Pedagang di Selorejo Blitar Terdampak Kebijakan Larangan Mobil Lewat Jalan Bendungan Lahor
Rendy Nicko August 01, 2026 04:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, BLITAR - Pedagang di sekitar kawasan Bendungan Lahor yang berada di wilayah Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, terdampak dengan penerapan kebijakan larangan kendaraan roda empat lewat di Bendungan Lahor. 

Para pedagang khawatir usahanya akan mati setelah ada larangan kendaraan roda empat lewat jalan puncak Bendungan Lahor. 

Seorang pedagang, Susan mengatakan, saat ini, kondisi usahanya sudah mulai sepi. 

Ia khawatir, usahanya semakin sepi setelah ada larangan mobil lewat jalan puncak Bendungan Lahor. 

Baca juga: Jalan Bendungan Lahor Ditutup untuk Mobil, Kepadatan di Jalan Nasional Blitar-Malang Meningkat 

"Akhir-akhir ini ekonomi sulit, jualan sepi. Kalau mobil tidak boleh lewat jalan bendungan, kami khawatir jualan tambah sepi," kata Susan yang mulai berjualan di sekitar Bendungan Lahor sejak 2017 itu, Sabtu (1/8/2026). 

Pemilik toko rokok dan kopi ini menjelaskan, pasca terjadi pandemi Covid-19, omzet tokonya terus menurun. 

Apalagi, setelah ada larangan mobil lewat jalan puncak Bendungan Lahor, usahanya terancam gulung tikar. 

Ia berharap, jalan puncak Bendungan Lahor bisa dilewati kembali oleh kendaraan roda empat maupun lebih. 

"Jalan ini menjadi jalur alternatif Malang-Blitar. Biasanya, banyak orang mampir istirahat beli kopi dan rokok di warung. Kalau mobil tidak boleh lewat, pelanggan kami jelas turun," ujarnya. 

Hal sama diungkapkan, Sumarni, pedagang ikan segara di sekitar Bendungan Lahor yang masuk wilayah Desa Ngreco, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar. 

Ia juga khawatir usahanya akan sepi setelah ada larangan mobil lewat jalan puncak Bendungan Lahor.

"Usaha kami jelas terdampak dengan kebijakan itu. Kami berharap jalan bendungan bisa dilewati mobil kembali," katanya. 

Camat Selorejo, Agung Nugroho mengatakan, mayoritas warga kecewa dengan kebijakan larangan mobil lewat jalan puncak Bendungan Lahor. 

Sebab, sebelumnya, dari PJT sudah sosialisasi dan meminta saran maupun masukan kepada warga. 

Warga memberikan masukan, kalau bisa jalan puncak Bendungan Lahor tetap dibuka dulu untuk akses mobil sambil menunggu jalan alternatif yang nantinya dipersiapkan oleh PJT. 

"Karena kebijakan ini berdampak terhadap sosial ekonomi warga di sekitar bendungan," katanya. 

Baca juga: Petugas Gabungan Lakukan Penyekatan Mobil di Jalan Puncak Bendungan Lahor dari Arah Blitar

Menurutnya, ada warga di empat desa di Kecamatan Selorejo, yaitu, Desa Ngreco, Desa Boro, Desa Olak-alen, dan Desa Selorejo, yang sudah bertahun-tahun mereka mengandalkan matapencaharian di sekitar Bendungan Lahor. 

Para warga itu membuka usaha rumah makan, toko, dan hotel di sekitar kawasan Bendungan Lahor.

"Ada lebih 100 pelaku usaha dari empat desa di Kecamatan Selorejo yang menggantungkan usahanya di kawasan Bendungan Lahor. Mereka berharap, jalan bendungan bisa dibuka untuk mobil," ujarnya. 

(Samsul Hadi/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.