TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Momen tahun ajaran baru menjadi waktu bagi anak-anak untuk kembali padat beraktivitas, mulai dari belajar di kelas hingga bermain di lingkungan sekolah.
Namun, di balik antusiasme tersebut, orang tua diminta tetap waspada terhadap ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang dapat menyerang anak kapan saja.
DBD kini bukan lagi penyakit musiman yang hanya muncul di musim hujan, melainkan risiko penularan yang mengintai sepanjang tahun.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan kelompok anak menjadi pihak yang paling rentan. Bahkan pada 2025 lalu, sebanyak 59 persen kasus kematian akibat dengue di Indonesia terjadi pada anak usia 0 hingga 14 tahun.
Dokter sekaligus penceramah kesehatan, dr. Ikhsanuddin Qothi, mengingatkan pentingnya bagi orang tua untuk mengenali gejala DBD pada anak, terutama tanda-tanda yang tidak biasa.
"DBD tidak selalu terlihat jelas sejak awal. Gejalanya bisa menyerupai penyakit lain, sehingga orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi anak," ujar dr. Ikhsan dalam keterangannya di Jakarta.
Secara umum, fase awal DBD ditandai dengan demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, hingga tubuh lemas.
Namun, dr. Ikhsan menekankan agar orang tua tidak terkecoh ketika suhu tubuh anak mulai turun. Pada kasus DBD, fase kritis justru sering kali terjadi saat demam mereda.
Beberapa tanda tak biasa atau bahaya terselubung yang wajib diwaspadai antara lain:
"Jika anak mengalami gejala-gejala tersebut, segera bawa ke fasilitas kesehatan," imbau dr. Ikhsan.
Ia juga menambahkan bahwa anak yang pulih dari DBD kerap mengalami kelelahan berkepanjangan, sehingga mereka belum sepenuhnya siap untuk langsung kembali menjalani aktivitas sekolah secara penuh.
Bagi anak yang pernah terkena DBD, orang tua diimbau tidak lengah. Virus dengue memiliki empat jenis serotipe (DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4).
Mengingat jenisnya yang beragam, anak yang sudah pernah terinfeksi salah satu serotipe masih bisa tertular oleh serotipe lainnya.
"Infeksi berikutnya justru dapat meningkatkan risiko terjadinya dengue berat," kata dr. Ikhsan.
Sebagai bentuk perlindungan tambahan, orang tua dapat memberikan vaksin dengue yang telah direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk anak-anak dan PAPDI untuk dewasa.
Selain itu, kolaborasi pencegahan antara rumah dan sekolah lewat gerakan 3M Plus serta pemberantasan sarang nyamuk secara berkala sangat krusial dilakukan.
Dampak penganiayaan virus dengue ini tidak hanya merenggut kesehatan anak, tetapi juga melumpuhkan aktivitas keluarga.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyoroti bagaimana satu kasus DBD dapat memengaruhi seluruh anggota keluarga.
"Ketika seorang anak terkena DBD, seluruh keluarga ikut terdampak. Semua orang bisa terinfeksi virus dengue, terlepas dari usia, tempat tinggal, maupun gaya hidupnya," tutur Andreas.
Berdasarkan studi dari Universitas Gadjah Mada, estimasi beban ekonomi akibat dengue di Indonesia pada 2024 mencapai hampir Rp9 triliun.
Angka ini mencakup biaya perawatan medis hingga pengeluaran tak terduga keluarga, seperti biaya transportasi, operasional pendampingan, hingga hilangnya pendapatan orang tua karena harus menjaga anak yang sakit.
Sekitar Rp3,5 triliun dari total tersebut ditanggung langsung oleh pasien dan keluarga.