SPPG Pakisrejo Tulungagung Ditutup Sementara Usai 66 Penerima MBG Diduga Keracunan Ini Penjelasannya
faridmukarrom July 31, 2026 10:50 AM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pakisrejo, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, dihentikan operasionalnya sementara mulai Kamis (30/7/2026). Penghentian layanan dilakukan menyusul dugaan keracunan massal yang menimpa puluhan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah korban yang mengalami gejala keracunan mencapai 66 orang. Sebagian besar korban berasal dari peserta Posyandu yang menerima makanan dari SPPG tersebut.

“Mulai ditutup hari ini, belum tahu sampai kapan karena ini kewenangan BGN (Badan Gizi Nasional),” ujar Ketua Pengawas Keamanan Pangan Program Makan Bergizi Gratis Kecamatan Rejotangan, Eko Sumaryono, Kamis (30/7/2026) malam.

Diduga Berasal dari Menu MBG Hari Senin
Eko menjelaskan, makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan merupakan menu MBG yang disajikan pada Senin (27/7/2026).

Baca juga: Dishub Tulungagung Usulkan 40 Titik PJU Baru di Jalan IJD Campurdarat CCTV Publik Aktif Oktober 2026

Menu tersebut terdiri dari nasi putih, daging sapi oseng kecap, tumis tempe dan kacang panjang, kerupuk, serta buah jeruk.

Menurutnya, sejumlah penerima manfaat mulai merasakan gejala keracunan pada malam hari setelah mengonsumsi makanan tersebut.

“Mulai Senin malam sudah mulai ada yang bergejala. Kemudian lanjut di Selasa (28/7/2026) pagi sampai sore,” sambung Eko.

Mayoritas Korban Berasal dari Posyandu
Dari total 66 korban, sebanyak 47 orang merupakan penerima manfaat dari Posyandu Desa Pakisrejo.

Rinciannya, Posyandu 1 tercatat lima orang mengalami gejala, Posyandu 2 sebanyak 30 orang, dan Posyandu 3 sebanyak 12 orang.

Selain itu, terdapat satu guru dan dua siswa dari SD Pakisrejo yang turut mengalami gejala serupa.

Sementara 16 korban lainnya berasal dari sekolah-sekolah yang berada di wilayah kerja Puskesmas Banjarejo, Kecamatan Rejotangan.

“Alhamdulillah, semua sudah membaik. Mereka berobat ke Polindes, dokter mandiri dan Puskesmas,” tambahnya.

Laporan Awal Justru Berasal dari Perangkat Desa
Eko mengungkapkan adanya kesan bahwa kejadian tersebut tidak segera dilaporkan oleh pihak SPPG.

Menurutnya, informasi awal justru diterima dari perangkat desa setelah adanya laporan dari kader Posyandu yang menemukan sejumlah penerima manfaat mengalami gejala keracunan.

“Kan sudah ada pengawas di kecamatan, semua kejadian harus dilaporkan. Laporan justru dari perangkat desa,” keluh Eko.

Ia mengaku baru menerima laporan kronologi dan data korban secara lengkap pada Rabu (29/7/2026) pagi.

Setelah menerima laporan tersebut, tim Pengawas Keamanan Pangan Program MBG bersama Dinas Kesehatan langsung turun ke lapangan untuk melakukan penelusuran dan surveilans terhadap korban.

Camat Sebut Penanganan Berjalan Cepat
Sementara itu, Camat Rejotangan, Didi Jarot Widodo Nursamsu, memastikan kondisi seluruh korban saat ini telah membaik.

Menurutnya, pihak SPPG juga bergerak cepat memberikan bantuan kepada penerima manfaat yang mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan MBG.

“Pihak SPPG sebenarnya juga responsif. Mereka juga memberikan obat kepada yang bergejala,” ujarnya.

Ia menilai proses penanganan kasus berjalan cepat karena adanya koordinasi yang baik antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, pihak kecamatan, hingga pengelola program MBG.

“Jadi saya melihat, dari sisi penanganannya termasuk responsif,” ucapnya.

Hingga kini, operasional SPPG Pakisrejo masih dihentikan sementara sambil menunggu keputusan lebih lanjut dari Badan Gizi Nasional (BGN) terkait hasil evaluasi dan penanganan kasus tersebut.

(David Yohanes/tribunmataraman.com) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.