1.551 Hektare Sawah Kekeringan, Pemkab Berupaya Selamatkan Tanaman Hampir Panen
mufti July 31, 2026 10:37 AM

“Kondisi cuaca tahun ini memang sangat ekstrem dan dampaknya mulai dirasakan sektor pertanian di Aceh Besar." IMAM MUNANDAR, Plt Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar

SERAMBINEWS.COM, JANTHO - Dampak kemarau panjang yang melanda wilayah Aceh Besar hampir satu bulan terakhir, menyebabkan 1.551,89 hektare lahan persawahan mengalami kekeringan. Dari luas tersebut, 84 haktere mengalami kekeringan berat, 853,89 kering sedang dan 614 kering ringan.

Plt Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar, Imam Munandar STP, mengatakan, posko penanganan darurat sudah dibuka di BPBD Sibreh untuk mempercepat koordinasi lintas instansi dalam upaya penyelamatan lahan sawah yang terdampak.

Ditambahkan, surat darurat bencana kekeringan itu sudah ditandatangani dan menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mempercepat berbagai langkah penanganan.

Imam menjelaskan, sejumlah dukungan mulai mengalir setelah rapat koordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Bantuan tersebut di antaranya mobil pemadam kebakaran untuk distribusi air ke lahan pertanian yang membutuhkan.

Selain itu, Danlanud Sultan Iskandar Muda juga menyatakan kesiapan menyediakan helikopter, apabila sewaktu-waktu diperlukan. Termasuk mendukung upaya rekayasa cuaca, jika kondisi memungkinkan.

Imam mengatakan, baru saja meninjau langsung sejumlah kawasan pertanian yang mengalami kekeringan. Dari hasil pemantauan tersebut, Kecamatan Suka Makmur dan Simpang Tiga menjadi wilayah yang paling diprioritaskan karena tanaman padi di daerah itu sudah memasuki fase pembentukan bulir atau primordial.

"Jangan sampai puso. Tanaman di sana tinggal membutuhkan tambahan air agar proses pengisian bulir berjalan sempurna sehingga hasil panen tetap maksimal,” kata Imam kepada Serambi, Kamis (30/7/2026).

Selain Suka Makmur dan Simpang Tiga, kekeringan juga dilaporkan melanda sejumlah wilayah lain, seperti Kota Jantho, Indrapuri, Lhoknga, dan Lhoong. Namun, tingkat keparahan di masing-masing daerah berbeda sehingga pola penanganannya juga disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Karena itu, Dinas Pertanian memfokuskan bantuan air pada lahan yang sudah mendekati masa panen. Langkah tersebut dilakukan agar biaya produksi yang telah dikeluarkan petani tidak sia-sia akibat gagal panen.

"Sayang kalau biaya yang sudah dikeluarkan petani hingga menjelang panen akhirnya hilang begitu saja. Yang sudah berbentuk bulir itulah yang menjadi prioritas untuk diselamatkan," kata Imam.

Ia mengingatkan, apabila kekeringan terus berlanjut tanpa penanganan cepat, kondisi lahan yang saat ini tergolong rusak ringan dapat berkembang menjadi rusak sedang bahkan berat.

Sementara itu, data luas lahan terdampak masih terus diperbarui. Menurut Imam, data Dinas Pertanian berasal dari laporan mantri tani dan Koordinator Cabang Dinas (KCD) di setiap kecamatan sehingga masih dalam proses sinkronisasi dengan data Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Provinsi Aceh.

Selain upaya teknis di lapangan, Bupati Aceh Besar juga mengimbau masyarakat di seluruh kecamatan untuk melaksanakan salat istisqa sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan.

"Semoga dengan ikhtiar yang kita lakukan, Allah SWT menurunkan hujan. Kondisi cuaca tahun ini memang sangat ekstrem dan dampaknya mulai dirasakan sektor pertanian di Aceh Besar," ujar Imam.(iw)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.