Elektabilitas Presiden Prabowo Subianto dilaporkan anjlok hingga disalip Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Hal itu berdasarkan data terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 5-19 Juli 2026.
Terkait hal itu, Partai Gerindra buka suara.
Gerindra menyebut hasil survei bersifat dinamis.
Hal itu disampaikan Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan pada Kamis (30/7).
Dasco mengatakan sangatlah wajar jika tingkat elektabilitas setiap tokoh mengalami kenaikan maupun penurunan.
"Ya kan kalau yang namanya survei kan fluktuatif, kadang naik, kadang turun, dan itu kemudian survei yang satu dengan yang lain kadang-kadang ada yang sama, kadang-kadang ada yang beda," kata Dasco
Diketahui, data elektabilitas tersebut diunggah di kanal YouTube SMRC TV.
Berdasarkan data tersebut, Prabowo menempati posisi kedua dalam simulasi semi terbuka yang dilakukan SMRC.
Prabowo memperoleh 14,5 persen suara dari responden.
Sementara itu, Dedi Mulyadi berada di peringkat pertama dengan perolehan 35 persen.
SMRC mengatakan penurunan elektabilitas Prabowo berbarengan dengan penurunan kinerja Presiden.
Penurunan elektabilitas Prabowo juga dipengaruhi oleh program-program prioritas pemerintah.
Adapun program prioritas tersebut yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
SMRC menyebut sentimen positif dan tingkat kepuasan terhadap MBG serta KDMP menurun selama sembilan bulan terakhir.
Hal ini pun berdampak pada elektabilitas Prabowo.
Bahkan, SMRC menyebut elektabilitas Prabowo anjlok bersamaan dengan menurunnya sentimen positif terhadap program andalan Presiden.
Di sisi lain, politikus Ferdinand Hutahaean turut mengomentari hasil survei yang menunjukkan elektabilitas Prabowo dikalahkan KDM.
Melalui video yang diunggah di Instagram pada Kamis (30/7), Ferdinand menyebut survei tersebut tidak layak dipercaya.
Bahkan, ia menyebut survei yang dilakukan SMRC tidak layak dijadikan referensi politik.
Menurut Ferdinand, hal itu karena Saiful Mujani, selaku pendiri SMRC, tidak menyukai Prabowo.
Oleh sebab itu, Ferdinand menilai Saiful Mujani memperalat lembaga surveinya untuk membentuk opini negatif terhadap Prabowo.