Putri Maybrat Temukan Model Kebijakan Karst Terpadu, Dukung Usulan UNESCO Geopark
Petrus Bolly Lamak July 31, 2026 10:38 AM

TRIBUNSORONG.COM - Potensi bentang alam karst di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, untuk pertama kalinya berhasil dipetakan dan dikaji secara ilmiah melalui penelitian komprehensif yang mengintegrasikan geodiversitas, biodiversitas, dan etnodiversitas sebagai dasar penyusunan model kebijakan ekowisata karst berbasis tata kelola multi level.

Penelitian tersebut menghasilkan model kebijakan yang diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah dalam menetapkan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK), menyusun tata ruang, mengembangkan Geopark Nasional, hingga mempersiapkan Karst Maybrat sebagai calon UNESCO Global Geopark.

Baca juga: Lompatan Besar Kesehatan Maybrat: RSUD Resmi Diampu RSCM Jakarta, Siap Tingkatkan Pelayanan

Temuan tersebut merupakan hasil disertasi Afia Eksemina Phascalina Tahoba, putri asli Kabupaten Maybrat, dalam Sidang Promosi Terbuka Program Doktor Sekolah Pascasarjana IPB University, Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, dengan judul "Model Kebijakan Ekowisata Karst di Kabupaten Maybrat Provinsi Papua Barat Daya."

Berdasarkan penelusuran literatur yang dilakukan peneliti, disertasi ini merupakan penelitian pertama yang menginventarisasi dan menganalisis kawasan Karst Maybrat secara terpadu berdasarkan geodiversitas, biodiversitas, dan etnodiversitas sebagai dasar penyusunan model kebijakan pengembangan ekowisata.

Selama ini, berbagai penelitian mengenai kawasan karst di Indonesia umumnya masih berfokus pada aspek geologi, hidrologi, maupun keanekaragaman hayati secara terpisah. 

Baca juga: Sorong Selatan Cerah Berawan, Maybrat Cerah, Prakiraan Cuaca Papua Barat Daya Rabu 29 Juli 2026

Sementara penelitian ini memandang bentang alam karst sebagai satu sistem yang utuh, dengan mengintegrasikan karakter geologi, fungsi ekologis, serta nilai budaya masyarakat adat dalam satu kerangka kebijakan pembangunan berkelanjutan.

Menurut Afia, pendekatan tersebut dilakukan karena kawasan karst tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga menjadi ruang hidup masyarakat adat yang menyimpan nilai budaya, sejarah, dan identitas yang perlu dilindungi bersamaan dengan upaya pemanfaatannya.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap masih tingginya angka kemiskinan, rendahnya Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta belum optimalnya pemanfaatan potensi sumber daya alam di Kabupaten Maybrat.

Padahal, Kabupaten Maybrat memiliki bentang alam karst daratan terluas di kawasan Kepala Burung Papua dengan kekayaan geologi, sumber daya air, flora dan fauna endemik, serta sistem pengelolaan adat yang masih terpelihara hingga saat ini.

20260731_karwg
KARST MAYBRAT - Potensi bentang alam karst di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, untuk pertama kalinya berhasil dipetakan dan dikaji secara ilmiah melalui penelitian komprehensif yang mengintegrasikan geodiversitas, biodiversitas, dan etnodiversitas sebagai dasar penyusunan model kebijakan ekowisata karst berbasis tata kelola multi level.

Satu Kawasan, Tiga Fungsi Strategis

Salah satu temuan utama dalam penelitian tersebut adalah bahwa Karst Maybrat memiliki tiga fungsi utama yang terintegrasi dalam satu kawasan, yakni geodiversitas, biodiversitas, dan etnodiversitas.

Pada aspek geodiversitas, Karst Maybrat memiliki bentang alam karst tropis yang lengkap, mulai dari bukit karst, dolina, polje, gua, sungai bawah tanah, hingga ratusan mata air yang membentuk sistem hidrologi penting bagi kehidupan masyarakat.

Pada aspek biodiversitas, kawasan ini menjadi habitat berbagai flora dan fauna khas Papua, termasuk sejumlah spesies endemik yang memiliki nilai konservasi tinggi.

Sementara etnodiversitas tercermin dari kuatnya hubungan masyarakat adat Maybrat dengan kawasan karst melalui sistem zonasi adat, pengetahuan lokal, situs-situs sakral (pamali), praktik budaya, mata pencaharian tradisional, hingga jejak arkeologi yang masih terpelihara.

Baca juga: Indomaret Pertama Resmi Hadir di Maybrat, Bupati Karel Murafer Dorong Investasi dan UMKM Lokal

Menurut Afia, keberadaan tiga fungsi tersebut dalam satu lanskap menjadikan Karst Maybrat memiliki nilai ilmiah yang tinggi sekaligus fungsi ekologis, sosial, dan budaya yang saling melengkapi.

"Karakteristik tersebut menjadi modal utama untuk menjadikan Karst Maybrat sebagai kawasan konservasi sekaligus destinasi ekowisata berkelanjutan," ujarnya.

Dengan karakteristik tersebut, Karst Maybrat dinilai layak disejajarkan dengan kawasan karst yang telah lebih dahulu dikenal di Indonesia, seperti Karst Gunung Sewu dan Karst Maros-Pangkep, yang saat ini berkembang sebagai kawasan geopark dan destinasi wisata berbasis konservasi.

