Mengurai Senyap Usia Senja: Asa Lansia Pulih Lewat Kebaikan JKN hingga Ruang Kasih Bergaya Eropa
Wahyu Gilang Putranto July 31, 2026 11:38 PM

 

 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Garudea Prabawati

TRIBUNNEWS.COM - Pagi itu, udara di lereng Gunung Merapi masih terasa dingin, embun membasahi dedaunan yang mengelilingi kompleks Taman Lansia Ceria (TLC) Bethesda Yakkum di Jalan Kaliurang Kilometer (Km) 21, Purworejo, Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (18/7/2026).

Di antara gagahnya bangunan-bangunan bergaya Eropa, di sebuah sudut selasar yang tenang, Tamtomo (79) duduk tenang, menikmati udara sejuk di sekitaran. 

Ada senyum ceria yang menyungging dari bibirnya, sebuah pemandangan mahal yang sempat hilang tatkala dirinya masih merasakan sakit-sakit di tubuh beberapa waktu yang lalu.

Bagi orang lain, sekadar duduk nyaman tanpa rasa nyeri mungkin hal biasa. 

Namun bagi Tamtomo, ini adalah kemewahan yang baru bisa ia rasakan kembali setelah melalui perjuangan panjang melawan gangguan saluran kemih hingga meja operasi.

"Dulu sebelum operasi, rasanya serba salah. Mau jalan ke kamar mandi saja seperti perjuangan berat," ujar Tamtomo, kepada Tribunnews.com, di Pakem, Yogyakarta, Sabtu (18/7/2026).

Operasi saluran kandung kemih yang dijalaninya memang berhasil mengangkat penyakit utama, tetapi proses pemulihan (recovery) pada lansia bukanlah perkara mudah. 

Meski operasi berjalan lancar, perjuangan belum selesai.

Pada usia senja, proses pemulihan pascaoperasi membutuhkan perhatian ekstra. 

Penurunan fungsi organ tubuh akibat faktor usia membuat penyembuhan tidak bisa berlangsung instan. 

Baca juga: Bukan Sekadar Camilan Gurih, Ini Deretan Manfaat Kesehatan Telur Asin yang Jarang Diketahui

Risiko infeksi, komplikasi, hingga penurunan kondisi fisik menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan pendampingan tenaga kesehatan secara berkelanjutan.

Di masa itulah, Tamtomo merasakan arti penting hadirnya Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Baginya, perlindungan kesehatan bukan hanya membantu mendapatkan tindakan operasi yang dibutuhkan, tetapi juga memberikan rasa tenang selama menjalani kontrol dan pemulihan.

Kecemasan mengenai besarnya biaya operasi, pemeriksaan lanjutan, hingga pengobatan perlahan sirna. Fokusnya kini hanya satu, memulihkan kesehatan agar dapat kembali menjalani hari-hari dengan nyaman.

Pemulihan Tamtomo juga semakin optimal setelah dirinya menjalani masa perawatan di Taman Lansia Ceria (TLC) Bethesda Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (Yakkum).

“Seneng banget di sini, ono kancane,” ujar Tamtomo, yang berarti dirinya merasa senang juga nyaman tinggal di TLC Bethesda Yakkum, lantaran rasa kebersamaan dengan rekan lansia lainnya. 

Fasilitas senior living tersebut menghadirkan lingkungan yang dirancang khusus untuk mendukung kualitas hidup para lanjut usia. 

Suasana yang sejuk, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, dipadukan dengan pendampingan tenaga kesehatan membuat para penghuni dapat menjalani proses pemulihan secara lebih nyaman.

Setiap hari, Tamtomo kembali belajar menikmati aktivitas sederhana yang sempat sulit dilakukan. 

Berjalan santai di sekitar taman, berbincang dengan penghuni lain, hingga menikmati udara segar lereng Merapi kini menjadi bagian dari rutinitas yang mengembalikan semangat hidupnya.

Bukan hanya Tamtomo, lansia lainnya yakni Andreas Nurdinarhadi (60) juga sepakat bahwa rasa kebersamaan menjadi semangat dan motivasi tersendiri untuk melewati hari-hari di penghujung usia.

