Penggilingan Padi Milik Warga di Banyuasin Banyak Tutup, Petani Kini Pilih Jual Gabah Langsung
Odi Aria July 31, 2026 01:27 PM

SRIPOKU.COM, BANYUASIN– Penggilingan padi milik masyarakat di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, kini banyak yang tidak lagi beroperasi.

Kondisi ini dipicu perubahan pola penjualan hasil panen oleh petani yang lebih memilih menjual gabah langsung di sawah dibanding mengolahnya menjadi beras.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kabupaten Banyuasin, Sarip, mengatakan berdasarkan hasil survei di lapangan, sebagian besar petani memilih menjual gabah kepada tengkulak yang datang langsung ke lokasi panen.

Menurutnya, cara tersebut dinilai lebih praktis karena petani bisa langsung memperoleh uang tanpa harus melalui proses penjemuran, penggilingan, hingga pemasaran beras.

"Untuk 100 kilogram gabah yang digiling menjadi beras hanya menghasilkan sekitar 55 sampai 60 kilogram beras. Itu sudah mengalami penyusutan. Belum lagi prosesnya harus dijemur, dibawa ke penggilingan, baru dijual. Prosesnya lebih lama dibanding langsung menjual gabah ke tengkulak di sawah," ujar Sarip, Jumat (31/7/2026).

Ia menjelaskan, selisih keuntungan antara menjual gabah langsung dan menjualnya setelah menjadi beras juga relatif kecil.

Dari perhitungannya, selisih pendapatan hanya berkisar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu untuk setiap 100 kilogram gabah.

"Karena selisihnya sedikit, petani lebih memilih menjual gabah langsung di sawah. Selain lebih cepat mendapatkan uang, mereka juga tidak perlu mengeluarkan tenaga dan biaya tambahan untuk proses penggilingan," katanya.

Sarip mengakui usaha penggilingan padi skala masyarakat sulit bersaing dengan perusahaan penggilingan besar yang memiliki modal kuat dan teknologi modern.

Menurutnya, perusahaan besar mampu membeli gabah dalam jumlah besar dan memiliki kapasitas produksi hingga ratusan ton per jam.

"Kalau keuntungan sampai miliaran rupiah per bulan mungkin bisa dicapai perusahaan penggilingan besar. Mereka punya modal besar, mampu membeli gabah petani, dan menggunakan peralatan yang lebih canggih," ujarnya.

Sebaliknya, penggilingan padi milik masyarakat terkendala keterbatasan modal dan peralatan sehingga tidak mampu bersaing.

Akibatnya, banyak penggilingan padi rakyat yang akhirnya berhenti beroperasi.

Saat ini, kata Sarip, petani yang ingin menggiling sebagian gabah untuk kebutuhan konsumsi keluarga lebih banyak memanfaatkan jasa penggilingan padi keliling.

"Kalau ingin menggiling gabah untuk kebutuhan makan, sekarang tinggal memanggil penggilingan keliling yang ukurannya kecil dan bisa diangkut menggunakan mobil pikap. Fenomenanya sekarang memang seperti itu, gabah dijual langsung di sawah, sedangkan yang disisihkan untuk konsumsi digiling menggunakan penggilingan keliling," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.