TRIBUNSTYLE.COM - Citra satelit menunjukkan kerusakan signifikan di pangkalan militer Amerika Serikat yang ada di Kuwait dan Yordania.
Kerusakan terjadi setelah serangan rudal dan drone yang dikirim Iran.
Temuan citra satelit memunculkan dugaan adanya kerusakan di sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah setelah Iran mengumumkan operasi balasan terhadap fasilitas militer AS di kawasan tersebut.
Menurut keterangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serangan ke Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait menyasar hanggar drone dan depot penyimpanan bahan bakar.
Iran mengklaim kedua fasilitas mengalami kerusakan akibat gempuran rudal dan drone yang dilancarkan pasukannya.
Citra satelit yang kemudian beredar memperlihatkan adanya kerusakan di area yang disebut sebagai lokasi sasaran serangan.
Baca juga: Balas Dendam di Timur Tengah, AS Luncurkan Serangan Besar-besaran Hantam Pangkalan Militer Iran
Meski demikian, hingga saat ini pemerintah Amerika Serikat maupun otoritas Kuwait belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait klaim ini.
Di Yordania, citra satelit juga memperlihatkan sejumlah titik yang diduga merupakan dampak serangan di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti.
Sebelumnya, IRGC menyatakan rudal balistik yang ditembakkan menghantam hanggar pesawat dan kawasan operasional militer di pangkalan.
Iran bahkan mengklaim tiga jet tempur F-35 hancur, sementara tiga unit lainnya mengalami kerusakan berat.
Sejumlah analis intelijen sumber terbuka menilai citra satelit memang menunjukkan indikasi kerusakan.
Namun, tingkat kerusakan yang sebenarnya masih memerlukan proses verifikasi lebih lanjut.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Iran juga mengaku kembali melancarkan serangan drone ke Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain.
Dalam klaim Teheran, serangan tersebut merusak generator listrik, sistem navigasi, hingga sejumlah fasilitas pendukung militer Amerika Serikat.
Iran menyebut seluruh rangkaian operasi itu sebagai respons atas aksi militer Amerika Serikat yang sebelumnya menyerang wilayahnya.
Pemerintah Iran juga menegaskan operasi militer akan terus dilakukan selama serangan AS terhadap wilayah Iran belum dihentikan.
Baca juga: Iran Agresif Merudal, AS Tak Lagi Jadi Tameng Pertahanan, Yordania Desak Pasukan Trump Angkat Kaki
Di tengah meningkatnya situasi keamanan kawasan, Teheran turut mengingatkan negara-negara di Timur Tengah untuk mengantisipasi kemungkinan meluasnya konflik.
Meski demikian, seluruh klaim Iran mengenai kerusakan pangkalan militer AS maupun temuan citra satelit tersebut hingga kini masih belum dapat diverifikasi secara independen.
Di sisi lain, Amerika Serikat diduga telah memindahkan personel serta sejumlah aset militernya dari dua pangkalan utama di Uni Emirat Arab dan Qatar.
Dugaan tersebut mencuat setelah citra satelit terbaru memperlihatkan berkurangnya keberadaan aset militer di kedua lokasi tersebut.
Dalam laporan disebutkan sedikitnya lima pesawat militer yang sebelumnya berada di Pangkalan Udara Al Dhafra sudah tidak lagi terlihat.
Amerika Serikat diduga memindahkan seluruh pesawat hanya dalam hitungan beberapa hari.
Fars juga menyebut Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar mengalami pengurangan aset militer.
Pangkalan Al Udeid selama ini dikenal sebagai markas terbesar militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sekaligus menjadi pusat Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).
Sementara itu, Al Dhafra memiliki peran penting sebagai pusat operasi pengintaian, pengisian bahan bakar di udara, serta sistem pertahanan udara AS.
Laporan mengenai dugaan evakuasi tersebut muncul setelah Iran mengklaim melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.
Salah satu target yang disebut Iran adalah Pangkalan Udara Muwaffaq Salti atau Azraq di Yordania.
Teheran mengklaim serangan menyebabkan kerusakan pada hanggar pesawat, fasilitas militer, serta berbagai aset penting milik Amerika Serikat.
Media-media Iran menilai pemindahan aset dari Al Dhafra dan Al Udeid merupakan langkah antisipasi untuk mengurangi risiko apabila terjadi serangan lanjutan.
Namun hingga kini, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan konfirmasi maupun pernyataan resmi terkait laporan dugaan evakuasi aset dan personel dari kedua pangkalan. (Tribun Style/Tribun Video)