Jejak Masih Hangat, Empat Orang Membeku Saat Harimau Sumatra Melintas 30 Meter di Teluk Lanus
Ariestia July 31, 2026 12:19 AM

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Adinesyahgita masih mengingat jelas momen yang membuatnya menahan napas di tengah hutan Teluk Lanus, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak.

Bukan suara gaduh atau auman yang lebih dulu membuatnya waspada, melainkan jejak kaki besar yang menurutnya masih terasa hangat ketika disentuh.

Pengalaman itu terjadi pada 19 Februari 2023 saat ia tergabung dalam tim pemasangan patok batas kawasan hutan yang dilaksanakan Dinas Kehutanan.

Bersama tiga anggota tim lainnya dan seorang warga lokal sebagai penunjuk jalan, mereka berjalan sekitar empat kilometer memasuki hutan lebat Teluk Lanus.

Di barisan paling belakang, Adi, panggilan akrabnya, lebih banyak memperhatikan tanah di sekelilingnya. Saat itulah ia menemukan jejak yang bentuknya menyerupai telapak kaki kucing, tetapi berukuran jauh lebih besar.

“Saya panggil kawan saya, saya bilang, ‘Bang, ini jejak apa? Kucing atau beruang?’ Setelah dilihat sama warga setempat, katanya itu jejak harimau. Bahkan waktu diraba masih terasa hangat,” kata Adi kepada Tribunpekanbaru.com, Rabu (29/7/2026).

Keterangan itu langsung mengubah suasana.

Tim menghentikan perjalanan. Mereka berdiskusi di tengah jalur setapak yang dipenuhi daun-daun kering, sementara warga lokal yang memandu mereka mencoba menenangkan situasi. 

Menurut warga, harimau umumnya tidak menyerang manusia selama tidak merasa terancam.

Namun rasa tenang itu tidak berlangsung lama. Beberapa saat setelah musyawarah singkat selesai, seekor Harimau Sumatra muncul dari jalur yang berada tidak jauh dari posisi mereka. Jaraknya diperkirakan sekitar 30 meter.

“Harimau itu tidak melakukan apa-apa. Dia hanya lewat. Syukur Alhamdulillah, dia tidak melihat kami karena posisi kami di balik semak-semak yang tinggi. Kami semua diam, tidak bersuara sama sekali,” ujarnya.

Meski satwa itu tidak menunjukkan perilaku agresif, ketegangan menyelimuti seluruh anggota tim.

Mereka sadar berada di habitat predator yang dikenal sebagai salah satu satwa paling dilindungi di Indonesia.

“Kami deg-degan. Kalau harimau melihat kami, bisa saja kami diterkam. Bisa saja kami pulang tinggal nama,” ucapnya.

Setelah memastikan harimau menjauh, tim memutuskan menghentikan pekerjaan hari itu dan kembali keluar hutan. Keputusan tersebut diambil meski warga lokal mengaku sudah terbiasa beraktivitas di kawasan yang sama.

Menurut Adi, perbedaan pengalaman menjadi alasan utama. Warga Teluk Lanus telah lama hidup berdampingan dengan keberadaan Harimau Sumatra sehingga memahami kebiasaan satwa tersebut, sedangkan dirinya baru pertama kali menghadapi situasi seperti itu.

Selama berada tujuh hari di Teluk Lanus, Adinesyahgita tidak lagi melihat langsung Harimau Sumatra.

Namun ia mengaku masih menemukan sejumlah tanda keberadaan satwa itu, seperti bekas cakaran di batang pohon yang oleh warga diyakini menjadi penanda wilayah jelajah harimau.

Dari cerita masyarakat setempat, penampakan harimau di Teluk Lanus disebut bukan peristiwa langka. Warga masih kerap melihatnya ketika memancing maupun bekerja di hutan.

Mereka meyakini harimau memiliki jalur lintasan sendiri yang biasanya berupa jalan setapak bersih dan paling sering muncul menjelang waktu magrib.

Meski demikian, Adi mengingatkan bahwa sebagian informasi yang ia sampaikan berasal dari pengetahuan dan cerita turun-temurun masyarakat setempat, bukan hasil penelitian ilmiah. Ia memilih memegang satu pelajaran penting dari pengalaman itu, yakni menghormati hutan sebagai habitat satwa liar.

“Kalau masuk hutan, niatnya bekerja. Jangan merusak hutan, jangan berburu harimau. Harimau juga makhluk hidup yang menjaga wilayahnya. Kita harus menghormati habitatnya supaya konflik dengan manusia tidak terjadi,” katanya.

Pengalaman tersebut mengubah kebiasaannya ketika bertugas di kawasan hutan.

