TRIBUNSORONG.COM, AIMAS - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sorong terus memperkuat sektor peternakan sebagai salah satu pilar ketahanan pangan daerah.
Melalui berbagai program pemberdayaan, pemerintah berkomitmen mendorong pengembangan peternak Orang Asli Papua (OAP) sekaligus meningkatkan produksi ternak lokal agar mampu memenuhi kebutuhan daging masyarakat.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Bupati Sorong Sutejo usai mengikuti kegiatan Kontes Ternak yang diselenggarakan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sorong, Kamis (30/7/2026).
Baca juga: Atlet PASI Kabupaten Sorong Raih Prestasi Nasional Meski Gunakan Dana Pribadi
Menurutnya, ketersediaan padang rumput yang luas serta tingginya permintaan pasar menjadi modal utama bagi masyarakat, khususnya OAP, untuk mengembangkan usaha peternakan secara berkelanjutan.
"Potensi peternakan di Papua Barat Daya sangat besar. Rumput tersedia melimpah dan pasar juga sangat luas. Ini merupakan peluang bagi peternak OAP untuk mengembangkan usaha ternaknya sehingga dapat menjadi sumber pendapatan utama keluarga," ujar Sutejo.
Ia mengatakan, hingga kini kebutuhan daging di Kabupaten Sorong masih belum sepenuhnya dipenuhi oleh produksi lokal.
Sebagian pasokan sapi masih didatangkan dari luar daerah, seperti Pulau Seram dan wilayah lainnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan populasi ternak lokal sehingga ke depan Kabupaten Sorong mampu memenuhi kebutuhan daging secara mandiri.
"Kita masih kekurangan pasokan daging. Selama ini sapi masih banyak didatangkan dari luar daerah. Kalau produksi lokal meningkat, tentu ketergantungan terhadap pasokan dari luar bisa dikurangi bahkan dihentikan," katanya.
Baca juga: BMKG Gelar Sekolah Lapangan Gempa dan Tsunami di Kabupaten Sorong
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sorong Margariet Beatriks Hendrika Nauw menjelaskan populasi sapi di Kabupaten Sorong saat ini mencapai sekitar 25 ribu ekor.
Namun demikian, tingginya permintaan pasar, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan, membuat pemerintah tetap harus menjaga keseimbangan populasi ternak agar tidak mengalami penurunan drastis.
"Kami harus menjaga agar populasi sapi tetap tersedia di Kabupaten Sorong. Karena itu, pada waktu-waktu tertentu kami juga mendatangkan sapi dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga populasi lokal," katanya.
Menurut Margariet, pemerintah terus menjalankan berbagai program pemberdayaan peternak melalui penyediaan bibit ternak, pembinaan, pelayanan kesehatan hewan, hingga penerapan inseminasi buatan.
Untuk pengembangan sapi, pemerintah setiap tahun menyalurkan bantuan berupa 11 ekor sapi, terdiri dari 1 pejantan dan 10 betina, kepada kelompok peternak OAP melalui dana Otonomi Khusus (Otsus).
Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan sekitar 600 ekor bibit ayam kepada masyarakat setiap tahun guna meningkatkan produksi daging ayam dan telur sebagai sumber protein hewani.
"Kami tidak hanya memberikan bantuan ternak, tetapi juga melakukan pendampingan, pembinaan, pelayanan kesehatan hewan, serta evaluasi agar bantuan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat," ujarnya.
Ia mengakui masih terdapat sejumlah penerima bantuan yang menjual ternaknya setelah menerima bantuan.
Karena itu, evaluasi terus dilakukan agar program pemberdayaan lebih tepat sasaran dan diberikan kepada kelompok yang benar-benar berkomitmen mengembangkan usaha peternakan.
Selain sapi dan unggas, Pemerintah Kabupaten Sorong juga mulai memberikan perhatian terhadap pengembangan ternak kambing yang dinilai memiliki permintaan pasar cukup tinggi.
Wakil Bupati Ahmad Sutejo mengatakan kebutuhan kambing di Kabupaten Sorong, terutama menjelang Hari Raya Iduladha dan berbagai kegiatan keagamaan, masih belum dapat dipenuhi oleh peternak lokal.
"Kebutuhan kambing di Sorong cukup tinggi. Selama ini kita masih mendatangkan kambing dari luar daerah. Ke depan kami berharap peternakan kambing juga bisa dikembangkan agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dari produksi lokal," katanya.
Menanggapi hal tersebut, Margariet menyampaikan bahwa pada tahun 2026 Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya telah mengalokasikan bantuan 15 ekor kambing untuk dua kelompok peternak di Kabupaten Sorong.
Sebelum bantuan disalurkan, pemerintah akan melakukan survei lapangan guna memastikan kelompok penerima masih aktif dan memenuhi persyaratan administrasi.
Ia juga mengingatkan bahwa beternak kambing di Papua memiliki tantangan tersendiri karena curah hujan yang tinggi membuat kambing rentan terserang penyakit apabila dipelihara secara lepas.
"Kambing sebenarnya bisa berkembang dengan baik apabila dipelihara di kandang dan mendapatkan pendampingan yang tepat. Yang sering menjadi masalah adalah pola pemeliharaan yang masih dilepas sehingga mudah terserang penyakit saat musim hujan," kata Margariet.
Baca juga: Pemerintah Kabupaten Sorong Siap Bangun 4 Kampung Nelayan Merah Putih
Pemerintah Kabupaten Sorong berharap pengembangan peternakan berbasis masyarakat, khususnya bagi OAP, dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga, memperkuat ketahanan pangan daerah, serta mengurangi ketergantungan terhadap pasokan ternak dari luar Papua Barat Daya.
Melalui pembinaan yang berkelanjutan, penyediaan bibit unggul, dan dukungan berbagai pihak, sektor peternakan diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kabupaten Sorong. (tribunsorong.com/taufik nuhuyanan)