan metode psikologi forensik. Untuk itu, penyidik menggandeng Universitas Islam Riau (UIR) guna membantu menganalisis aspek psikologis yang berkaitan dengan perkara tersebut.
“Metode psikologi forensik ini kami lakukan agar penyelidikan benar-benar berdasarkan fakta. Kami sudah bersurat ke Universitas Islam Riau dan pelaksanaannya mulai berjalan,” kata Raja Kosmos.
“Kami tidak bisa berspekulasi. Semua harus berdasarkan fakta-fakta yang tidak terbantahkan. Kami mohon masyarakat bersabar dan mempercayakan proses ini kepada kami karena penyelidikan terus kami gesa agar penyebab kematian korban dapat diungkap secara benar,” tutupnya.
(Tribunpekanbaru.com/mayonal putra)