Rumah Retak Diduga Terdampak Proyek POO, Warga Ciangir Mengadu Langsung ke Pramono dan Andra Soni
Budi Sam Law Malau July 31, 2026 11:35 PM

 

WARTAKOTALIVW.COM, JAKARTA -- Kunjungan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Gubernur Banten Andra Soni ke kawasan Pusat Olah Organik (POO) di Ciangir, Legok, Kabupaten Tangerang, Jumat (31/7/2026), diwarnai keluhan langsung dari seorang warga yang mengaku rumah keluarganya mengalami keretakan dan terdampak debu akibat aktivitas proyek.

Momen itu terjadi ketika kedua gubernur tengah memberikan keterangan kepada wartawan mengenai rencana pengembangan kawasan POO sebagai salah satu pusat ketahanan pangan. Di tengah sesi tersebut, seorang warga bernama Mahroni mengangkat tangan dan meminta izin menyampaikan aspirasinya secara langsung.

"Saya warga lokal Pak. Saya izin bertanya nih ya sama Pak Gubernur, Pak Andra Soni sama Gubernur Pak Pramono," ujar Mahroni.

Di hadapan kedua kepala daerah, Mahroni meminta pemerintah turun langsung meninjau rumah-rumah warga yang berada di sekitar proyek. Menurutnya, selain menimbulkan debu, aktivitas pembangunan juga diduga menyebabkan keretakan pada rumah milik keluarganya.

"Tolong Bapak tinjau lokasi rumah-rumah warga saya dan tetangga saya. Jadi rumah saya itu satu kena debu, kedua retak-retak. Jadi mohon sama tim Bapak ditinjaulah," katanya.

Menanggapi laporan tersebut, Pramono Anung langsung memerintahkan Perumda Dharma Jaya bersama dinas terkait untuk melakukan pengecekan ke lokasi yang dimaksud. Ia juga meminta proses peninjauan dilakukan dengan pendampingan pemerintah daerah setempat agar kondisi di lapangan dapat dinilai secara objektif.

"Saya minta kepada Dharma Jaya maupun dinas terkait untuk mengecek tempatnya Pak Mahroni. Nanti akan, mohon maaf, saya minta didampingi oleh Ibu Wakil Bupati supaya dilihat yang ada," ujar Pramono

Baca juga: Pramono Anung Ungkap Penyebab Proyek SDN Cipete Utara 01 Mangkrak

Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni menegaskan proyek yang dijalankan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di kawasan tersebut memiliki tujuan yang baik, yakni mengoptimalkan lahan yang selama ini belum dimanfaatkan sekaligus mendukung ketahanan pangan.

Meski demikian, ia menekankan manfaat pembangunan harus dapat dirasakan masyarakat sekitar, termasuk dengan memperhatikan setiap dampak yang muncul selama proses pengerjaan.

"Pak Mahroni, insyaallah niat yang dibawa oleh Pemerintah Jakarta ini baik. Banyak lahan di Banten ini yang tidur, yang enggak digunakan, juga ada pemiliknya," kata Andra.

"Saya meyakini, memastikan bahwa manfaat dan dampaknya pasti akan bisa dirasakan oleh masyarakat sekitar," lanjutnya.

Setelah keluhan warga mendapat respons, suasana pertemuan berubah lebih hangat. Pramono sempat melontarkan candaan kepada Mahroni agar tidak terlalu tegang saat berbicara.

"Ngomongnya sambil tersenyum dong," ucap Pramono sambil tersenyum.

Mahroni mengaku gugup karena baru pertama kali menyampaikan aspirasi secara langsung kepada seorang gubernur. Ia menjelaskan rumah yang mengalami keretakan merupakan milik keponakannya yang berada sangat dekat dengan akses jalan proyek.

"Agak deg-degan Pak. Saya kan itu rumah ponakan saya, pas dekat banget ke jalan. Dia mau ngomong enggak berani, mungkin sama Pak RT enggak berani," tuturnya.

Percakapan ditutup dengan komitmen pemerintah untuk menindaklanjuti laporan tersebut melalui peninjauan lapangan. Mahroni pun mengaku lega karena aspirasinya telah didengar langsung oleh kedua gubernur.

"Iya siap Pak, dilihat saja Pak biar enak ya," ujar Mahroni.

Keluhan warga ini menjadi pengingat bahwa setiap proyek pembangunan tidak hanya dituntut memberi manfaat jangka panjang, tetapi juga perlu memperhatikan dampak yang dirasakan masyarakat di sekitar lokasi agar pembangunan berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap warga.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.