Buka Tutup Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk di Tengah Cuaca Buruk, ASDP Utamakan Keselamatan
Titis Jati Permata July 31, 2026 04:32 PM

 

SURYA.co.id, BANYUWANGI – Cuaca buruk yang melanda perairan Selat Bali dalam tiga hari terakhir memaksa operasional penyeberangan Ketapang-Gilimanuk diberlakukan secara buka-tutup.

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menegaskan penyesuaian layanan dilakukan demi menjaga keselamatan pelayaran di tengah kondisi angin kencang dan gelombang tinggi.

Selama tiga hari terakhir, operasional penyeberangan beberapa kali dihentikan sementara karena kondisi cuaca maritim yang belum memenuhi standar keselamatan.

Ditutup Sementara karena Gelombang Tinggi

Pada Kamis (30/7/2026), layanan penyeberangan dihentikan mulai pukul 12.05 WIB akibat cuaca berawan, angin kencang, dan gelombang tinggi. 

Operasional kembali dibuka sekitar pukul 13.20 WIB setelah kondisi dinyatakan lebih aman.

Baca juga: Gapasdap Optimistis Dermaga Baru di Pelabuhan Ketapang Lancarkan Penyeberangan Jawa-Bali

Sebelumnya, pada Senin (28/7/2026), penghentian sementara pelayaran bahkan dilakukan dua kali dalam sehari karena cuaca di Selat Bali yang berubah dengan cepat.

Menurut ASDP, perubahan kecepatan angin dan tinggi gelombang yang berlangsung dinamis membuat operasional lintas Ketapang-Gilimanuk harus disesuaikan secara situasional berdasarkan hasil pemantauan lapangan dan rekomendasi otoritas terkait.

Keselamatan Jadi Prioritas

General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko Kurniansjah, mengatakan seluruh keputusan membuka maupun menutup sementara layanan penyeberangan dilakukan dengan mengutamakan aspek keselamatan.

"Keselamatan selalu menjadi prioritas utama dalam setiap layanan penyeberangan. Penyesuaian operasional dilakukan sebagai langkah mitigasi risiko ketika kecepatan angin maupun tinggi gelombang belum memenuhi standar keselamatan pelayaran. Begitu kondisi dinyatakan aman oleh otoritas, layanan akan kembali dioperasikan secara bertahap," ujar Arief.

Ia menambahkan, operasional penyeberangan hingga kini masih sangat bergantung pada perkembangan cuaca maritim di Selat Bali.

Buffer Zone dan Armada Tambahan Disiapkan

Untuk mengurangi dampak terhadap pengguna jasa, ASDP memperkuat koordinasi dengan BMKG, KSOP Kelas III Tanjung Wangi, Satuan Pelayanan Pelabuhan Penyeberangan BPTD Kelas II Jawa Timur, serta kepolisian.

Selain itu, Buffer Zone Bulusan dioptimalkan sebagai lokasi penampungan sementara kendaraan, terutama angkutan logistik, selama operasional dihentikan.

ASDP juga menyiapkan armada tambahan agar antrean kendaraan dapat segera diurai setelah cuaca membaik dan kapal kembali diizinkan berlayar.

"Kami terus melakukan langkah antisipatif secara terpadu, mulai dari pemantauan cuaca, pengaturan operasional, optimalisasi buffer zone, kesiapan armada, hingga pengaturan lalu lintas bersama kepolisian. Dengan kolaborasi tersebut, kami berharap dampak penyesuaian operasional dapat diminimalkan tanpa mengesampingkan aspek keselamatan," kata Arief.

Tiket Tetap Berlaku Saat Force Majeure

Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry, Windy Andale, menegaskan setiap keputusan operasional mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Menurutnya, dalam kondisi cuaca ekstrem, kepatuhan terhadap regulasi menjadi dasar utama penyelenggaraan layanan penyeberangan.

"Keselamatan pelayaran merupakan amanat undang-undang yang harus dijalankan secara konsisten oleh seluruh pihak," ujar Windy.

Ia menambahkan, seluruh prosedur tersebut merupakan bagian dari sistem keselamatan pelayaran nasional untuk melindungi penumpang, awak kapal, dan seluruh pengguna jasa.

ASDP juga memastikan hak pengguna jasa tetap terlindungi selama kondisi force majeure akibat cuaca ekstrem.

Tiket yang telah dibeli tetap dapat digunakan kembali setelah kapal memperoleh izin berlayar dan layanan penyeberangan kembali beroperasi secara normal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.