Saat ditemui tim Tribunnews, tampak wajahnya sumringah, langkahnya kala itu memang belum sepenuhnya sempurna, tetapi senyum di wajahnya seolah menceritakan perjalanan panjang yang telah ia lalui.

Sulit membayangkan bahwa beberapa waktu lalu ia bahkan tidak mampu berdiri tanpa bantuan.

Stroke akibat penyumbatan pembuluh darah di kepala membuat tubuhnya kehilangan banyak kemampuan. 

ASA PARA LANSIA - Nurdin (60) salah satu lansia di TLC Bethesda Yakkum saat ditemui Tribunnews.com, Kamis (18/7/2026)
ASA PARA LANSIA - Nurdin (60) salah satu lansia di TLC Bethesda Yakkum saat ditemui Tribunnews.com, Kamis (18/7/2026) (Tribunnews.com/(Tribunnews.com/Garudea Prabawati))

Saat pertama kali datang ke TLC Bethesda Yakkum, pria yang karib disapa Nurdin tersebut harus menggunakan kursi roda untuk berpindah tempat. 

Ketika kondisinya mulai membaik, tongkat menjadi teman setianya untuk melangkah.

Sebagian besar aktivitas sehari-harinya masih dilakukan dengan bantuan caregiver. 

Bahkan, untuk sekadar berdiri, ia kerap kehilangan keseimbangan hingga terjatuh.

Kini ia sudah mampu berjalan tanpa bantuan alat.

Meski mengakui proses pemulihannya belum sepenuhnya selesai karena masih menjalani masa penyembuhan stroke, perubahan yang ia rasakan begitu besar.

"Senang sekali, karena di sini saya ada penyembuhan. Seperti menembus limit, batas pemikiran manusia," ujar Andreas kepada Tribunnews, Sabtu (18/7/2026).

Bagi Nurdin, kesembuhan bukan hanya tentang kemampuan kembali berjalan. 

Lebih dari itu, ia merasa menemukan kembali semangat hidup yang sempat hilang setelah sakit.

Pria asal Kampung Juminahan, sebuah kampung tua di bantaran Kali Code, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta itu mengatakan, banyak kebaikan yang ia rasakan selama tinggal di TLC Bethesda Yakkum.

Perhatian para tenaga kesehatan, lingkungan yang tenang, hingga kebersamaan dengan sesama penghuni menjadi bagian penting dari proses pemulihannya.

Hingga pada akhirnya hari-hari di kawasan sejuk kaki Merapi perlahan mengubah semuanya.

Dengan semangat untuk pulih, pendampingan tenaga kesehatan, program jaminan kesehatan, serta lingkungan yang mendukung proses penyembuhan, kondisi Tamtomo serta Nurdin juga para lansia lainnya berangsur membaik.

Faskes 1 Paling Atas di Kaki Gunung Merapi

Keberadaan TLC Bethesda Yakkum memiliki arti lebih luas bagi masyarakat sekitar. 

Selain menjadi rumah singgah dan layanan senior living bagi para lansia, lokasi ini juga berfungsi sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Posisinya yang berada di kawasan paling atas Jalan Kaliurang Km 21 menjadikan fasilitas ini sebagai salah satu akses layanan kesehatan terdekat bagi masyarakat di kawasan kaki Gunung Merapi.

Dengan demikian, baik para lansia hingga warga sekiataran tidak harus selalu menempuh perjalanan jauh menuju pusat kota untuk memperoleh pelayanan kesehatan dasar maupun mengakses manfaat Program JKN.

Kehadiran FKTP di kawasan lereng Merapi menjadi pintu pertama pelayanan kesehatan sekaligus memperluas pemerataan akses layanan bagi masyarakat di wilayah pegunungan.

Koordinator Supporting TLC Bethesda Yakkum, Asri Kusumahati, mengatakan kawasan tersebut memiliki klinik kesehatan bernama DPM dr. Istianto yang berfungsi sebagai FKTP atau faskes 1. 

Klinik itu tidak hanya diperuntukkan bagi para lansia yang tinggal di senior living, tetapi juga terbuka bagi masyarakat sekitar.

