Penulis : Eklevina Eirumkuy, S.S., M.Si
TRIBUNAMBON.COM - Kekayaan wastra Nusantara seolah tidak pernah ada habisnya.
Dari sekian banyak kain tradisional yang memukau, Tenun Kisar asal Pulau Kisar Maluku Barat Daya Maluku, menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian.
Bukan sekadar lembaran kain biasa, Tenun Kisar adalah simbol identitas, adat, dan spiritualitas masyarakat setempat.
Mari kita selami lebih dalam apa yang membuat kain tradisional ini begitu istimewa dan wajib masuk dalam daftar koleksi pencinta fesyen etnik!
Seni menenun di Kisar merupakan tradisi turun-temurun kaum perempuan yang terikat dengan adat istiadat setempat.
Dahulu, kemahiran menenun menjadi syarat kelayakan bagi perempuan untuk menikah, meskipun saat ini fungsinya telah berkembang menjadi salah satu sumber mata pencaharian.
Kain tenun Kisar memiliki keunikan khas pada alat, proses pembuatan, motif, hingga cara penggunaannya.
Berdasarkan bahan dan pembuatannya, kain ini dibedakan menjadi dua jenis:
Lebih dari Sekadar Motif: Setiap Goresan Ada Maknanya Lebih
Bagi masyarakat Kisar, menenun adalah cara merawat warisan leluhur.
Kain ini dibuat menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) tradisional dengan proses yang memakan waktu berminggu-minggu, bahkan bulanan.
Yang paling memikat dari Tenun Kisar adalah ragam motifnya yang sarat akan filosofi hidup.
Segala ungkapan-ungkapan yang ditimbulkan oleh warna dan bentuk-bentuk ragam hias dihubungkan dengan unsur-unsur kepercayaan magis.
Melalui bentuk-bentuk alam nyata, menggambarkan motif flora fauna, dan manusia yang diabstraksikan.
Motif yang digambarkan pada kain tenun merupakan hal yang digemari dan dialami oleh para leluhurnya selama mereka masih hidup.
Pengetahuan tradisional yang berhubungan dengan seni dapat dilihat pada motif atau ragam hias.
Beberapa motif kain Tenun Kisar yaitu
Tenun tradisional Kisar dominan dengan warna-warna gelap seperti merah dan hitam.
Selain bahan pewarna alaminya mudah didapatkan, kedua warna tersebut juga memiliki nilai filosofis dimana merah melambangkan tanah dimana mereka berpijak dan hidup darinya, sedangkan hitam melambangkan penyatuan dengan bumi juga merupakan warna yang melambangkan kewibawaan, kehormatan dan kekuatan.
Proses Pembuatan Tenun
Proses pembuatan kain tenun tradisional Kisar memakan waktu yang lama—sekitar 6 hingga 10 bulan, bahkan setahun—karena perajin perempuan harus membagi waktu dengan pekerjaan rumah tangga dan bertani (sesuai budaya pembagian kerja/gender division labour masyarakat Kisar).
Secara garis besar, proses panjang pembuatan tenun ini meliputi tahapan berikut:
Sehelai kain tenun Kisar adalah potret kehidupan itu sendiri.
Nilai yang terkandung di dalamnya meliputi adat istiadat, kebudayaan, dan kebiasaan (Cultural Habit) yang merefleksikan jati diri masyarakat Kisar yang tangguh.
Lewat ragam hiasnya, kita bisa membaca bagaimana mereka memaknai hubungan manusia, baik secara vertikal kepada Tuhan maupun secara horizontal antar-sesama.
Memiliki atau mengenakan tenun Kisar bukan lagi sekadar tren busana, melainkan sebuah bentuk penghormatan tinggi terhadap mahakarya leluhur Nusantara yang sarat makna. (*)