Kisah Narto Sang Penjaga Hutan Menumbing Bangka Barat, Ikatan Batin yang Mengalahkan Ancaman
Fitriadi July 31, 2026 10:36 AM

POSBELITUNG.CO, BANGKA - Pagi belum sepenuhnya terang ketika Narto mulai menyusuri jalur-jalur setapak di Taman Hutan Raya (Tahura) Menumbing, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (30/7/2026).

Hampir setiap hari, pria berusia 44 tahun itu keluar masuk kawasan konservasi seluas lebih dari 3.300 hektare tersebut untuk memastikan hutan tetap aman dari berbagai ancaman.

Sejak menjadi Petugas Pengamanan Hutan (Pamhut) pada Maret 2022, Narto mengaku hubungannya dengan Menumbing bukan lagi sekadar urusan pekerjaan. Baginya, hutan itu telah menjadi bagian dari hidupnya.

"Awalnya saya bekerja biasa saja. Tapi setelah beberapa bulan, saya bermimpi seperti ada pesan agar menjaga Menumbing. Sejak itu, kalau sehari saja tidak masuk hutan, rasanya gelisah," tutur Narto kepada Bangkapos.com.

Kecintaan terhadap alam telah tumbuh sejak kecil. Ia terbiasa menjelajahi hutan, sungai, dan laut. Bahkan saat libur, Narto tetap datang ke Menumbing hanya untuk menikmati suasana alam.

"Kadang cuma duduk, bikin kopi, dengar suara air. Rasanya tenang," ujarnya.

Pada Desember 2025, statusnya berubah menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.

Meski pendapatannya tak banyak berubah, ia tak pernah mempermasalahkannya.

"Kalau soal gaji, Alhamdulillah cukup. Kalau sudah suka dengan pekerjaannya, semuanya terasa ringan," katanya.

Di balik ketenangan Menumbing, tantangan yang dihadapi tidak sedikit.

Narto bersama rekan-rekannya kerap berhadapan dengan pelaku penebangan liar, tambang ilegal, hingga perambahan kawasan hutan.

Ancaman pun pernah menghampirinya. Seusai melaporkan aktivitas tambang ilegal, ia mengaku pernah dijegat di jalan dan menerima intimidasi melalui telepon. Namun, semua itu tidak membuatnya surut.

"Saya pernah dijegat setelah melaporkan tambang ilegal. Ada juga intimidasi lewat telepon. Tapi saya bekerja sesuai aturan dan SOP, jadi tidak takut," ujarnya.

Di sela tugas patroli, Narto juga kerap mendampingi para peneliti.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah saat membantu tim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan spesies anggrek langka di kawasan Menumbing.

Baginya, Menumbing bukan hanya habitat berbagai flora dan fauna, tetapi juga kawasan hutan primer yang menjadi penyangga sumber air bagi masyarakat.

"Di Bangka Belitung, mungkin Menumbing menjadi salah satu hutan yang masih benar-benar alami. Kalau sampai gundul, kita tidak tahu bagaimana dampaknya nanti," katanya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat ikut menjaga kelestarian kawasan konservasi tersebut demi generasi mendatang.

"Mari kita jaga Menumbing untuk anak cucu kita. Sayang kalau hutan ini rusak hanya karena kepentingan sesaat," pesannya.

Dedikasi Narto juga mendapat apresiasi dari rekan kerjanya, Gusti Nugraha. 
Meski berlatar belakang Sarjana Kehutanan, Gusti mengaku banyak belajar dari pengalaman dan keteguhan Narto menjaga Menumbing.

"Walaupun saya lulusan Sarjana Kehutanan dan Bang Narto lulusan SMK, soal komitmen, konsistensi, dan pengalaman di lapangan beliau jauh lebih baik. Saya banyak belajar dari beliau," ujar Gusti.

Baginya, pengalaman dan kecintaan terhadap alam telah membentuk Narto menjadi penjaga Menumbing yang tetap bertahan meski harus menghadapi berbagai ancaman demi menjaga hutan tetap lestari. (Posbelitung.co/Arya Bima Mahendra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.