“Taman Lansia Ceria Bethesda Yakkum ini adalah klinik kesehatan juga kami dengan nama DPM Dr. Istianto. Ini PPK 1, melayani baik pasien umum maupun pasien BPJS. Jadi masyarakat sekitar Pakem ini, kami paling atas, klinik yang paling atas di Pakemnya,” kata Asri, kepada Tribunnews, Sabtu (18/7/2026).

Menurut dia, keberadaan klinik tersebut membuat masyarakat di sekitar Jalan Kaliurang Km 21 lebih mudah memperoleh layanan kesehatan. 

Selain pasien dari lingkungan sekitar, klinik juga menerima pasien umum, termasuk wisatawan yang mengalami gangguan kesehatan selama berada di kawasan wisata lereng Merapi.

“Kalau pasien umum itu pasien-pasien hotel yang demam ataupun yang misalnya sakit, kita beberapa menerima juga pasien umum. Lalu pasien masyarakat sekitar dengan BPJS Kesehatan kami juga bisa melayani,” ujarnya.

BPJS Kesehatan untuk Lansia yang Tinggal di TLC

TLC BETHESDA YAKKUM - Koordinator TLC Bethesda Yakkum, Asri (42) saat menunjukkan jejak Sanatorium di TLC Bethesda Yakkum, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (18/7/2026).
TLC BETHESDA YAKKUM - Koordinator TLC Bethesda Yakkum, Asri (42) saat menunjukkan jejak Sanatorium di TLC Bethesda Yakkum, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (18/7/2026). (Tribunnews.com/TRIBUNNEWS.COM/GARUDEA PRABAWATI)

Fungsi klinik semakin penting karena TLC juga menjadi tempat tinggal bagi para lansia melalui konsep senior living.

Asri menegaskan, istilah senior living sengaja digunakan untuk mengubah paradigma tentang tempat tinggal lansia. 

Menurut dia, istilah seperti panti jompo kerap melahirkan kesan bahwa orang tua ditinggalkan oleh keluarganya.

“Kenapa kita pakainya senior living, bukan panti jompo atau panti wreda? Karena mindset-nya itu harus kita ubah. Kalau panti jompo, panti wreda seperti itu kesannya orang tua itu ditinggal, tidak dirawat. Justru malah kami dengan senior living ini merebranding lagi bahwa lansia itu layak hidup mandiri, sehat, bermakna walaupun masih di usia tua,” kata Asri.

Konsep tersebut juga menjadi cara TLC untuk membangun persepsi baru di tengah keluarga. Menurut Asri, keputusan anak menitipkan orang tua di senior living tidak semestinya langsung dianggap sebagai bentuk pengabaian.

“Kami mencoba mengubah paradigma dari anak-anak sekarang bahwa menitipkan orang tua itu dosa. Justru senior living ini memfasilitasi bagaimana lansia ini nanti malah justru bisa terawat, yang tadinya lebih tenang menjalani hidupnya, bergaul, bersosialisasi dengan teman sebayanya, tidak kesepian, dan juga pastinya kenyamanan dan keamanannya,” ujarnya.

Konsep itu juga diperkuat dengan lingkungan yang didesain lebih ramah terhadap lansia. Mulai dari kamar mandi, lantai, hingga penggunaan handrail menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang hidup yang lebih aman.

“Rumah itu kan kadang tidak semuanya disetting senior friendly. Mulai dari lantai, kamar mandi, ada handrail dan sebagainya. Sehingga di sini, untuk aktivitas sehari-hari lansia yang tinggal itu lebih aman,” katanya.

TLC menerima lansia untuk kebutuhan short term maupun long term. Ada yang tinggal sementara karena keluarga harus bepergian, rumah sedang direnovasi, atau membutuhkan tempat tinggal sementara. Ada pula yang kemudian memilih menetap dalam waktu panjang.

Dalam dua sampai tiga tahun terakhir, kata Asri, jumlah lansia yang datang dan pergi mencapai sekitar 20 orang, dengan pola tinggal yang beragam. Saat ini terdapat tiga lansia yang tinggal di TLC dan semuanya laki-laki.

Menurut Asri, salah satu keuntungan bagi penghuni senior living adalah kemungkinan memindahkan fasilitas layanan kesehatan mereka ke FKTP yang tersedia di TLC. Dengan demikian, ketika lansia membutuhkan pemeriksaan, mereka tidak harus kembali ke fasilitas kesehatan asal.

