PLTMH Penyangga Energi Beberapa Desa Pelosok di Jambi Rusak, Tak Ada Lampu saat Malam
asto s July 31, 2026 11:48 AM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Selama lebih dari satu dekade, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) menjadi satu-satunya sumber listrik bagi warga Desa Air Liki, Kecamatan Tabir Barat.

Sejak beroperasi pada 2013, aliran listrik dari turbin air ini telah menjadi napas bagi sekitar 200 rumah warga.

Desa ini berjarak 139 kilometer dari Bangko, ibukota Kabupaten Merangin, PLTMH Air Liki dibangun untuk menyiasati jaringan listrik PLN belum menjangkau desa tersebut. 

"Jika satu rumah dihuni rata-rata 4 hingga 5 orang, setidaknya ada 800 sampai 1.000 jiwa yang menggantungkan hidupnya pada pembangkit ini setiap hari," ujar Kepala Desa Air Liki, Anton, Jumat (10/7/2026).

Pasokan listrik mikro hidro tersebut tidak berhenti di ambang pintu rumah warga. Satu masjid, tujuh surau, kantor desa, hingga fasilitas pendidikan seperti sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) turut menikmati daya yang sama. Praktis, seluruh denyut aktivitas publik desa, dari pelayanan administrasi, proses belajar-mengajar, hingga ibadah keagamaan, bertumpu pada satu unit pembangkit ini.

Mengubah Kebiasaan secara Drastis

Hadirnya PLTMH meretas gelap malam yang dulu membatasi aktivitas warga. 

Sebelum 2013, anak-anak Air Liki belajar di bawah remang lampu teplok. 

Masuknya arus listrik mengubah kebiasaan itu secara drastis. Kini, anak-anak memiliki waktu belajar malam yang lebih panjang dengan penerangan memadai. Beberapa di antaranya bahkan mulai mengenal dan mengoperasikan laptop, sebuah kemewahan belajar yang dulunya mustahil terwujud di desa terpencil.

Di sektor ekonomi, listrik menggerakkan roda UMKM lokal. Tercatat sedikitnya 30 pelaku usaha kecil bergantung pada aliran daya PLTMH.

Mulai dari warung kelontong yang memanfaatkan kulkas pendingin, jasa pengelasan, hingga penggilingan hasil bumi.

Namun, napas kehidupan itu kini terancam terhenti.

Pembangkit Tua dalam Ancaman Kerusakan

Petugas menunjukan mesin PLTMH, di Dusun Tuo, Kecamatan Lembah Masurai Merangin
Petugas menunjukan mesin PLTMH, di Dusun Tuo, Kecamatan Lembah Masurai Merangin

Setelah lebih dari satu dekade beroperasi, komponen utama PLTMH Air Liki mulai tergerus usia. Kerusakan berat menghantam bagian dinamo atau generator, mesin krusial yang mengonversi putaran turbin air menjadi energi listrik.

Anton menjelaskan, kerusakan dinamo membuat kapasitas daya terjun bebas. Dari kapasitas ideal sebesar 60 kilowatt (60.000 watt), kini mesin tersebut hanya mampu memproduksi sekitar 40 kilowatt.

Daya yang tersisa jauh dari kata cukup untuk menopang kebutuhan ratusan kepala keluarga. 

Sisa arus tersebut hanya mampu menyalakan satu hingga dua lampu berdaya rendah di setiap rumah. 

Berbagai peralatan elektronik warga, seperti kulkas dan mesin usaha, tak lagi bisa dinyalakan.

"Sudah turun jauh sekali dari dulu, malah bisa dibilang sudah hilang,'" kata Anto.

Kembali ke Mode Lama

Sebagian warga, kini terpaksa kembali ke mode bertahan hidup sederhana. Mereka mengandalkan lampu LED darurat berbasis baterai isi ulang. 

Penerangan itu cukup untuk menembus gelap malam, tetapi tak mampu memutar roda perekonomian.

Keterbatasan Iuran dan Geografi

Upaya perbaikan tak bisa dilakukan dalam sekejap. Kendala utamanya adalah harga dinamo pengganti yang mencapai puluhan juta rupiah, tergantung pada kapasitas generator dan tingkat kerusakannya.

Uang kas pengelola yang bersumber dari iuran bulanan warga, tak memadai untuk menutup biaya perbaikan sebesar itu.

Iuran selama ini hanya cukup untuk menutup biaya operasional dan perawatan harian.

Tantangan makin berat akibat letak geografis. 

Lokasi turbin berada sekitar dua kilometer di luar permukiman, melintasi medan yang sulit dijangkau untuk pemeriksaan maupun perawatan berkala. 

Selain itu, keandalan pasokan listrik sangat bergantung pada debit air sungai. 

Saat musim kemarau tiba dan aliran air menyusut, produksi listrik merosot tajam.

Bagi warga Air Liki, kerusakan PLTMH bukan sekadar perkara mesin yang mati. Yang ikut meredup adalah kesempatan anak-anak meraih masa depan lewat pendidikan, serta mata pencaharian warga yang menggantungkan hidup dari aliran arus listrik.

Banjir Bandang Lumpuhkan Pulau Tengah dan Rantau Kermas

Petugas menunjukan mesin PLTMH, di Rantau Kermas, Kecamatan Jangkat, Merangin
Petugas menunjukan mesin PLTMH, di Rantau Kermas, Kecamatan Jangkat, Merangin

Krisis energi mikro hidro di Merangin tidak hanya terjadi di Air Liki. 

Di Desa Pulau Tengah, Kecamatan Jangkat, fasilitas PLTMH yang melayani sekitar 500 warga lumpuh total setelah diterjang banjir bandang. 

