TRIBUNJAMBI.COM - Riuh suara diskusi memenuhi ruang kelas 4 SD Negeri 121/IX Mekar Jaya, Kabupaten Muaro Jambi. Tidak ada siswa yang hanya duduk diam mendengarkan guru menjelaskan materi. Sebagian berdiskusi dalam kelompok kecil, beberapa lainnya berpindah ke sudut kelas untuk menyelesaikan tantangan berikutnya, sementara sekelompok siswa tampak antusias mencoba papan interaktif digital atau smart board yang tersedia di sekolah mereka dari pemerintah melalui inisiatif digitalisasi pendidikan nasional.
Di depan kelas, Fatmadewi, S.Pd.SD, tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Ia lebih banyak berkeliling, mendengarkan percakapan peserta didik, mengajukan pertanyaan pemantik, lalu sesekali memberikan arahan ketika diperlukan.
"Kalau hanya mendengarkan guru berbicara, anak cepat bosan. Saya ingin mereka menemukan sendiri jawabannya," ujarnya.
Pemandangan seperti ini mungkin sulit ditemui beberapa tahun lalu. Setelah hampir tiga dekade mengajar, Fatmadewi justru memilih mengubah cara mengajarnya. Baginya, pengalaman panjang bukan alasan untuk bertahan dengan cara lama, melainkan bekal untuk terus beradaptasi mengikuti kebutuhan peserta didik.
Tahun ini menjadi penanda 30 tahun perjalanan pengabdiannya sebagai guru. Sejak memulai karier pada 1996 dan bergabung di SD Negeri 121/IX Mekar Jaya pada 1998, ia telah mengajar hampir semua mata pelajaran dan semua jenjang kelas, mulai dari kelas rendah hingga kelas tinggi.
Selama itu pula ia melihat perubahan besar dalam dunia pendidikan.
Menurutnya, tantangan guru saat ini bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi memastikan setiap anak mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Di kelas rendah, misalnya, masih banyak peserta didik yang masuk sekolah dasar tanpa pengalaman belajar di PAUD atau taman kanak-kanak. Bahkan, sebagian belum mampu membaca ketika mulai bersekolah.
"Guru harus memberikan pendampingan yang berbeda kepada setiap anak. Tidak semua anak memulai dari titik yang sama," tuturnya.
Kesadaran itulah yang membuat Fatmadewi tidak pernah berhenti belajar.
Namun, salah satu titik balik terpenting dalam perjalanan profesionalnya terjadi pada 2021.
Di tengah pandemi COVID-19, Fatmadewi mengikuti seleksi menjadi Fasilitator Daerah (Fasda) Program PINTAR Tanoto Foundation. Saat itu seluruh proses pendampingan dilakukan secara daring melalui Zoom. Rasa penasaran melihat praktik-praktik baik yang dilakukan guru dari berbagai daerah menjadi alasan utamanya mendaftar.
"Saya ingin belajar bagaimana guru-guru lain mengajar. Ternyata setelah bergabung, saya mendapatkan banyak sekali inspirasi yang bisa diterapkan di kelas," kenangnya.
Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap pembelajaran.
Belum lama ini, pengalaman belajar peserta didiknya semakin kaya dengan hadirnya smart board di sekolah mereka dari pemerintah melalui inisiatif digitalisasi pendidikan nasional. Perangkat tersebut dimanfaatkan sebagai media interaktif untuk mengerjakan soal, mempresentasikan jawaban, maupun berdiskusi bersama.
Antusiasme peserta didik langsung terlihat sejak hari pertama.
"Mereka senang sekali. Bergantian maju ke depan, mencoba mengerjakan soal di layar. Rasanya seperti bermain, padahal mereka sedang belajar," ujarnya sambil tersenyum.
Selain memanfaatkan smart board, Fatmadewi juga menggunakan berbagai platform digital seperti Quizizz, Wayground, akun belajar.id, hingga lembar kerja berbasis barcode yang dapat diakses menggunakan gawai.
Namun, di balik berbagai inovasi digital tersebut, ia tetap meyakini bahwa teknologi hanyalah alat.
Yang terpenting adalah bagaimana guru membangun fondasi belajar yang kuat, terutama dalam matematika.
Sebagai Fasilitator Daerah Tanoto Foundation, Fatmadewi juga mendampingi banyak guru untuk berani mencoba pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif. Menurutnya, semakin banyak guru yang mulai terbuka terhadap pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.
Ia melihat perubahan yang cukup besar dibanding beberapa tahun lalu.
"Banyak guru sekarang sudah melek digital. Semangat mereka luar biasa. Kadang yang menjadi kendala hanya fasilitas. Ketika fasilitas terbatas, inovasi sering kali ikut terhambat. Tetapi semangat belajar mereka tetap ada."
Baginya, dukungan kepala sekolah menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong perubahan.
Di sekolahnya, kepala sekolah memberikan ruang kepada guru untuk bereksperimen, mengikuti pelatihan, dan mencoba berbagai pendekatan pembelajaran baru. Dukungan tersebut membuat para guru semakin percaya diri untuk terus berkembang.
"Kalau kepala sekolah mendukung, guru akan terpacu. Guru tidak takut mencoba hal-hal baru."
Hampir tiga puluh tahun mengajar membuat Fatmadewi memahami satu hal sederhana: guru yang baik bukanlah guru yang merasa sudah tahu segalanya, melainkan guru yang terus belajar.
Semangat itulah yang terus ia tularkan, baik kepada peserta didik di kelas maupun kepada rekan-rekan guru yang ia dampingi sebagai Fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation.
Di ruang kelas sederhana di Muaro Jambi itu, perubahan memang tidak selalu dimulai dari teknologi canggih atau fasilitas yang serba lengkap. Perubahan justru lahir dari seorang guru yang memilih untuk terus belajar, berani mencoba, dan percaya bahwa setiap anak mampu berkembang ketika diberikan kesempatan untuk belajar dengan cara yang tepat.
Bagi Fatmadewi, menjadi guru berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sebab ketika guru terus bertumbuh, murid-murid pun akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk tumbuh bersama mereka.