“Harus ke PPK 1 asalnya kan ya. Nah ini akhirnya kita pasti tawarkan bagaimana kalau pindah, biar mudah ter-cover semuanya, bisa diawasi juga, karena kami juga yang merawat para lansia di sini,” katanya.

Bagi Asri, keberadaan BPJS Kesehatan sangat membantu, terutama untuk lansia yang membutuhkan pemeliharaan kesehatan secara berkelanjutan. 

Jika diperlukan penanganan lebih lanjut, TLC juga memiliki jalur rujukan ke Rumah Sakit Bethesda karena masih berada dalam satu naungan Yayasan Yakkum.

Bangunan Bersejarah yang Terus Hidup

TLC BETHESDA YAKKUM - Koordinator TLC Bethesda Yakkum, Asri (42) saat menunjukkan prasasti di TLC Bethesda Yakkum, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (18 /7/2026.
TLC BETHESDA YAKKUM - Koordinator TLC Bethesda Yakkum, Asri (42) saat menunjukkan prasasti di TLC Bethesda Yakkum, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (18 /7/2026. (HO/IST/TRIBUNNEWS.COM/GARUDEA PRABAWATI)

Cerita tentang TLC Bethesda YAKKUM tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang bangunan yang ditempatinya.

Kompleks Sanatorium Pakem dibangun sejak Oktober 1935

Kala itu, Rumah Sakit Zending di Solo, Klaten, Yogyakarta, Purworejo, Kebumen, Wonosobo, Purbalingga, hingga Purwokerto mengalami lonjakan pasien tuberkulosis.

Sebagian besar pasien dirujuk ke Wonosobo.

Namun kapasitas rumah sakit di sana tidak lagi mencukupi.

Petronella Hospitaal, yang kini menjadi RS Bethesda Yogyakarta, akhirnya membangun rumah sakit khusus TBC di Pakem.

Sanatorium tersebut kemudian diresmikan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada 23 Juni 1936.

Kompleks seluas 4,8 hektare itu terdiri atas bangunan administrasi, Paviliun A hingga D, ruang isolasi, gereja, rumah dinas dokter, dapur, hingga binatu.

Selama puluhan tahun, tempat ini menjadi pusat penanganan penyakit paru.

Namun setelah antibiotik dan vaksin TBC ditemukan pada dekade 1950-an, fungsi sanatorium perlahan berkurang.

Pada tahun 1967, Sanatorium Pakem resmi dialihfungsikan menjadi Panti Asih Pakem di bawah naungan Yakkum.

Kompleks tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai tempat perawatan, pelatihan, dan pendidikan bagi penyandang tunagrahita.

Menurut Koordinator Supporting TLC Bethesda Yakkum, Asri Kusumahati, perubahan kembali terjadi setelah erupsi Gunung Merapi tahun 2010.

Saat itu banyak keluarga membawa pulang anggota keluarganya yang menjalani rehabilitasi sehingga sebagian bangunan tidak lagi digunakan secara maksimal.

Kondisi tersebut kemudian membuka peluang untuk menghidupkan kembali kawasan bersejarah tersebut.

Pada 2023, kawasan itu resmi memperoleh izin untuk direbranding menjadi Taman Lansia Ceria Bethesda YAKKUM.

Bangunan cagar budaya tetap dipertahankan.

Karakter arsitektur aslinya juga dijaga.

Namun fungsinya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

Peserta JKN di Sleman Capai 98,37 Persen

Diketahui TLC Bethesda Yakkum berada di lingkungan kerja BPJS Kesehatan cabang Sleman.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Sleman, Wahyudi Putra Pujianto, menyebutkan jumlah penduduk Kabupaten Sleman yang telah terdaftar sebagai peserta JKN mencapai 1.113.739 jiwa dari total jumlah penduduk Semester II Tahun 2025 sebanyak 1.135.496 jiwa.

"Berdasarkan data per 30 Juni 2026, jumlah penduduk Kabupaten Sleman yang telah terdaftar menjadi peserta JKN mencapai 1.113.739 jiwa dari total jumlah penduduk Semester II Tahun 2025 sebanyak 1.135.496 jiwa atau sebesar 98,37 persen dan tingkat keaktifan peserta JKN sebesar 89,88 persen. Dengan capaian kepesertaan tersebut, Kabupaten Sleman telah memenuhi kriteria UHC," kata Wahyudi.