Ia mengaku tidak lagi berani bepergian sendirian pada malam hari di Teluk Lanus dan selalu memilih bekerja bersama tim sebagai langkah mengurangi risiko saat berada di habitat Harimau Sumatra. 

Kesaksian Rekan Korban Serangan Harimau

Cerita Harimau Sumatra di Teluk Lanus tak pernah habisnya. Rakha dan Herman masih mengingat jelas malam ketika teriakan minta tolong memecah kesunyian camp pekerja di kawasan Sungai Belat, Kampung Teluk Lanus, Selasa (21/7/2026) malam. 

Mereka tak pernah menyangka suara yang terdengar dari balik gelapnya tepian kanal itu berasal dari Hari Harianto (31), rekan kerja mereka yang sedang diseret seekor Harimau Sumatra.

Sekitar 10 menit sebelumnya, Hari meninggalkan camp untuk buang air besar di tepian kanal yang biasa digunakan para pekerja. Tak lama berselang, teriakan meminta pertolongan terdengar berulang kali.

“Kami dengar dia teriak minta tolong. Kami langsung keluar camp mencari sumber suara, tapi gelap sekali. Kami sama sekali tidak melihat korban,” kata Herman, operator alat berat, Rabu (22/7/2026).

Rakha mengatakan suasana saat itu berubah menjadi panik. Mereka terus mendengar suara korban, tetapi tidak mengetahui titik keberadaannya karena kawasan camp hanya mengandalkan penerangan yang sangat minim.

“Kami takut terjadi sesuatu. Karena gelap, Bang Herman langsung naik ke alat berat dan menyalakan semua lampunya,” ujar Rakha.

Sorotan lampu alat berat kemudian diarahkan mengikuti asal suara. Tepat ketika cahaya menerangi semak di tepian kanal, pemandangan yang terlihat membuat keduanya terdiam.

Hari Harianto berada dalam gigitan seekor Harimau Sumatra yang sedang menyeret tubuhnya menuju kawasan hutan.

“Kami benar-benar kaget. Begitu lampu disorot, harimaunya langsung melepaskan korban lalu lari ke dalam hutan. Kami langsung berlari menolong korban,” tutur Herman.

Meski mengalami luka akibat gigitan dan cakaran, Hari masih berhasil diselamatkan.

Rakha dan Herman kemudian mengevakuasi korban menggunakan speed boat yang sudah siaga di sekitar lokasi menuju Pustu Kampung Teluk Lanus. Setelah mendapat pertolongan pertama dari tenaga kesehatan, korban kembali dirujuk melalui Pelabuhan Penyengat menuju RSUD Tengku Rafian Siak menggunakan ambulans untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Kapolsek Sungai Apit Iptu Adifian Ikhsan menjelaskan, peristiwa terjadi sekitar pukul 19.30 WIB ketika korban bersama dua rekannya sedang beristirahat di camp pekerja alat berat. Mereka mengerjakan pembersihan lahan perkebunan dan pembuatan kanal di Sungai Belat.

Korban kemudian keluar menuju tepian kanal yang tidak jauh dari camp untuk buang air besar. Lokasi tersebut memang biasa digunakan para pekerja untuk mandi maupun buang air.

Sekitar 10 menit kemudian, Rakha dan Herman mendengar korban berteriak meminta pertolongan. Karena kondisi gelap, keduanya tidak dapat menemukan posisi korban hingga akhirnya Herman menyalakan seluruh lampu pada alat berat.

Saat lampu diarahkan ke sumber suara, terlihat seekor Harimau Sumatra sedang menyeret tubuh korban. Diduga karena terganggu cahaya lampu yang sangat terang, harimau melepaskan gigitannya lalu berlari masuk ke kawasan hutan.

Korban kemudian dievakuasi menuju Pustu Kampung Teluk Lanus menggunakan speed boat. Setelah mendapatkan pertolongan pertama, korban kembali dirujuk melalui Pelabuhan Penyengat menuju RSUD Tengku Rafian Siak untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Akibat serangan tersebut, Hari Harianto mengalami luka cakaran pada bagian dada, belakang telinga, dan bawah ketiak.

Polsek Sungai Apit juga telah berkoordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau untuk melakukan penanganan di lokasi. Polisi menyebut kawasan Sungai Belat merupakan habitat Harimau Sumatra sehingga keberadaan satwa liar tersebut masih berpotensi membahayakan masyarakat maupun pekerja yang beraktivitas di wilayah itu.

Harimau Sudah Muncul Tiga Hari Sebelum Serangan

Serangan terhadap Hari Harianto terjadi hanya tiga hari setelah warga melaporkan kemunculan Harimau Sumatra di Kampung Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit.

