Liputan6.com, Sukabumi - Hampir empat tahun berlalu sejak bencana pergerakan tanah merusak gedung SD Negeri Suradita, Kabupaten Sukabumi. Hingga kini, sebanyak 50 siswa masih harus menuntut ilmu di dalam bangunan darurat beratap terpal dan berdinding anyaman bambu yang lapuk pascabencana pada tahun 2022 lalu.
Kondisi keprihatinan tersebut membuat Raka (10), siswa kelas 6 Sekolah Darurat SDN Suradita, memberanikan diri menyampaikan harapannya kepada Presiden Prabowo Subianto agar membangunkan sekolah yang layak.
"Nggak nyaman, panas sama bising juga. Kalau hujan suka dingin dan airnya nyiprat," kata Raka saat ditemui di Sekolah Darurat SD Negeri Suradita, Jumat (31/7/2026).
Raka mengaku kesulitan berkonsentrasi saat belajar. Dinding tripleks dan anyaman bambu tidak mampu meredam suara, sehingga suasana belajar kerap terganggu oleh kebisingan dari kelas sebelah.
"Pak Presiden, tolong buatkan Raka dan teman-teman sekolah yang bagus, yang nyaman, sama enggak bising," tutur Raka.
Kepala Sekolah SDN Suradita, Yanti Apriani (48), mengonfirmasi bahwa fasilitas tempat anak-anak belajar memang sangat terbatas dan rawan bahaya. Selain ruangan yang sempit, lokasi sekolah darurat ini berada tepat di tepi jurang.
"Khawatir sekali, Pak. Di depan itu kan ada jurang sekitar 4 meteran. Kalau jam istirahat, kita minta bantuan orang tua untuk ikut mengawasi anak-anak," ujar Yanti.
Yanti menjelaskan, bangunan seluas 8x12 meter tersebut disekat menjadi enam ruangan. Karena keterbatasan tempat, ruang perpustakaan bahkan terpaksa menyatu dengan dapur sekolah.
Tak hanya itu, keterbatasan pengajar membuat satu guru harus memegang dua kelas sekaligus.
"Tenaga pendidik tinggal lima orang termasuk saya. Jadi kelasnya diampu secara rangkap, satu guru mengajar dua kelas bergantian," jelas Yanti.
Mengenai perbaikan fasilitas seperti penggantian terpal yang bocor, Yanti mengaku tak bisa mengandalkan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) karena jumlah murid yang terbatas. Anggaran yang ada habis untuk operasional harian dan honor guru.
"Pihak Dinas Pendidikan sebenarnya sudah siap kalau masalah dana bangunan. Yang paling penting sekarang itu lahannya. Begitu kita dapat lahan relokasi, baru bangunan sekolah bisa didirikan," tutup dia.