TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Padang memohon maaf kepada masyarakat terkait Jembatan Putus Nanggalo Padang yang hingga kini belum mengalami perbaikan fisik.
Kadis PUPR Kota Padang, Malvi Hendri, menyampaikan permohonan maaf tersebut secara langsung saat memberikan keterangan resmi mengenai penanganan Jembatan Putus Nanggalo Padang, Jumat (31/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa pemerintah daerah sudah memasukkan penanganan Jembatan Putus Nanggalo Padang ke dalam dokumen Rencana Rehab Rekonstruksi Pasca Bencana (R3P) untuk proses percepatan.
"Sebelumnya kami dari Pemko Padang mengucapkan permohonan maaf atas ketidaknyamanan dari masyarakat atau warga sekitar lokasi," ujar Malvi.
Kata dia, pihaknya sudah menyampaikan usulan jembatan tersebut. Namun sampai saat ini masih dalam proses perencanaan.
Baca juga: Truk Rem Blong di Lembah Anai Sempat Lumpuhkan Arus Lalu Lintas, Petugas Tuntas Lakukan Evakuasi
"Kita sudah usulkan dalam dokumen R3P, informasinya akan dilaksanakan BWS V Sumatera dan sedang dalam proses perencanaan," jelasnya.
Akan tetapi, ia belum dapat memastikan kapan pelaksanaan akan dilakukan. Untuk itu Malvi menyebut pihak PUPR akan mengkoordinasikan kembali dengan BWS V Sumatera.
"Untuk kepastian pelaksanaan kami koordinasikan dulu dengan pihak BWS V Sumatera," tambahnya.
Selain itu, akses ini juga dimanfaatkan oleh sebagian warga yang akan menuju yang akan menuju ke kawasan Siteba yang masih di berada dalam wilayah Kecamatan Nanggalo.
Baca juga: Harga TBS Sawit Dharmasraya Tembus Rp 3.972 per Kg, Cek Daftar Lengkap Harga di 8 PKS
Jembatan ini merupakan akses masyarakat ke fasilitas publik dan dimanfaatkan sebagai arus lalu lintas setiap harinya.
Pantauan TribunPadang.com di lapangan sekira pukul 15.51 WIB, tampak sebagian jembatan yang berada di arah Surau Gadang sudah berada di dalam aliran sungai.
Sementara itu, sisa struktur jembatan di Jalan Sawah Liek, Kelurahan Kampung Olo, memang masih berdiri, namun bagian tengahnya sudah terputus.
Pengendara yang tidak tahu informasi jalan putus, tampak ingin melintas, namun melihat kondisinya di lapangan, langsung mencari jalur lain.
Di sisi lain, anak-anak Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Masjid Raya Surau Gadang Nanggalo, tampak bermain air yang berada 100 meter lebih dari jembatan putus.
Sesekali mereka melintasi sungai sembari bermain air bersama anak-anak MDA lainnya.
Baca juga: Mantan Pelajar SMKN 1 Kota Solok Ditusuk Akibat Bunyi Klakson, Polisi Kantongi Identitas Pelaku
Menurut keterangan warga sekitar, Ari (46) mengatakan bahwa jembatan putus sudah terjadi sejak bencana akhir November 2025 lalu.
Pasca delapan bulan bencana, pemerintah belum kunjung memperbaiki akses lalu lintas antara dua kelurahan tersebut.
"Sudah lama putusnya, sejak akhir 2025. Sampai saat ini, belum ada perbaikan, akses lalu lintas kami terganggu," ucapnya di lokasi.
Ia mengaku, harus memutar arah jika ingin ke Siteba, Nanggalo dari Kelurahan Gunung Panggilun.
Hal itu membuat ia harus menghabiskan waktu tempuh yang lebih jauh dari biasanya. Sehingga, putusnya jembatan membuat ia tak dapat melintas dengan cepat.
"Kalau kita mau ke Siteba, harus memutar dulu, jaraknya tentu jauh dari ini, karena tepat lokasi jembatan kan tepat di rumah saya. Biasanya ke seberang cuma, sekarang harus memutar dan menghabiskan waktu 15 menit," pungkasnya.
Baca juga: PUPR Padang Jelaskan Nasib Jembatan Putus Nanggalo yang Sudah 8 Bulan Hancur Dihantam Banjir
Putusnya jembatan ini juga berdampak langsung pada anak-anak yang akan berangkat ke sekolah atau belajar agama di masjid.
Akibatnya anak-anak terpaksa melintasi aliran sungai secara langsung untuk pergi ke masjid.
Beruntung, saat ini debit air sungai dalam kondisi dangkal sehingga masih bisa dilewati dengan aman oleh anak-anak.
"Anak-anak kalau mau ke MDA, lewat air ini sejak jembatan putus, karena lokasinya di seberang. Tapi, airnya dangkal, kalau besar tentu tak bisa lewat, harus memutar," ungkapnya.
Baca juga: Kuliah S1 dan S2 Tak Harus Mengganggu Karier, Ini Solusi dari BINUS ONLINE
Dampak lain dari terputusnya jembatan ini turut dirasakan para pelaku usaha di sekitar lokasi.
Palma, salah seorang pemilik kafe setempat, mengaku pendapatannya merosot drastis akibat sepinya pengguna jalan yang melintas.
Kondisi tersebut sudah dirasakannya sejak delapan bulan pascabencana, sehingga usaha miliknya tidak berjalan lancar.
Kafe miliknya kini lebih sering kosong tanpa adanya pembeli yang datang berbelanja.
Hal itu dikarenakan, kebanyakan dari pembeli biasanya adalah warga yang melintas di jembatan yang hancur akibat bencana tersebut.
Baca juga: PUPR Padang Jelaskan Nasib Jembatan Putus Nanggalo yang Sudah 8 Bulan Hancur Dihantam Banjir
"Biasanya banyak yang lewat di jembatan ini sebelum putus, jadi kafe saya cukup ramai. Kalau sekarang, tidak ada pembeli," jelasnya.
Ia berharap, pemerintah atau pihak terkait dapat memperbaiki jembatan putus pasca bencana tersebut.
Dengan begitu, akses lalu lintas masyarakat bisa kembali normal dan tidak memutar ke lokasi yang lebih jauh.
"Harapan kami sebagai masyarakat tentu jembatan ini bisa segera diperbaiki, sekarang ini masyarakat kesulitan melintas ke seberang," pungkasnya. (*)