TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tulisan “Tidak dibekali ragat (biaya) hanya dibekali semangat dan doa dari ibu hebat” tertulis di bagian atas sebuah bengkel Bebek Restorasi milik Dana Brata.
Meski hanya tulisan sederhana, tulisan tersebut menjadi motivasi bagi pemuda berusia 24 tahun itu.
Bebek Restorasi yang terletak RT 06 RW 03 Sidoarum, Godean, Sleman tersebut pun berhasil mengantarkan Dana menyelesaikan kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Tekad menyelesaikan kuliah ia pegang teguh, mengingat melanjutkan pendidikan tinggi adalah harapan ibunya.
“Ketika saya lulus SMK, saya menekuni hobi otomotif dan membuka bengkel ini. Almarhumah ibu risau, kalau anaknya terlena dengan kesenangannya, terus kemudian melupakan cita-cita yang digantungkan oleh almarhumah ibu untuk kuliah. Di tahun 2021 saya kehilangan ibu karena pandemi. Kemudian saya bertekad kuliah saya harus selesai,” katanya saat ditemui di Bebek Restorasi, Kamis (30/7/2026).
Dana menceritakan Bebek Restorasi tersebut lahir dari hobinya mengutak-atik motor lawas miliknya. Lulusan Teknik Pemesinan SMKN 3 Yogyakarta itu pun memang bercita-cita memiliki bengkel sendiri.
Klien pertamanya adalah saudaranya, kemudian teman-temanya. Kepiawaian Dana merestorasi motor lawas pun menyebar dari mulut ke mulut. Pada tahun 2018, ia pun memanfaatkan garasi kecil berukuran 4x5 meter di samping rumahnya untuk membangun bengkel sederhana.
“Dari hobi motor tua, saya mengutak-atik motor saya sendiri, merestorasi, dan bisa menghasilkan, hingga menjadi sebuah bengkel ini. Modalnya ya modal sendiri, dari satu motor, terus diputer (dikelola) lagi, terus diputer lagi,” terangnya.
Dari hasil membuka bengkel, ia berhasil membiayai kuliahnya di Teknik Manufaktur UNY. Rata-rata untuk satu unit motor restorasi dibanderol Rp 10 juta. Paling mahal, ia pernah merestorasi Astrea Prima Limited Edition yang hampir menyentuh Rp 30 juta.
Menjalani kuliah sambil bekerja di bengkel menjadi tantangan tersendiri. Manajemen waktu menjadi kuncinya. Tidak hanya pandai mengatur waktu, ia harus mengobarkan waktu istirahatnya. Jika mahasiswa lain memanfaatkan waktu luang untuk nongkrong, ia justru berburu suku cadang untuk kebutuhan restorasi.
“Kalau mahasiswa lain memanfaatkan jeda kuliah untuk nongkrong, ngopi, saya muter-muter nyari sparepart yang dibutuhkan di bengkel. Terus nanti saya pulang dulu, kalau waktunya kuliah ya saya ke kampus. Semua biaya kuliah full dari bengkel, saya tidak minta ke ayah saya,” terangnya.
Bengkel yang ia kelola itu pun tak pernah sepi peminat. Rata-rata, peminat restorasi motor tua adalah kalangan yang sudah berumur. Mayoritas pelanggannya berasal dari Pulau Jawa, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Terjauh, ia melayani restorasi dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
Saking tingginya peminat restorasi motor lawas, ia pun terpaksa menolak banyak pelanggan. Ia pun harus menerapkan sistem reservasi booking, lantaran kapasitas pengerjaan terbatas maksimal 5 unit per bulan.
“Untuk saat ini kita reservasi booking. Tahun ini sampai Desember 2026 sudah full. Baru bisa melayani lagi tahun 2027,” ujarnya.
Merestorasi motor klasik tidaklah mudah. Ketersediaan suku cadang menjadi salah satu kendalanya, sebab beberapa suku cadang motor sudah tidak diproduksi lagi. Ia pun harus rajin-rajin berburu suku cadang ke berbagai kota di Indonesia.
Mimpinya membuka bengkel sendiri seperti ayahnya sudah tercapai. Namun, ia masih memiliki cita-cita untuk mengembangkan bengkelnya menjadi lebih besar.
“Ke depan harapannya bengkel ini lebih bermanfaat, lebih besar. Bisa menjangkau kebutuhan penghobi motor-motor lawas. Awalnya bengkel ini dibantu oleh dua orang, sekarang sudah ada lima orang. Harapannya nanti bisa membuka lapangan pekerjaan sebanyak mungkin dan seprofesional mungkin,” pungkasnya. (maw)