Menurut dia, salah satu tantangan terbesar dalam menjaga kepesertaan JKN aktif berada di wilayah utara Kabupaten Sleman, khususnya Kapanewon Pakem, Cangkringan, dan Turi. 

Tantangan itu tidak hanya terkait peningkatan cakupan kepesertaan, tetapi juga bagaimana menjaga kontinuitas kepesertaan tersebut.

Salah satu perhatian utama adalah peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri yang mendaftarkan diri secara mandiri. 

Keberlangsungan status aktif kepesertaan kelompok tersebut sangat dipengaruhi oleh kesadaran dan kemampuan peserta dalam melakukan pembayaran iuran secara rutin. 

Bukan Hanya Reaktivasi, Pencegahan Peserta Nonaktif Diperkuat

BPJS KESEHATAN SLEMAN - Kantor BPJS Kesehatan Sleman di Jl. Magelang No.KM.14, Jetis, Triharjo, Kec. Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Istimewa)
BPJS KESEHATAN SLEMAN - Kantor BPJS Kesehatan Sleman di Jl. Magelang No.KM.14, Jetis, Triharjo, Kec. Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Istimewa) (Tribunnews.com/Istimewa)

Wahyudi mengatakan, ke depan BPJS Kesehatan perlu memperkuat pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada reaktivasi peserta nonaktif, tetapi juga melakukan pencegahan sejak dini.

"Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa Program JKN bukan hanya dimanfaatkan ketika sakit, melainkan merupakan bentuk perlindungan kesehatan sekaligus wujud semangat gotong royong yang keberlangsungannya perlu dijaga melalui pembayaran iuran secara rutin setiap bulan," ujarnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan sinergi antara BPJS Kesehatan, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kalurahan/Desa, Fasilitas Kesehatan, serta tokoh masyarakat dalam melakukan edukasi dan sosialisasi secara berkesinambungan.

Langkah tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk membayar iuran tepat waktu hingga menjadi sebuah kebiasaan.

Sebagai informasi, berdasarkan data terkini, persentase penduduk yang telah terdaftar sebagai peserta JKN di Kapanewon Cangkringan mencapai 99,31 persen dengan tingkat keaktifan 92,07 persen. 

Di Kapanewon Pakem, kepesertaan mencapai 98,64 persen dengan tingkat keaktifan sebesar 89,92 persen. 

Sementara di Kapanewon Turi mencapai 100,24 persen dengan tingkat keaktifan sebesar 94,07 persen.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa wilayah utara Kabupaten Sleman telah memiliki cakupan kepesertaan JKN yang sangat baik. 

Karena itu, upaya selanjutnya perlu difokuskan pada peningkatan dan pemeliharaan keaktifan kepesertaan secara berkelanjutan.

Mobile JKN dan Layanan Tanpa Tatap Muka Jadi Fokus

BPJS Kesehatan Sleman saat ini juga memfokuskan layanan unggulan pada pemanfaatan teknologi dan kanal layanan tanpa tatap muka.

Layanan yang menjadi fokus tersebut meliputi pemanfaatan Aplikasi Mobile JKN, utamanya fitur antrean online dan perubahan data peserta. 

Selain itu, tersedia layanan WhatsApp Pandawa melalui nomor 08118165165, utamanya untuk pengecekan status kepesertaan dan layanan administrasi peserta JKN.

BPJS Kesehatan Sleman juga menyediakan layanan Survey Layanan atau Customer Experience untuk mengukur tingkat kepuasan peserta selama mendapatkan layanan administrasi di Kantor BPJS Kesehatan.

"Sampai dengan Juni 2026, pemanfaatan Aplikasi Mobile JKN dan kanal layanan tanpa tatap muka telah mencapai 623.415 peserta atau sebesar 96,90 persen dari total peserta," kata Wahyudi.

Waktu Tunggu, Dokter dan Obat Terus Dievaluasi

BPJS Kesehatan berkomitmen memastikan peserta JKN memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas di seluruh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang bekerja sama.