Sabtu (18/7/2026), seekor harimau dilaporkan dua kali muncul di kawasan perkebunan sawit. Warga bernama Dodi melihat satwa itu melintas di Jalan Nasional KM 4 sekitar pukul 12.00 WIB.

Pada hari yang sama, pekerja panen sawit Agus nyaris diserang ketika sedang melangsir tandan buah segar di kawasan KM 7. Ia berhasil menyelamatkan diri dengan memacu sepeda motornya dan akhirnya memilih berhenti bekerja karena trauma.

Sebelumnya, konflik manusia dengan Harimau Sumatra juga berulang kali terjadi di Kabupaten Siak, mulai dari Kampung Penyengat pada 2024 hingga Kampung Benteng Hulu sepanjang akhir 2025 dan awal 2026. Rangkaian kejadian meliputi penampakan di permukiman, pemangsaan ternak, hingga serangan terhadap manusia.

Warga berharap patroli dan langkah mitigasi diperkuat agar konflik manusia dengan satwa dilindungi tersebut tidak kembali menimbulkan korban.

Teror si Belang Sempat Menakutkan di Kampung Benteng

Jauh sebelum tragedi harimau nyaris merenggut nyawa seorang pekerja di Teluk Lanus, warga Kampung Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, lebih dulu hidup dalam bayang-bayang teror Harimau Sumatra. Sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026, kemunculan satwa dilindungi itu nyaris menjadi kabar harian yang membuat warga memilih mengurung diri saat malam tiba.

Harimau memangsa kambing, muncul di belakang rumah warga, terekam kamera CCTV, melintas di Jalan Lintas Siak–Sungai Apit, hingga berkali-kali mendatangi kandang ternak.

Di tengah rasa takut itu, warga tidak pernah menyebut satwa tersebut secara langsung. Masyarakat Melayu memanggilnya Datuk, sedangkan sebagian warga Jawa menyebutnya Mbah atau Beliau. Sebutan itu merupakan bentuk penghormatan terhadap penguasa rimba yang diyakini telah lama menghuni kawasan tersebut. Namun, penghormatan itu tidak menghilangkan kecemasan yang mereka rasakan.

Masruri, warga kampung Benteng Hulu, kecamayan Mempura, menjadi salah satu warga yang paling merasakan dampaknya. Setelah dua ekor kambing miliknya diseret harimau, ia hampir setiap malam berjaga di sekitar kandang.

“Kami sebenarnya tidak ingin mencelakai harimau karena itu satwa yang dilindungi. Tapi kami juga ingin hidup tenang. Sudah berkali-kali harimau datang ke sekitar rumah dan memangsa ternak kami. Kami berharap BBKSDA segera mengambil tindakan nyata sebelum ada korban jiwa,” katanya.

Masruri bahkan memperkuat kandangnya menggunakan seng bekas. Namun, harimau masih kerap datang berkeliling di bawah kandang mencari celah untuk masuk.

“Sampai sekarang setiap sore menjelang magrib kami sudah masuk rumah. Pintu kami kunci rapat. Kalau malam ada suara di luar, kami tidak berani keluar lagi. Hidup rasanya selalu dihantui rasa takut,” ujarnya.

Rasa takut yang sama dialami Dwi Rahayu. Ia mengaku tidak berani keluar rumah pada malam hari setelah melihat seekor Harimau Sumatra berdiri tepat di belakang rumahnya.

Karena toilet berada di luar rumah, Dwi bahkan memilih menahan buang air besar selama tiga hari daripada harus keluar pada malam hari.

“Sejak melihat harimau berdiri di belakang rumah, saya sampai tidak berani keluar rumah pada malam hari. Anak-anak juga tidak pernah kami biarkan berjalan sendiri lagi. Semua aktivitas berubah karena rasa takut,” katanya.

Sejak saat itu, anak-anak di Kampung Benteng Hulu selalu diantar bersama-sama ketika berangkat sekolah. Aktivitas warga berubah. Menjelang magrib, pintu rumah sudah tertutup rapat dan jalan kampung menjadi sepi.

Ketakutan juga dirasakan para pekerja SPBU Mempura. Mereka beberapa kali berlari masuk ke dalam kantor setelah mendapat kabar harimau terlihat di semak-semak belakang stasiun pengisian bahan bakar tersebut.

Teror itu sebenarnya sudah mulai terasa sejak November 2025. Saat itu beredar video berdurasi sekitar 45 detik yang memperlihatkan seekor Harimau Sumatra berada di bawah batang sawit di dekat jalur pipa minyak PT Bumi Siak Pusako.

