TRIBUNAMBON.COM - Sekira pukul 12.45 WIT, Senin, 20 Juli 2026, langit di atas Negeri (Desa) Kaibobu cerah berawan.
Matahari cukup mudah menembus deretan awan tanpa jeda.
Alhasil, riak panas pada badan jalan begitu nampak dari kejauhan, tanda suhu permukaan jalanan diatas 50 derajat.
Mahasiswa semester v Fakultas Hukum Unpatti itu 'dipaksa' berjalan tanpa alas kaki maupun sejenisnya menuju pintu masuk (Gapura) negeri.
Badan jalan dengan kondisi rusak dengan cepat melukai kulit kaki yang terlanjur melepuh.
Bukan hukuman akibat kesalahan, melainkan sebuah sambutan yang sekira jadi pengingat akan negeri kelahiran sang ayah.
Ialah Helvi Nanda Kuhuparuw.
Maret tahun ini, anak dari pasangan Wiliyanki Kuhuparuw dan Seska Souisa itu berusia 19 tahun.
Baru di usia remaja akhir, Helvi pulang ke Negeri Kaibobu.
Tak sangka, langsung disambut warga dengan ritual adat: berjalan kaki tanpa alas, dibawa berdoa di situs leluhur, masuk ke Baileo (Balai Pertemuan Adat) hingga diberi gelar 'Mahina Poput Tahisane'.
Berlanjut keesokan harinya, diajak keliling perkampungan serta sejumlah destinasi wisata tak dilewatkan.
Baginya, prosesi dan aktivitas penuh di negeri yang terletak 41 km dari pusat pemerintahan kecamatan Seram Barat itu tak hanya jadi pengingat.
Lebih dari itu, baginya seperti sebuah pesan yang wajib disebarkan.
Terlebih Helvi pada pertengahan Agustus 2026 mendatang berkesempatan membawa cerita lokal ke panggung nasional dalam ajang Putri Pariwisata Indonesia.
"Akan saya persentasikan di tingkat nasional," ujar Helvy saat berkunjung ke Studio TribunAmbon.com, Rabu (30/7/2026).
Mange-Mange Kasiang
Cerita tentang pantai, nyiur dan ombak bukan hal baru di provinsi dengan 92,4 luas wilayah laut.
Namun, apa yang ada di pantai pasti tak habis diceritakan.
Hal itu seperti ditegaskan Helvi dalam pertemuan singkat dengan jurnalis TribunAmbon.com.
Mange-mange Kasiang (A'at Molokon): mange-mange adalah sebutan lokal untuk pohon bakau atau mangrove, sementara kasiang artinya kesihan.
Dikisahkan, ada seorang ibu mencari ikan di laut saat air surut (Meti) dan terjebak saat air pasang.
Akhirnya ibu terjebak dan hilang ditelan laut, kemudian muncul mangrove.
Tak biasanya berkelompok, mangrove yang tumbuh di pantai Negeri Kaibobu itu hanya sepohon tunggal yang oleh warga setempat menyebutnya 'Mange-mange kasiang'.
"Pergi ke Meti Ela menggunakan loangboat, dapat satu mangrove yang sendiri, walaupun diterpa angin dan ombak tetap tidak tumbang dan berdiri tegak," jelasnya.
Keberadaan mange-mange kasiang menguatkan ide akan gerakan lingkungan yang bakal dikampanyekan dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam ajang Putri Pariwisata Indonesia.
Ide itu dirujungnya dalam tagline 'The Silent Guardian'
Dengan fokus gerakan advokasi:
"Adokasi bertujuan untuk menciptakan ekowisata bahari berbasis konservasi," cetus Helvi.
Diakuinya, mewujudkan pencapaian sesuai target bukan hal mudah dan singkat.
Advokasi bakal panjang dan butuh kerja bersama berbagai unsur, terlebih pemerintah.
Baginya, paling tidak upaya sederhana adalah aktif memanfaatkan berbagai ruang untuk kampanye. (*)