BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Yayasan Sejahtera Bhakti Dharma Sentosa menegaskan komitmennya untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi generasi muda di Bangka Belitung melalui program beasiswa hingga 100 persen dan biaya kuliah yang terjangkau.
Ketua Yayasan Sejahtera Bhakti Dharma Sentosa, Cahyadi Tjhaij, mengatakan pendidikan tinggi tidak boleh menjadi hak yang hanya dinikmati oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi. Karena itu, yayasan membuka kesempatan bagi calon mahasiswa yang memiliki keterbatasan biaya namun memiliki semangat belajar, karakter yang baik, serta kemauan untuk berkembang.
"Misi Yayasan adalah Berbagi-Beramal. Kami ingin memastikan tidak ada anak-anak Bangka Belitung yang kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan hanya karena keterbatasan biaya. Melalui program beasiswa hingga 100 persen, kami berharap semakin banyak generasi muda yang memperoleh pendidikan berkualitas dan pada akhirnya mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat," ujar Cahyadi Tjhaij.
"Tujuan kami bukan mengejar keuntungan. Sebagai yayasan non-profit, keberhasilan kami diukur dari semakin banyak anak-anak Bangka Belitung yang dapat mengenyam pendidikan tinggi, memiliki kompetensi, memperoleh pekerjaan yang layak, bahkan mampu menciptakan lapangan kerja. Pendidikan adalah investasi terbaik bagi masa depan daerah, dan Yayasan berkomitmen menjadi bagian dari investasi tersebut," pungkas Cahyadi.
Ia menjelaskan bahwa pemberian beasiswa dilakukan melalui proses seleksi yang objektif dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi, prestasi akademik maupun non akademik, serta potensi calon mahasiswa. Program ini merupakan bentuk komitmen Yayasan sebagai lembaga non-profit yang berorientasi pada pembangunan sumber daya manusia.
Mengenai biaya pendidikan, Cahyadi menegaskan bahwa ABDI menetapkan biaya kuliah yang relatif terjangkau, yaitu Rp200.000 per bulan atau Rp1.200.000 per semester, sehingga dapat diakses oleh lebih banyak masyarakat.
"Kami sengaja menetapkan biaya kuliah yang ringan agar tidak menjadi beban bagi orang tua. Selain itu, sistem pembayarannya dapat diangsur setiap bulan, sehingga mahasiswa dan keluarga dapat mengelola keuangan dengan lebih baik tanpa mengganggu keberlangsungan studi," jelasnya.
Menurut Cahyadi, kebijakan biaya kuliah yang terjangkau dan fleksibel merupakan bagian dari komitmen Yayasan untuk memperluas akses pendidikan vokasi yang berkualitas. Dengan dukungan dosen profesional, kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri, serta peluang beasiswa hingga 100 persen, ABDI diharapkan mampu menjadi pilihan bagi generasi muda yang ingin memperoleh pendidikan tinggi yang berkualitas, siap kerja, dan tetap terjangkau.
"Biaya kuliah yang murah bukan berarti kualitasnya rendah. Kami ingin memutus stigma bahwa pendidikan berkualitas harus selalu mahal. Justru Yayasan mengambil peran untuk menopang pengembangan institusi, sehingga mahasiswa dapat menikmati pendidikan yang bermutu tanpa dibebani biaya yang tinggi," tegas Cahyadi.
Menurutnya, sebagai yayasan yang mengusung misi "Berbagi-Beramal", Yayasan Sejahtera Bhakti Dharma Sentosa berkomitmen menginvestasikan sumber daya untuk pengembangan kampus secara berkelanjutan, mulai dari pembangunan gedung, penyediaan laboratorium dan fasilitas pembelajaran, peningkatan teknologi pendidikan, hingga pengembangan kompetensi dosen.
Cahyadi Tjhaij, juga menegaskan bahwa ABDI hadir sebagai perguruan tinggi vokasi yang menyiapkan lulusan siap kerja dan siap berwirausaha. Oleh karena itu, proses pembelajaran dirancang dengan komposisi 70 persen praktik dan 30 persen teori, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memiliki pengalaman nyata dalam menyelesaikan berbagai persoalan di dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
"Kami ingin mahasiswa ABDI lulus dengan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan industri. Karena itu, pembelajaran kami lebih banyak praktik daripada teori. Sebanyak 70 persen proses belajar dilakukan melalui praktik, studi kasus, project based learning, magang, dan pembelajaran berbasis industri, sedangkan 30 persen diberikan dalam bentuk penguatan teori. Dengan model ini, lulusan akan lebih siap memasuki dunia kerja maupun membangun usaha sendiri," ujar Cahyadi Tjhaij.
Ia menambahkan bahwa keunggulan tersebut didukung oleh dosen yang memiliki pengalaman profesional, kurikulum yang disusun bersama dunia usaha dan dunia industri, serta pembelajaran yang berorientasi pada penyelesaian masalah nyata di lapangan.
"ABDI tidak hanya mencetak lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga lulusan yang memiliki keterampilan, etos kerja, kemampuan beradaptasi, dan jiwa kewirausahaan. Kami ingin setiap lulusan mampu memberikan manfaat bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakat," tambahnya.
Menurut Cahyadi, komitmen tersebut juga diwujudkan melalui biaya kuliah yang sangat terjangkau, yakni hanya Rp200.000 per bulan atau Rp1.200.000 per semester, yang dapat diangsur setiap bulan. Selain itu, Yayasan menyediakan program beasiswa hingga 100 persen bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi maupun prestasi, sehingga tidak ada generasi muda yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi hanya karena persoalan biaya. (*/E1)