Cuaca Buruk Buat Penyeberangan Ketapang Banyuwangi-Gilimanuk Bali Dibuka-Tutup Selama 3 Hari
Dwi Prastika July 30, 2026 10:22 PM

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Aflahul Abidin

TRIBUNMADURA.COM, BANYUWANGI - Layanan penyeberangan di lintas Ketapang Banyuwangi-Gilimanuk Bali beberapa kali dihentikan sementara akibat cuaca ekstrem yang melanda Selat Bali dalam tiga hari terakhir, Kamis (30/7/2026).

Kondisi angin kencang dan gelombang tinggi membuat operasional kapal harus disesuaikan secara situasional.

ASDP menegaskan, langkah buka-tutup pelayaran merupakan bagian dari mitigasi risiko untuk memastikan seluruh perjalanan berlangsung sesuai standar keselamatan yang berlaku.

Pada Kamis (30/7/2026), penyeberangan sempat ditutup selama lebih dari sejam sejak pukul 12.05 WIB.

Alasan penutupan karena cuaca berawan, angin kencang, dan gelombang tinggi.

Pelabuhan baru dibuka pukul 13.20 WIB.

Pada dua hari sebelumnya, buka tutup pelayaran juga diberlakukan saat cuaca buruk.

Pada Senin (28/7/2026), pelayaran bahkan sempat dibuka tutup dua kali.

ASDP menyebut, kondisi cuaca di perairan Selat Bali yang masih fluktuasi menjadi tantangan tersendiri bagi operasional penyeberangan.

Kecepatan angin dan tinggi gelombang yang berubah secara dinamis menyebabkan layanan di lintas Ketapang-Gilimanuk harus disesuaikan secara situasional melalui mekanisme buka-tutup operasional.

Penyesuaian tersebut, menurut ASDP, merupakan bagian dari upaya mitigasi risiko untuk memastikan setiap pelayaran berlangsung sesuai standar keselamatan.

Baca juga: Proyek Telan Anggaran Rp60 M, DPRD Sumenep Minta Pelabuhan Dungkek dan Gili Iyang segera Beroperasi

Bergantung Cuaca

General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko Kurniansjah, menjelaskan, operasional penyeberangan hingga kini masih sangat bergantung pada perkembangan cuaca maritim.

Perubahan kecepatan angin dan tinggi gelombang yang terjadi sewaktu-waktu menyebabkan layanan dibuka dan ditutup secara situasional berdasarkan hasil pemantauan di lapangan dan rekomendasi otoritas.

"Keselamatan selalu menjadi prioritas utama dalam setiap layanan penyeberangan. Penyesuaian operasional dilakukan semata-mata sebagai langkah mitigasi risiko ketika kecepatan angin maupun tinggi gelombang belum memenuhi standar keselamatan pelayaran. Begitu kondisi membaik dan dinyatakan aman oleh otoritas, layanan akan kembali dioperasikan secara bertahap," kata Arief.

Baca juga: 2 Jam Terombang-ambing di Laut Bali, 6 Awak Kapal KM Genius Berhasil Dievakuasi

Untuk meminimalkan dampak terhadap pengguna jasa, ASDP memperkuat koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), KSOP Kelas III Tanjung Wangi, Satuan Pelayanan Pelabuhan Penyeberangan BPTD Kelas II Jawa Timur, serta kepolisian.

Buffer Zone Bulusan dioptimalkan sebagai lokasi penampungan sementara kendaraan, khususnya angkutan logistik.

ASDP juga menyiapkan armada tambahan untuk mempercepat penguraian antrean segera setelah kondisi cuaca kembali kondusif dan pelayaran dinyatakan aman.

"Kami terus melakukan langkah antisipatif secara terpadu, mulai dari pemantauan cuaca, pengaturan operasional, optimalisasi Buffer Zone, kesiapan armada, hingga pengaturan lalu lintas bersama kepolisian. Dengan kolaborasi tersebut, kami berharap dampak penyesuaian operasional dapat diminimalkan tanpa mengesampingkan aspek keselamatan," tambah Arief.

Baca juga: Breaking News - Perahu Nelayan di Banyuwangi Terbalik Dihantam Ombak, 2 ABK Tewas dan 2 Hilang

Mengacu Ketentuan Peraturan Perundang-undangan

Corporate Secretary ASDP Windy Andale, mengatakan setiap keputusan operasional yang dilakukan ASDP mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam kondisi cuaca yang dinamis, kata dia, kepatuhan terhadap regulasi menjadi fondasi utama agar seluruh proses penyeberangan berlangsung dengan aman dan bertanggung jawab.

"Keselamatan pelayaran merupakan amanat undang-undang yang harus dijalankan secara konsisten oleh seluruh pihak," kata dia.

Windy menambahkan, seluruh proses tersebut merupakan bagian dari sistem keselamatan pelayaran nasional yang dirancang untuk melindungi penumpang, awak kapal, dan seluruh pengguna jasa.

Karena itu, setiap penyesuaian operasional bukan semata-mata terkait kelancaran layanan, melainkan bentuk tanggung jawab bersama dalam mengutamakan keselamatan.

ASDP memastikan hak pengguna jasa tetap terlindungi selama kondisi force majeure akibat cuaca ekstrem. Tiket yang telah dibeli tetap berlaku dan dapat digunakan kembali setelah kapal memperoleh izin berlayar dan layanan kembali beroperasi normal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.