Video tersebut menyebar luas di media sosial dan membuat warga membatasi aktivitas menuju kebun. Kawasan KM 7 Benteng Hulu memang dikenal berada di jalur lintasan Harimau Sumatra menuju Taman Nasional Zamrud.

Memangsa Ternak hingga Dipantau Kamera Trap

Memasuki Januari 2026, konflik semakin sering terjadi. Dua ekor kambing milik Masruri diseret dari kandang, sementara laporan kemunculan harimau terus berdatangan dari berbagai titik di Kampung Benteng Hulu.

BBKSDA Riau bersama BPBD Siak kemudian memasang camera trap, melakukan pemantauan menggunakan drone, serta memasang spanduk peringatan agar warga lebih waspada.

Meski kamera trap belum berhasil merekam harimau, rekaman CCTV milik warga justru beberapa kali memperlihatkan satwa itu melintas di sekitar permukiman.

Petugas juga menemukan jejak kaki berukuran sekitar 12 sentimeter yang mengarah ke kawasan Hutan Tanaman Industri sebagai koridor menuju Taman Nasional Zamrud.

Sebagian warga bahkan menduga terdapat lebih dari satu individu harimau karena menemukan ukuran jejak kaki yang berbeda dan adanya laporan kemunculan pada waktu yang hampir bersamaan di lokasi berbeda.

Konflik di Kampung Penyengat

Jika ditarik lebih jauh, konflik antara manusia dan Harimau Sumatra di Kabupaten Siak sudah lebih dulu mencuat pada awal 2024 di Dusun III Sungai Mungkal, Kampung Penyengat, Kecamatan Sungai Apit.

Peristiwa pertama terjadi pada 20 Februari 2024 ketika seekor Harimau Sumatra masuk ke rumah warga bernama Iwan dan sempat mencengkeram kaki seorang balita yang sedang tidur. Balita itu berhasil diselamatkan setelah ibunya terbangun dan berteriak.

Beberapa pekan kemudian, harimau kembali mendatangi permukiman pekerja kebun dan penjaga walet. Sebanyak 16 dari 20 pekerja asal Kepulauan Meranti memilih pulang kampung karena tidak lagi berani bekerja.

Situasi semakin mencekam setelah seekor anjing diterkam harimau di depan rumah pekerja dan terekam kamera CCTV. Dua hari kemudian, dua ekor harimau kembali terlihat di lokasi yang sama.

Puncak konflik terjadi pada 17 Maret 2024. Seorang pekerja penebang sagu bernama Efendi alias Fii diserang saat duduk bersama rekannya di depan bedeng. Ia mengalami luka gigitan dan cakaran di lengan kanan setelah berusaha menangkis serangan harimau.

Sehari setelah kejadian itu, seluruh rombongan pekerja memutuskan meninggalkan lokasi karena khawatir serangan serupa kembali terjadi. Konflik tersebut menjadi salah satu peringatan bahwa jalur jelajah Harimau Sumatra di Kabupaten Siak semakin sering bersinggungan dengan kawasan aktivitas manusia.

Data Konflik Harimau Sumatra di Kabupaten Siak

2024
• 20 Februari – Harimau masuk rumah warga di Dusun III Sungai Mungkal, Kampung Penyengat dan nyaris menyeret seorang balita.
• 6 Maret – Harimau mendatangi permukiman pekerja kebun dan penjaga walet di Sungai Sialang.
• 7 Maret – Belasan pekerja meninggalkan lokasi kerja karena ketakutan.
• 8 Maret – Harimau terekam CCTV memangsa anjing milik pekerja.
• 10 Maret – Dua Harimau Sumatra kembali terekam CCTV.
• 17 Maret – Efendi alias Fii diterkam harimau dan mengalami luka gigitan serta cakaran.

2025
• 21–22 November – Video penampakan Harimau Sumatra di KM 7 Benteng Hulu viral dan membuat warga membatasi aktivitas menuju kebun.

2026
• 23 Januari – Dua kambing milik warga Benteng Hulu dimangsa harimau.
• 26 Januari – BBKSDA memasang camera trap dan melakukan mitigasi.
• 6 Februari – Harimau kembali muncul di kandang ternak dan terekam CCTV.
• 7–11 Februari – Pemantauan drone dan penambahan camera trap dilakukan.
• 18 Juli – Harimau muncul dua kali di Kampung Mengkapan. Seorang pekerja sawit nyaris diserang dan memilih pulang kampung karena trauma.
• 21 Juli – Hari Harianto diserang Harimau Sumatra di Sungai Belat, Kampung Teluk Lanus, dan selamat setelah harimau melepaskan gigitannya ketika disorot lampu alat berat oleh rekan-rekannya. (tribunpekanbaru.com/mayonal putra)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.