Infantino menghadapi ancaman terbesar untuk mempertahankan kursi presiden FIFA
Dewi Rahayu August 01, 2026 03:06 AM

Gianni Infantino tengah menghadapi tantangan paling serius terhadap kepemimpinannya di FIFA selama satu dekade, menurut Sky News.

Koalisi asosiasi sepak bola yang terus membesar kini bersatu menentang rencananya untuk menjual sebagian saham dalam kompetisi komersial badan pengatur tersebut kepada investor swasta.

Sikap itu muncul setelah pertemuan darurat dan meningkatnya secara dramatis perselisihan mengenai usulan FIFA Forward Enterprise (FFE) dari FIFA.

FFE adalah perusahaan baru yang akan mengawasi kompetisi-kompetisi milik organisasi tersebut.

CONCACAF, yang mewakili Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia, juga secara terbuka menolak proposal itu setelah menggelar pembahasan daruratnya sendiri.

Meski konfederasi itu belum sampai mendukung boikot, mereka menyampaikan kekhawatiran mengenai cepatnya proses berjalan, minimnya konsultasi, serta pertanyaan-pertanyaan seputar tata kelola.

Dengan setidaknya 90 dari 211 asosiasi anggota FIFA kini secara terbuka berada di pihak yang menentang rencana tersebut, kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino mulai memudar.

Di kalangan sepak bola, spekulasi kian menguat bahwa kontroversi ini dapat menjadi krisis penentu dalam masa kepresidenan Infantino.

Inti dari proposal itu adalah rencana FIFA membentuk kendaraan komersial senilai $20 miliar, dengan seperlima sahamnya ditawarkan kepada investor eksternal.

FIFA berpendapat langkah itu akan membuka investasi baru dan mempercepat perkembangan sepak bola di seluruh dunia.

Namun, para pengkritik menegaskan bahwa Piala Dunia adalah institusi olahraga global yang tidak seharusnya berubah menjadi aset privat.

Gelombang penolakan ini menempatkan Infantino pada momen yang sangat menentukan. Sepanjang masa jabatannya, ia telah memperluas turnamen, memusatkan kekuasaan, dan mengejar proyek-proyek komersial yang ambisius.

Para pendukung memuji dorongannya untuk meningkatkan pendapatan, tetapi para penentang menilai ia telah membawa FIFA terlalu jauh dan terlalu cepat. Kali ini, ia mungkin telah melangkah terlalu berisiko.

Kuatnya perlawanan menunjukkan banyak tokoh berpengaruh tradisional dalam sepak bola meyakini proposal terbaru ini telah melewati batas.

Keberatan mereka bukan semata-mata soal investasi swasta, melainkan tentang siapa yang pada akhirnya mengendalikan kompetisi paling bergengsi dalam permainan ini.

Sorotan khusus juga tertuju pada keterlibatan yang dilaporkan dari firma investasi milik Joshua Kushner sebagai investor utama yang diusulkan.

Meski tidak ada bukti adanya pelanggaran, kesan politik dari hubungan berprofil tinggi seperti itu tak terelakkan telah menarik perhatian terhadap proses pengambilan keputusan di FIFA.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.