Pembangkit tersebut mati suri dan tak lagi menghasilkan listrik.

Banjir menyapu bantaran sungai dengan membawa material kayu, lumpur, dan batu yang menghantam rumah turbin. 

Baca juga: Kesaksian Darwati, Orang Pertama yang Melihat Api Melalap Asrama Polisi di Belakang Polda Jambi

Meski warga bergotong royong membersihkan saluran air dan fasilitas penunjang pascabencana, kerusakan pada komponen dinamo tidak dapat diselesaikan dengan kerja bakti.

"Harga dinamo bekas saja sekitar Rp45 juta," ungkap Kepala Desa Pulau Tengah, Hira Supionhadi. 

Nilai tersebut berada jauh di luar jangkauan kas swadaya pengelola.

Padahal, dari kapasitas 30.000 watt yang dimiliki PLTMH Pulau Tengah, sekitar 50 persen warga desa masih mengandalkannya sebagai sumber listrik utama karena biayanya yang jauh lebih murah ketimbang tarif listrik PLN.

Ancaman serupa membayangi Desa Rantau Kermas, Kecamatan Jangkat. 

Banjir bandang menggerus bantaran sungai dan menghanyutkan benteng pengaman bendung PLTMH.

"Pengaman ini hanyut. Sekali lagi banjir bandang terjadi, itu yang sangat kami khawatirkan," tutur Kepala Desa Rantau Kermas, Hadirin.

Tanpa penahan air di bagian hulu, struktur pembangkit terancam runtuh total. 

Untuk mencegah kerusakan lebih fatal saat debit air melonjak, pengelola sementara waktu terpaksa menutup pintu air secara berkala. 

Tapi itu ada akibatnya. Imbasnya, pasokan listrik menjadi tidak stabil dan tegangan fluktuatif.

Padahal, PLTMH Rantau Kermas menopang aktivitas sekitar 150 kepala keluarga serta berbagai unit usaha desa, mulai dari usaha pembuatan kue, roasting kopi, hingga bengkel pertukangan. 

Dana Desa Terkunci

Berbeda dengan jaringan PLN yang kerap mengalami pemeliharaan giliran, PLTMH Rantau Kermas selama ini beroperasi penuh 24 jam nonstop berkat dinamo berkapasitas 49.000 watt yang didatangkan dari Bandung pada 2018.

Pemerintah Desa Rantau Kermas telah mengalkulasi kebutuhan pembangunan dinding bronjong pengaman sungai yang diperkirakan menelan biaya sekitar Rp40 juta. 

Namun, rencana itu terkunci rapat karena keterbatasan anggaran desa.

"Sekarang tidak bisa menggunakan Dana Desa karena pagunya sudah terpangkas. Jadi tidak ada alokasi anggaran yang bisa kami pakai untuk perbaikan PLTMH," jelas Hadirin.

Over Kapasitas di Dusun Tuo

Di sudut lain Kabupaten Merangin, Desa Dusun Tuo menghadapi permasalahan yang berbeda. 

Pembangkit listrik mikro hidro di desa ini termasuk salah satu yang tertua, telah beroperasi sejak 1987 dan melayani sekitar 600 kepala keluarga.

Dengan kapasitas total 100.000 watt dari dua unit turbin, PLTMH Dusun Tuo kini harus menanggung beban berlebih. 

Ketua Pengelola PLTMH Dusun Tuo, Suryadi, menyebutkan jumlah sambungan saat ini telah membengkak hingga 660 titik.

"Setiap tahun ada penambahan jaringan baru, sehingga mesin mengalami overload," ujar Suryadi.

Dampaknya terasa langsung pada penurunan kualitas daya. Pada jam-jam beban puncak malam hari, tegangan merosot drastis. Penanak nasi elektronik tak mampu memasak nasi hingga matang, dan kulkas tidak dapat mendinginkan secara maksimal.

Untuk memulihkan keandalan jaringan, pengelola berencana menambah satu unit turbin baru berkapasitas 200 kWh. 

Namun, proyek pengadaan tersebut membutuhkan suntikan dana yang tak sedikit: sekitar Rp700 juta.

"Pembangunan belum bisa berjalan karena keterbatasan anggaran. Pemangkasan Dana Desa membuat kami tidak lagi bisa mengalokasikan bantuan dana pembangunan seperti tahun-tahun sebelumnya," terang Kepala Desa Dusun Tuo, Tarmizi.

Pendapatan vs Pengeluaran

Pengunjung berada di saluran irigasi PLTMH, di Rantau Kermas, Kecamatan Jangkat, Merangin.
Pengunjung berada di saluran irigasi PLTMH, di Rantau Kermas, Kecamatan Jangkat, Merangin.

Meskipun PLTMH Dusun Tuo mampu membukukan pendapatan kotor sekitar Rp30 juta per bulan dari tarif iuran Rp1.200 per kWh, sekitar Rp15 juta habis digunakan untuk operasional harian, pemeliharaan jaringan, serta pembiayaan 15 orang tenaga kerja lokal.

"Jika bantuan dari pemerintah tidak kunjung turun, kami mempertimbangkan opsi mengajukan pinjaman ke bank. Langkah ini harus diambil agar kebutuhan energi masyarakat pedalaman tetap terjamin," pungkas Suryadi. (Tribun Jambi/Heri Prihartono)

Baca juga: Brigjen Pol Asep Saipudin Buka-bukaan Jaringan Narkotika di Jambi, Peacock hingga Golden Triangle

Baca juga: Darwanti: Saya Kira Suami Bakar Sampah, Ternyata 8 Rumah Asrama Polda Jambi Terbakar

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.