Karena itu, evaluasi dilakukan secara berkala melalui pemantauan pemenuhan indikator kepatuhan kerja sama, analisis data utilisasi pelayanan, implementasi Janji Layanan JKN, serta penerapan pelayanan prima di FKTP.

Terkait waktu tunggu pelayanan, BPJS Kesehatan melakukan pemantauan berdasarkan data log antrean yang telah terintegrasi atau bridging antara sistem antrean di FKTP dengan sistem BPJS Kesehatan.

Data tersebut menjadi dasar untuk mengevaluasi ketepatan waktu pelayanan sekaligus mendorong perbaikan proses layanan agar peserta memperoleh pelayanan yang lebih cepat dan efisien.

Untuk ketersediaan dokter, evaluasi telah dilakukan sejak proses kredensialing maupun selama masa kerja sama. 

Pada tahap kredensialing, BPJS Kesehatan memverifikasi pemenuhan jumlah dokter sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan, termasuk kecukupan jam pelayanan.

Selanjutnya, BPJS Kesehatan juga melakukan evaluasi atas kesesuaian jadwal praktik dokter dan tenaga kesehatan dengan pelayanan yang benar-benar diberikan kepada peserta melalui pencocokan data jadwal praktik dengan data pelayanan yang tercatat dalam sistem.

Sementara itu, ketersediaan obat dipantau melalui implementasi Janji Layanan JKN. FKTP berkewajiban menyediakan obat sesuai indikasi medis dan ketentuan yang berlaku serta tidak membebankan peserta untuk mencari atau membeli obat di luar fasilitas kesehatan apabila terjadi kekosongan obat yang menjadi tanggung jawab FKTP.

Tujuh Janji Layanan JKN

Selain aspek operasional tersebut, BPJS Kesehatan juga mendorong peningkatan kepuasan peserta melalui implementasi Janji Layanan JKN yang menjadi komitmen seluruh FKTP mitra.

Janji layanan tersebut mencakup:

  1. Menerima NIK/KTP atau KIS Digital sebagai syarat pendaftaran pelayanan.
  2. Tidak meminta fotokopi dokumen kepada peserta sebagai persyaratan administrasi.
  3. Memberikan pelayanan tanpa biaya tambahan di luar ketentuan.
  4. Melayani peserta yang berada di luar wilayah FKTP terdaftarnya sesuai ketentuan.
  5. Menyediakan obat yang dibutuhkan peserta dan tidak membebankan peserta untuk mencari obat apabila terjadi kekosongan yang menjadi tanggung jawab FKTP.
  6. Menyediakan layanan konsultasi secara daring (online).
  7. Memberikan pelayanan yang ramah, setara, dan tanpa diskriminasi kepada seluruh peserta.

Melalui evaluasi yang dilakukan secara berkesinambungan tersebut, BPJS Kesehatan tidak hanya melakukan pengawasan terhadap kepatuhan FKTP, tetapi juga melakukan pembinaan dan perbaikan bersama mitra fasilitas kesehatan.

Harapannya, mutu pelayanan di FKTP terus meningkat sehingga peserta JKN dapat memperoleh layanan kesehatan yang mudah diakses, cepat, bermutu, dan berorientasi pada kebutuhan peserta.

Fokus Hingga Akhir 2026: Mutu Layanan dan Transformasi Digital

Hingga akhir tahun 2026, BPJS Kesehatan Cabang Sleman berfokus pada peningkatan mutu layanan JKN melalui penguatan kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan, percepatan transformasi digital, serta pemerataan akses layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Sleman.

Upaya tersebut dilakukan melalui sinergi yang erat dengan Pemerintah Kabupaten Sleman, Dinas Kesehatan, asosiasi fasilitas kesehatan, serta seluruh mitra pelayanan kesehatan.

"Dari sisi mutu pelayanan, kami menargetkan peningkatan kepatuhan fasilitas kesehatan terhadap standar pelayanan, Janji Layanan JKN serta pencapaian evaluasi Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK)," ujar Wahyudi.

Evaluasi dilakukan secara berkala melalui indikator kepatuhan kerja sama, pemanfaatan data pelayanan, serta pembinaan berkelanjutan agar peserta memperoleh pelayanan yang semakin cepat, mudah, dan berkualitas.

