5 Cara Mencegah Gangguan Kesehatan Akibat Cuaca Panas Ekstrem, Jangan Tunggu Haus 
Adi Suhendi August 01, 2026 05:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Cuaca panas ekstrem tidak hanya membuat tubuh mudah berkeringat, tetapi juga dapat memicu gangguan kesehatan serius apabila masyarakat tidak melakukan langkah pencegahan.

Mulai dari dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga heat stroke bisa terjadi ketika tubuh tidak mampu lagi mengatur suhu secara normal.

Epidemiolog sekaligus Peneliti Global Health Security, Dicky Budiman, mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu tubuh menunjukkan tanda-tanda dehidrasi sebelum mulai melindungi diri dari paparan suhu tinggi.

Menurutnya, ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat cuaca panas.

1. Jangan Menunggu Haus Baru Minum

Kebiasaan minum hanya ketika merasa haus sebaiknya dihindari saat cuaca sedang panas.

Dicky menjelaskan rasa haus justru menjadi tanda bahwa tubuh sudah mulai kekurangan cairan.

Baca juga: Purworejo Jateng Rekor Terpanjang 80 Hari Tanpa Hujan, BMKG Minta Masyarakat Waspada Puncak Kemarau

Karena itu, masyarakat dianjurkan minum air putih secara berkala sepanjang hari, meski belum merasa haus.

"Nah apa yang harus dilakukan oleh publik atau masyarakat, ya tentu dalam kondisi panas minum itu harus rutin, minum sebelum haus. Karena haus sudah tanda terlambat, jadi minum airnya harus secara rutin, ya berkala sepanjang hari," ujarnya pada Tribunnews, Jumat (31/07/2026).

2. Hindari Aktivitas Berat pada Jam Terik Matahari

Aktivitas fisik berat, terutama di luar ruangan, sebaiknya dibatasi ketika suhu sedang sangat tinggi.

Menurut Dicky, waktu paling berisiko berada di bawah terik matahari adalah sekitar pukul 10.00 hingga 16.00 karena radiasi matahari berada pada tingkat tertinggi.

Bila aktivitas di luar ruangan tidak bisa dihindari, masyarakat disarankan mengurangi durasi paparan panas dan mencari tempat berteduh secara berkala.

3. Gunakan Pakaian Tipis dan Pelindung Matahari

Pilihan pakaian juga berperan membantu tubuh menghadapi cuaca panas.

Dicky menyarankan masyarakat mengenakan pakaian yang tipis, longgar, dan berwarna terang agar panas lebih mudah dilepaskan dari tubuh.

Baca juga: Warga Pangandaran Dihantui Kenaikan Harga Sembako karena Kemarau, Beras di Pasar Berasal dari Luar

Selain itu, penggunaan topi, payung, maupun kacamata juga dianjurkan untuk mengurangi paparan sinar matahari secara langsung.

4. Pekerja Lapangan Perlu Mengatur Waktu Istirahat

Bagi pekerja yang harus berada di luar ruangan, seperti petani, buruh bangunan, petugas kebersihan, hingga polisi lalu lintas, waktu istirahat menjadi bagian penting dalam mencegah heat stroke.

Menurut Dicky, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini juga merekomendasikan penerapan siklus kerja dan istirahat yang disesuaikan dengan tingkat panas lingkungan.

Dengan demikian, tubuh memiliki waktu untuk menurunkan suhu dan mengganti cairan yang hilang akibat berkeringat.

5. Jangan Pernah Tinggalkan Anak di Dalam Mobil

Salah satu peringatan yang juga disampaikan Dicky adalah jangan pernah meninggalkan anak sendirian di dalam kendaraan.

Menurutnya, suhu di dalam mobil dapat meningkat sangat cepat hanya dalam hitungan menit, meskipun kendaraan sempat dinyalakan.

Kondisi tersebut dapat memicu heat stroke yang mengancam keselamatan anak.

"Kemudian, nah ini untuk orang tua, jangan sekali-kali tinggalkan anak di kendaraan meskipun dinyalakan. Apalagi tidak ada penyelenggaraan. Karena suhu mobil itu bisa meningkat sangat cepat dalam hitungan menit dan memicu heat stroke," tegasnya.

Dicky mengingatkan, cuaca panas ekstrem kini menjadi ancaman kesehatan yang semakin nyata.

Oleh karena itu, langkah-langkah pencegahan sederhana seperti mencukupi kebutuhan cairan, menghindari paparan matahari berlebihan.

Serta melindungi kelompok rentan menjadi kunci untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan yang lebih serius.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.