Menghasilkan Model Kebijakan Baru

Dalam penyusunan disertasinya, Afia merancang penelitian melalui empat tahapan utama.

Tahap pertama menganalisis kondisi eksisting pengembangan ekowisata di Kabupaten Maybrat.

Tahap kedua mengidentifikasi potensi, kendala, ancaman, dan kebutuhan pengembangan ekowisata berbasis geodiversitas, biodiversitas, dan etnodiversitas kawasan karst.

Baca juga: Kota sorong dan Maybrat Berawan, Prakiraan Cuaca Papua Barat Daya Kamis 23 Juli 2026, Aman Bepergian

Tahap ketiga merancang zonasi kebijakan pengelolaan ekowisata karst pada level makro, meso, dan mikro.

Selanjutnya, seluruh hasil analisis tersebut diintegrasikan menjadi Model Kebijakan Ekowisata Karst Maybrat berbasis tata kelola multi level yang mendukung konservasi sumber daya alam dan budaya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Afia menjelaskan bahwa kebaruan (novelty) penelitiannya terletak pada pengembangan model kebijakan ekowisata karst darat tropis tingkat kabupaten yang dibangun melalui pendekatan bottom-up, dengan mengintegrasikan tata kelola formal pemerintah dan tata kelola masyarakat adat.

Penelitian ini juga menghasilkan model zonasi baru yang memadukan karakter bentang alam karst, keanekaragaman hayati, serta zona budaya masyarakat adat ke dalam satu sistem spasial.

Baca juga: Bupati Maybrat Serahkan Usulan Pembangunan Sekolah Rakyat ke Kemensos RI

Melalui pendekatan tersebut ditetapkan tiga zona utama, yakni zona konservasi, zona pemanfaatan terbatas, dan zona pemanfaatan ekowisata, sehingga mampu mengurangi potensi konflik pemanfaatan ruang sekaligus menjaga kelestarian ekosistem karst beserta budaya masyarakat adat.

Secara metodologis, penelitian ini mengombinasikan analisis deskriptif kualitatif, Geographic Information System (GIS), dan Interpretative Structural Modelling (ISM) untuk menyusun struktur prioritas kebijakan pada level mikro, meso, dan makro.

Dalam konteks pembangunan pariwisata Papua Barat Daya, Afia mengusulkan agar kawasan Karst Plato Ayamaru yang meliputi Kali, Kladuk, Sawiat, Wehali, Eles, dan sekitarnya diintegrasikan dengan ekowisata bahari Raja Ampat.

Melalui konsep tersebut, Karst Maybrat dapat berfungsi sebagai destinasi komplementer yang memperkaya pilihan wisata di Papua Barat Daya sekaligus menjadi destinasi alternatif ketika aktivitas wisata laut di Raja Ampat terkendala cuaca buruk, angin kencang, maupun gelombang tinggi.

Selain memperluas pilihan destinasi wisata, konsep tersebut diharapkan mampu mendorong pemerataan manfaat ekonomi pariwisata ke wilayah daratan Papua Barat Daya.

Berdasarkan hasil penelitian, Afia merekomendasikan pemerintah segera menyusun basis data terpadu bersama masyarakat adat, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian sebagai dasar pengusulan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK), Geopark Nasional, registrasi kawasan, serta penetapan situs dan kawasan cagar budaya.

Baca juga: Dapat Support Lintas Sektor, Proyek MAPAN Siap Perkuat Ketahanan Pangan di Maybrat

Pemerintah Kabupaten Maybrat juga didorong menyusun Peraturan Daerah tentang Ekowisata Karst berbasis zonasi, sementara Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya diharapkan menyusun Peraturan Daerah Khusus (Perdasi) yang mengintegrasikan Karst Maybrat dan Raja Ampat sebagai destinasi unggulan provinsi.

Selain itu, Bupati Maybrat direkomendasikan membentuk Tim Percepatan Calon Geopark Maybrat melalui keputusan bupati dengan dukungan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya.

Penelitian tersebut juga dipublikasikan pada Jurnal Manajemen Hutan Tropika terakreditasi SINTA 1 dengan judul Integrating Indigenous Cultural Zonation into Spatial Planning, Karst Conservation, and Ecotourism Policies: Insights from the Maybrat People of Southwest Papua.

Baca juga: Fans Berat dari Maybrat: Korneles Naa Sebut Kunci Kemenangan Spanyol Ada pada Soliditas Tim

Publikasi tersebut diharapkan memperkuat basis ilmiah bagi kebijakan konservasi, penataan ruang, dan pengembangan ekowisata, sekaligus meningkatkan visibilitas Karst Maybrat di tingkat nasional maupun internasional sebagai kawasan yang memiliki nilai geologi, ekologi, dan budaya yang tinggi.

Masyarakat yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai hasil penelitian tersebut dapat membaca Ringkasan Disertasi melalui tautan berikut:

Ringkasan Disertasi "Model Kebijakan Ekowisata Karst Kabupaten Maybrat Provinsi Papua Barat Daya" (tribunsorong.com/ismail saleh)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.