London (ANTARA) - Pemerintah Spanyol, Kamis (30/7), memanggil duta besar Italia untuk Madrid setelah Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menyerukan penangguhan keikutsertaan Spanyol dalam kawasan Schengen.

Seruan itu muncul di tengah sengketa diplomatik terkait lonjakan kedatangan migran di Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara.

Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares mengecam pernyataan Tajani dan mengumumkan bahwa Duta Besar Italia telah dipanggil.

“Pesan ini tidak pantas disampaikan oleh Menteri Luar Negeri dari negara mitra dan sahabat, yang darinya kami mengharapkan solidaritas Eropa, bukan demagogi partisan. Peristiwa hari ini berkaitan dengan putusan pengadilan dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan isi unggahan tersebut. Saya akan memanggil Duta Besar Italia besok,” tulis Albares di platform media sosial X.

Sebelumnya pada hari yang sama, Tajani menyatakan mendukung penangguhan keikutsertaan Spanyol dalam kawasan Schengen dan mengaitkannya dengan krisis migrasi di Ceuta.

“Saya mendukung penutupan kawasan Schengen bagi Spanyol,” tulis Tajani di X.

Ia berpendapat bahwa “imigrasi ilegal yang tidak terkendali menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional.”

“Gambar-gambar yang datang dari Ceuta menunjukkan bahwa keputusan Pemerintah Madrid memberikan kewarganegaraan Spanyol, dan dengan demikian kewarganegaraan Eropa, kepada lebih dari 500.000 imigran ilegal merupakan langkah yang sangat keliru dan mendorong perdagangan manusia,” tambahnya.

Ribuan pemuda Maroko berkumpul pada Kamis di dekat perbatasan yang memisahkan Kota Castillejos di Maroko dan Ceuta dalam upaya yang diduga terkoordinasi untuk memasuki wilayah Spanyol, menurut kantor berita EFE.

EFE melaporkan ratusan orang memanjat pagar perbatasan, sementara lainnya menuju pemecah ombak dan masuk ke laut dalam upaya mencapai Ceuta.

Menurut EFE, aparat keamanan Maroko membentuk barikade di sejumlah lokasi dan menahan beberapa orang. Namun, banyak kelompok lainnya tetap bergerak menuju perbatasan.

Kantor berita itu menyebutkan bahwa pergerakan massa tersebut bertepatan dengan perayaan 27 tahun naik takhtanya Raja Mohammed VI.

Sementara itu, otoritas Maroko menyatakan tidak mengetahui penyebab berkumpulnya massa dalam jumlah besar di kawasan perbatasan.

Pemerintah Spanyol juga mengumumkan bahwa angkatan bersenjata akan dikerahkan untuk membantu Garda Sipil menjaga keamanan di seluruh wilayah kota.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez dan Menteri Dalam Negeri Fernando Grande-Marlaska dijadwalkan mengunjungi Ceuta pada Jumat untuk meninjau langsung situasi di lapangan.

Sumber: Anadolu