Menenun Cerita dan Tradisi: Mengenal Keindahan Tenun Kisar
Fandi Wattimena July 31, 2026 06:45 PM

Penulis : Eklevina Eirumkuy, S.S., M.Si

TRIBUNAMBON.COM - Kekayaan wastra Nusantara seolah tidak pernah ada habisnya.

Dari sekian banyak kain tradisional yang memukau, Tenun Kisar asal Pulau Kisar Maluku Barat Daya Maluku, menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian.

Bukan sekadar lembaran kain biasa, Tenun Kisar adalah simbol identitas, adat, dan spiritualitas masyarakat setempat.

Mari kita selami lebih dalam apa yang membuat kain tradisional ini begitu istimewa dan wajib masuk dalam daftar koleksi pencinta fesyen etnik!

Seni menenun di Kisar merupakan tradisi turun-temurun kaum perempuan yang terikat dengan adat istiadat setempat.

Dahulu, kemahiran menenun menjadi syarat kelayakan bagi perempuan untuk menikah, meskipun saat ini fungsinya telah berkembang menjadi salah satu sumber mata pencaharian.

Kain tenun Kisar memiliki keunikan khas pada alat, proses pembuatan, motif, hingga cara penggunaannya.

Berdasarkan bahan dan pembuatannya, kain ini dibedakan menjadi dua jenis:

  • Tenun Adat (Tuhur Lauatau Lau Utanana dalam bahasa Oirata / Hamnonno Auha dalam bahasa Meher): Kain tradisional yang terbuat dari bahan kapas asli.
  • Tenun Biasa: Kain tenun yang menggunakan bahan sintetis dan tidak memiliki motif atau ragam hias khusus.
KAIN TENUN - Seorang pengrajin tengah menenun kain khas Kisar.
KAIN TENUN - Seorang pengrajin tengah menenun kain khas Kisar. (Istimewa/BPKW XX Maluku)

Lebih dari Sekadar Motif: Setiap Goresan Ada Maknanya Lebih

Bagi masyarakat Kisar, menenun adalah cara merawat warisan leluhur.

Kain ini dibuat menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) tradisional dengan proses yang memakan waktu berminggu-minggu, bahkan bulanan.

Yang paling memikat dari Tenun Kisar adalah ragam motifnya yang sarat akan filosofi hidup.

Segala ungkapan-ungkapan yang ditimbulkan oleh warna dan bentuk-bentuk ragam hias dihubungkan dengan unsur-unsur kepercayaan magis.

Melalui bentuk-bentuk alam nyata, menggambarkan motif flora fauna, dan manusia yang diabstraksikan.

Motif yang digambarkan pada kain tenun merupakan hal yang digemari dan dialami oleh para leluhurnya selama mereka masih hidup.

Pengetahuan tradisional yang berhubungan dengan seni dapat dilihat pada motif atau ragam hias.

Beberapa motif kain Tenun Kisar yaitu

  • Motif Buaya (La Oi) melambangkan kekuasaan dan kekuatan
  • Ayam (Asa): lambang pembangun roh agar roh si tuan siap bergerak menuju alam roh setelah kematian.
  • Bunga (Ete ihi) : lambang kesetiaan, harapan, dan keindahan serta kecantikan
  • Kuda: Hewan yang dekat dengan kehidupan masyarakatnya, dimana dahulu kuda merupakan transportasi utama masyarakat Kisar.

Tenun tradisional Kisar dominan dengan warna-warna gelap seperti merah dan hitam.

Selain bahan pewarna alaminya mudah didapatkan, kedua warna tersebut juga memiliki nilai filosofis dimana merah melambangkan tanah dimana mereka berpijak dan hidup darinya, sedangkan hitam melambangkan penyatuan dengan bumi juga merupakan warna yang melambangkan kewibawaan, kehormatan dan kekuatan.

Proses Pembuatan Tenun
Proses pembuatan kain tenun tradisional Kisar memakan waktu yang lama—sekitar 6 hingga 10 bulan, bahkan setahun—karena perajin perempuan harus membagi waktu dengan pekerjaan rumah tangga dan bertani (sesuai budaya pembagian kerja/gender division labour masyarakat Kisar).

 Secara garis besar, proses panjang pembuatan tenun ini meliputi tahapan berikut:

  1. Pengolahan Benang: Kapas dibersihkan dari bijinya menggunakan alat bernama Nasle, dilembutkan dengan Wuhure, lalu dipintal menjadi benang dengan Pokrau. Benang kemudian dipindahkan ke Uluwali untuk dihitung jumlahnya.
  2. Pembuatan Motif & Pengikatan: Benang dikelompokkan dan diikat berdasarkan gambar desain untuk membentuk ragam hias sekaligus melindungi warna saat pencelupan. Dahulu ikatannya menggunakan daun koli dengan kode gulungan khusus, namun kini beralih ke tali rafia karena lebih praktis dan berwarna.
  3. Pewarnaan: Benang yang diikat dicelupkan ke pewarna di dalam periuk tanah, lalu dikeringkan dengan cara digantung pada Ahunore dan diberi pemberat (Wakuwenerek) agar tegang.
  4. Proses Menenun: Benang dipasang pada alat tenun menggunakan komponen yoon, pepehe, akame, dan lelekem untuk mengatur posisi benang secara vertikal. Penenunan dilakukan dengan memasukkan benang secara horizontal (menggunakan howone) ke kiri dan kanan, lalu dipukul berulang kali hingga rapat dan membentuk selembar kain utuh.

Sehelai kain tenun Kisar adalah potret kehidupan itu sendiri.

Nilai yang terkandung di dalamnya meliputi adat istiadat, kebudayaan, dan kebiasaan (Cultural Habit) yang merefleksikan jati diri masyarakat Kisar yang tangguh.

Lewat ragam hiasnya, kita bisa membaca bagaimana mereka memaknai hubungan manusia, baik secara vertikal kepada Tuhan maupun secara horizontal antar-sesama.

Memiliki atau mengenakan tenun Kisar bukan lagi sekadar tren busana, melainkan sebuah bentuk penghormatan tinggi terhadap mahakarya leluhur Nusantara yang sarat makna. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.