Dalam mendukung transformasi digital, BPJS Kesehatan Cabang Sleman terus mengoptimalkan pemanfaatan Antrean Online Mobile JKN sehingga peserta dapat memperoleh kepastian jadwal pelayanan dan waktu tunggu yang lebih efisien.

Selain itu, BPJS Kesehatan juga mendorong peningkatan pemanfaatan berbagai fitur Mobile JKN, termasuk layanan konsultasi online di FKTP, sehingga akses peserta terhadap layanan kesehatan menjadi lebih mudah tanpa harus selalu datang langsung ke fasilitas kesehatan.

Perkuat Integrasi Sistem dan Pemerataan Akses

Di sisi fasilitas kesehatan, BPJS Kesehatan terus memperkuat integrasi atau bridging sistem informasi antara fasilitas kesehatan dengan sistem BPJS Kesehatan.

Integrasi ini bertujuan meningkatkan kualitas data pelayanan, mempercepat proses administrasi, mendukung monitoring layanan secara real time, serta menghasilkan data yang lebih akurat sebagai dasar evaluasi dan pengambilan kebijakan.

Untuk memperluas akses pelayanan kesehatan yang merata, BPJS Kesehatan Cabang Sleman bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman terus melakukan pemetaan rujukan berbasis akses dan kebutuhan layanan kesehatan masyarakat.

Pemetaan ini menjadi dasar dalam mengoptimalkan jejaring pelayanan kesehatan, sehingga distribusi peserta ke fasilitas kesehatan lebih seimbang, akses terhadap layanan spesialistik semakin mudah, dan sistem rujukan dapat berjalan lebih efektif sesuai kompetensi dan kapasitas fasilitas kesehatan.

Pada saat yang sama, BPJS Kesehatan juga terus memperkuat implementasi Janji Layanan JKN di seluruh fasilitas kesehatan mitra.

Dengan demikian, peserta diharapkan memperoleh pelayanan 

yang mudah, cepat, setara, tanpa diskriminasi, tanpa biaya tambahan di luar ketentuan, serta mendapatkan obat sesuai indikasi medis tanpa dibebankan mencari obat di luar fasilitas kesehatan apabila terjadi kekosongan yang menjadi tanggung jawab fasilitas kesehatan.

"Melalui berbagai strategi tersebut, BPJS Kesehatan Cabang Sleman berharap kualitas layanan JKN terus meningkat, transformasi digital semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, dan akses pelayanan kesehatan yang berkualitas dapat dinikmati secara lebih merata oleh seluruh peserta JKN di Kabupaten Sleman," pungkas Wahyudi.

Harapan Membersamai

Hingga akhirnya bagi Tamtomo, Nurdin dan para lansia lainnya, perjalanan panjang melawan penyakit akhirnya membawanya pada satu pelajaran sederhana.

Di usia yang tak lagi muda, kesempatan untuk kembali menjalani hari tanpa rasa sakit adalah anugerah yang tak ternilai. 

Dukungan keluarga, lingkungan yang mendukung proses pemulihan, tenaga kesehatan yang terus mendampingi, serta perlindungan Program JKN BPJS Kesehatan menjadi rangkaian yang mengantarkannya kembali menikmati hidup.

Kini di bawah langit biru lereng Merapi, para lansia ini kembali bisa tersenyum, melewati penghujung usia dengan nyaman, aman dan bermartabat, dan menikmati hari-hari di TLC Bethesda Yakkum, sebuah lokasi cagar budaya, dari sanatorium TBC, kemudian menjadi panti disabilitas, hingga kini menjadi pusat kegiatan lansia, kawasan ini menjadi saksi perubahan zaman sekaligus bukti bahwa warisan sejarah dapat terus hidup dan memberi manfaat bagi generasi berikutnya.

Di kawasan yang dulu menjadi tempat orang-orang berjuang melawan penyakit menular itu, kini para lansia kembali belajar menjalani hidup dengan lebih sehat, lebih aman, dan tetap memiliki ruang untuk tertawa bersama.

Di kaki Gunung Merapi, bangunan tua itu membuktikan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar selesai, Ia hanya berganti cara untuk terus melayani kehidupan.

(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.